POJOKSATU.id – Angka Rp 23,6 triliun mungkin terdengar seperti barisan nol tanpa makna bagi sebagian orang.
Tapi ketika dana sebesar itu dikucurkan hanya untuk satu maskapai Garuda Indonesia wajar bila banyak yang mengernyit.
Di tengah kondisi fiskal negara yang masih berhitung pasca-pandemi.
Baca Juga: Capsule Wardrobe: Trik Bangun Gaya Timeless dengan 10 Item Pakaian Ini!
Suntikan modal jumbo dari PT Danantara Asset Management (Persero) ini memantik tanya besar
Apakah Garuda benar-benar butuh segitu banyak uang untuk bisa kembali “terbang tinggi”?
Modal Jumbo, Pertanyaan Lebih Jumbo
Garuda Indonesia memang baru saja mendapat napas panjang.
Melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD)
Danantara resmi menyuntikkan modal sebesar Rp 23,67 triliun.
Baca Juga: Emotional Reset: Cara Mengembalikan Energi Positif Setelah Hari yang Berat
Dari jumlah itu, sekitar Rp 17,02 triliun berasal dari setoran tunai, sedangkan Rp 6,65 triliun dikonversi dari utang pemegang saham.
Angka yang fantastis bahkan jika dibandingkan dengan penyertaan modal negara ke sejumlah BUMN besar lain tahun ini.
Yang menarik, dana sebesar itu tidak seluruhnya masuk ke kas Garuda.
Berdasarkan laporan publik, sekitar 37 persen atau Rp 8,7 triliun dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja dan pemeliharaan armada di induk perusahaan.
Sementara 63 persen sisanya, sekitar Rp 14,9 triliun.
Baca Juga: Capsule Wardrobe: Trik Bangun Gaya Timeless dengan 10 Item Pakaian Ini!
Justru dialirkan ke anak usahanya, Citilink Indonesia, untuk tambahan modal dan pelunasan utang bahan bakar yang menumpuk sejak 2019.
Publik pun bertanya-tanya, mengapa sebagian besar dana justru ditujukan ke Citilink?
Apakah beban operasional anak usaha ini begitu berat hingga harus diselamatkan lebih dulu, bahkan melebihi induknya sendiri?.
Baca Juga: No Make Up Make Up Look: Cara Tampil Segar Tanpa Terlihat Berlebihan
Ketika Bantuan Jadi Tanda Tanya
Suntikan modal ini memang disebut-sebut sebagai bagian dari upaya “transformasi dan pemulihan”
Garuda Indonesia setelah bertahun-tahun bergelut dengan utang dan efisiensi operasional.
Namun faktanya, Garuda masih mencatatkan ekuitas negatif dan rasio kewajiban terhadap modal yang sangat tinggi sebelum suntikan ini masuk.
Bahkan, rencana awal yang sempat mencapai US$ 1,8 miliar (sekitar Rp 30 triliun) akhirnya direvisi menjadi US$ 1,4 miliar (Rp 23,6 triliun) karena berbagai penyesuaian.
Perubahan mendadak ini justru memunculkan keheranan baru apakah proyeksi awal terlalu optimistis, ataukah sumber dananya memang tak sebesar yang dibayangkan?
Di sisi lain, Danantara sebagai penyuntik modal tak sekadar lembaga investasi biasa.
Ia berada di bawah pengawasan negara, dengan mandat untuk mengelola aset strategis.
Artinya, uang yang digelontorkan bukan berasal dari ruang kosongsetiap rupiahnya membawa beban akuntabilitas publik.
Separuh dari PMN Nasional untuk Satu Maskapai?
Untuk menempatkan angka ini dalam konteks, pemerintah tahun depan berencana menyalurkan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 44,24 triliun untuk 16 BUMN.
Itu berarti, suntikan ke Garuda lewat Danantara setara dengan lebih dari separuh total PMN nasional.
Baca Juga: Duplik Kasus ASDP, Pembela Nilai Dakwaan Tidak Berdasarkan Fakta Persidangan
Pertanyaan pun muncul mengapa prioritas sebesar itu diberikan ke satu perusahaan penerbangan.
Bukan ke infrastruktur atau sektor energi yang menyentuh lebih banyak masyarakat?
Setelah Dana Masuk, Apa yang Berubah?
Kini sorotan publik beralih ke satu hal transparansi dan hasil nyata.
Baca Juga: No Make Up Make Up Look: Cara Tampil Segar Tanpa Terlihat Berlebihan
Bagaimana Garuda mengelola Rp 8,7 triliun untuk perawatan armadanya?
Apakah Citilink benar-benar akan bangkit setelah pelunasan utang bahan bakar senilai Rp 14,9 triliun?.
Kementerian BUMN memastikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang.
Namun bagi masyarakat, yang terlihat baru satu hal angka besar yang seolah melayang ke langit tanpa penjelasan yang cukup rinci di bumi.
Garuda memang maskapai kebanggaan nasional.
Baca Juga: Capsule Wardrobe: Trik Bangun Gaya Timeless dengan 10 Item Pakaian Ini!
Tapi di era keterbukaan data, setiap rupiah publik pantas ditanya arahnya.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kemampuan Garuda untuk terbang tinggi, tapi juga kepercayaan rakyat pada bagaimana negara mengelola uang mereka.***




