POJOKSATU.id - Konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) makin memanas.

Gelombang saling pecat antara Rais Aam dan Ketua Umum membuat publik bertanya

Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Dalam obrolan panjang di podcast Terus Terang, Mahfud MD bicara dengan lugas bongkat semuanya.

Baca Juga: Yalal Batubara

Ia tidak hanya menjelaskan dinamika organisasi, tetapi juga membongkar akar masalah yang selama ini jarang disebut lantang yaitu tambang.

Pernyataan Mahfud cukup mencengangkan. Dengan tenang, namun tegas.

Ia menyebut bahwa kisruh NU saat ini tidak bisa dilepaskan dari urusan ekonomi besar yang melibatkan kepentingan tambang.

Baca Juga: Pencairan TPG Kali Ini Super Ribet! SKTP Sudah Terbit, Dana Tak Kunjung Cair!

Itu sebabnya, percekcokan struktural yang terlihat di permukaan seperti tafsir AD/ART atau kewenangan pemecatan menurut Mahfud hanyalah “kulit luar”.

“Ini nggak bisa dibantah bahwa ini asal muasalnya soal tambang,” ujarnya blak-blakan dalam podcast

Kata-kata itu langsung menambah bobot pada perdebatan yang sebelumnya hanya bergerak di ruang spekulasi publik.

Baca Juga: Pencairan TPG Kali Ini Super Ribet! SKTP Sudah Terbit, Dana Tak Kunjung Cair!

 

NU yang Berubah, Dari Taat Ulama Menjadi Rebutan Proyek

Mahfud kemudian mengungkapkan kerisauannya melihat NU yang, menurutnya, telah menjauh dari nilai dasar organisasi.

Ia membandingkan NU masa sekarang dengan NU era para kiai besar yang menjadi panutan moral.

Baca Juga: REKRUTMEN PPPK Badan Gizi Nasional 2025 RESMI DIBUKA, Disiapkan 32 Ribu Formasi, Ini Syarat dan Jadwal Lengkapnya!

“NU yang taat pada ulama, tidak rebutan proyek Dulu nggak ada itu urusan ngurus perusahaan, ngurus tambang,” katanya.

Pernyataan ini menyoroti pergeseran kultur yang dirasakan Mahfud.

Jika dulu NU berdiri sebagai kekuatan moral dan sosial, kini sebagian elite dianggap terlibat dalam kepentingan yang bersifat ekonomis. Tambang menjadi simbol dari pergeseran itu.

Baca Juga: Viral! Evakuasi Banjir di Sumut Diduga Mendadak Disetop Karena Kunjungan Pejabat, Netizen Langsung Geram Sebut Bantuin Enggak Malah Menghambat!

Mahfud menggambarkan bahwa semakin besar kekuasaan yang dipertaruhkan, semakin besar pula potensi retaknya kesatuan.

Itulah yang menurutnya kini terjadi dalam tubuh PBNU.

 

Saling Pecat Dampak Nyata Konflik Elit

Baca Juga: Yalal Batubara

Ketegangan antara Rais Aam dan Ketua Umum sudah sampai pada titik saling pecat. Mahfud tidak menutupi keprihatinannya melihat kondisi tersebut.

“Sekarang kan sudah saling pecat Ini berarti dua-duanya ngotot merasa sama-sama berhak.” ucapnya

Dampaknya lebih besar dari yang terlihat. Tidak hanya menciptakan kebingungan di tingkat pusat, tetapi juga melumpuhkan struktur organisasi di daerah.

Baca Juga: Viral! Evakuasi Banjir di Sumut Diduga Mendadak Disetop Karena Kunjungan Pejabat, Netizen Langsung Geram Sebut Bantuin Enggak Malah Menghambat!

Menurut Mahfud, banyak SK wilayah dan cabang menjadi tertahan karena tidak jelas siapa yang sah menandatangani.

“Kasihan di bawah itu nggak bisa bergerak lebih dari 100 SK belum turun,” ucapnya.

Situasi ini membuat kegiatan organisasi di tingkat akar rumput terganggu, mulai dari administrasi, program sosial, hingga koordinasi rutin dengan pemerintah daerah.

Baca Juga: Yalal Batubara

 

Hilangnya Wibawa Ulama, Suara Kiai Tak Lagi Didengar

Mahfud juga menyebut bahwa perubahan kultur di NU telah mencapai titik di mana suara ulama tak lagi menjadi kompas moral organisasi.

“Kalau dulu Kiai Asad ngomong udah diam Sekarang ini ngomong malah yang ngomong yang diantem balik,” katanya. 

Baca Juga: REKRUTMEN PPPK Badan Gizi Nasional 2025 RESMI DIBUKA, Disiapkan 32 Ribu Formasi, Ini Syarat dan Jadwal Lengkapnya!

Kritik ini menegaskan bahwa persoalan dukungan terhadap tambang bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal hilangnya orientasi moral di lingkungan elite organisasi.

Dari keseluruhan pernyataan Mahfud, satu pesan besar muncul konflik NU hari ini tidak bisa disederhanakan menjadi soal administratif atau perselisihan personal.

Ada persoalan struktural yang lebih dalam, yang bersentuhan langsung dengan ekonomi tambang dan perubahan karakter organisasi.

Baca Juga: Yalal Batubara

Jika NU ingin kembali menjadi rumah besar yang teduh dan dihormati, kata Mahfud, maka jalan keluar bukan hanya menyelesaikan perselisihan struktural.

Tetapi juga mengembalikan jati diri NU sebagai organisasi yang taat ulama, bukan taat proyek.***