POJOKSATU.ID - “Kolor saya saja diambil.” Kalimat sederhana itu keluar dari mulut Ahmad Sahroni dengan nada pasrah.

Tapi publik langsung bereaksi ada yang tertawa, ada yang nyinyir, ada pula yang diam sambil bergumam, “wah, separah itu ya?”.

Ya, inilah kisah paling aneh sekaligus paling manusiawi dari seorang pejabat publik yang biasanya tampil necis dan gagah di Senayan.

Baca Juga: Ajang Tangsel Open 2025 Hadirkan 1.200 Pelajar Bertalenta di Cabang Renang

Kini bicara tentanng kolor dan sikat gigi yang ikut dijarah.

Dari Plafon ke WC Malam Gelap di Tanjung Priok

Malam itu, rumah mewah Ahmad Sahroni di kawasan Tanjung Priok diserbu massa.

Baca Juga: Masih Banyak Truk Tambang Bandel, Satlantas Serang Gencar Lakukan Penyekatan

Dalam video yang kini viral, Sahroni mengaku sempat panik dan bersembunyi di plafon sebelum akhirnya jatuh dan berlindung di kamar mandi.

“Saya naik ke plafon, tapi jebol. Akhirnya ngumpet di kamar mandi. Tujuh jam saya di dalam sana. Kalau waktu itu saya meninggal, gak apa-apa,”

katanya saat pertama kali muncul di depan publik.

Baca Juga: CPNS 2026 Fokus Formasi Digital dan Kesehatan, Pemerintah Terapkan Sistem Zero Growth ASN

Kata-kata itu menggambarkan betapa mencekamnya malam tersebut.

Tapi publik justru menyorot bagian lain dari pengakuannya yang entah kenapa terasa lebih membumi.

“Semua dijarah. Sampai kolor saya aja diambil. Sikat gigi pun habis,” ujarnya sambil tersenyum getir.

Dari Tragis Jadi Meme Publik Tertawa

Beberapa jam setelah video itu viral, media sosial penuh dengan potongan klip “kolor saya diambil”.

Baca Juga: DLH Pandeglang Siap Tambah Tong Sampah di Jalan Protokol, Antisipasi pertambahan Sampah Akhir Tahun

Ada yang menjadikannya meme, ada yang membuat remix TikTok, bahkan ada yang mengubahnya jadi sound lucu di Reels.

Fenomena ini bukan hal baru. Di tengah tragedi, publik Indonesia seringkali merespons.

Dengan humor sebuah cara untuk menertawakan kesedihan, agar tak terasa terlalu berat.

Baca Juga: Lagi, Pebalap Binaan Astra Honda Melesat Kencang di Barcelona Ciptakan Sejarah untuk Indonesia

Namun di sisi lain, reaksi ini memperlihatkan jurang yang nyata betapa publik sudah.

kehilangan empati terhadap pejabat, bahkan ketika pejabat itu benar-benar jadi korban.

“Saya gak cari simpati. Saya cuma cerita apa yang saya alami,” kata Sahroni dalam video.

Baca Juga: SMK KAL 2 Surabaya Sediakan Jurusan Teknika Kapal Niaga, Cetak Generasi Unggul dan Kompeten

“Saya tidak korupsi, tapi semua orang membenci saya.”

Kolor Sebagai Simbol

Kalimat “kolor saya diambil” bisa jadi kiasan sederhana tentang kehilangan privasi, rasa aman, dan harga diri.

Baca Juga: PPAT Awards 2025, Wujud Kolaborasi Solid Antara Kantor Pertanahan dan PPAT

Sahroni mungkin pejabat kaya raya, tapi malam itu, ia sama saja seperti siapa pun ketakutan, kehilangan, dan tak punya daya.

“Saya bersyukur masih bisa hidup. Hidup ini bukan cuma soal harta,” ujarnya saat menggelar syukuran bersama warga sekitar rumahnya.

Di balik semua kritik dan tawa, ada narasi yang lebih dalam pejabat pun bisa kalah di hadapan situasi yang tak bisa dikontrol.

Netizen masih ga percaya

Baca Juga: HINDARI! 7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Keriput Sebelum Waktunya

Di sisi lain, narasi ini juga membuka luka sosial yang lebih besar publik kini begitu skeptis terhadap pejabat.

Kata-kata Sahroni, betapapun jujur, langsung disambut dengan cibiran “Ah, pura-pura korban,” atau “Settingan biar dapet simpati.”

Fenomena ini menunjukkan krisis kepercayaan yang akut  di mana kejujuran seorang pejabat tak lagi dipercaya, bahkan saat ia benar-benar menderita.

Baca Juga: PPAT Awards 2025, Wujud Kolaborasi Solid Antara Kantor Pertanahan dan PPAT

“Saya tahu gak semua percaya. Tapi saya gak masalah. Saya cuma ingin hidup tenang dan berguna,” ucapnya pelan.

Dari Kolor ke Kesadaran

Kini, setelah rumahnya diperbaiki dan situasi mereda, Sahroni memilih untuk tidak marah.

Ia malah membuka diri, bercerita, dan menggelar syukuran sederhana bersama warga.

 “Saya belajar banyak. Tuhan ambil semua supaya saya sadar, kalau yang paling penting itu bukan harta, tapi hati,” ujarnya.

Baca Juga: Onad Ajukan Surat Rehabilitasi ke BNN, Hasil Assesment Menunggu dari BNNP

Barangkali benar, kadang manusia harus kehilangan sampai hal paling sepele  seperti sehelai kolor untuk menyadari makna syukur yang sesungguhnya.***