POJOKSATU.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh level Rp17.600 sempat memicu kekhawatiran publik.
Namun Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh berbeda dibanding krisis moneter 1998.
Misbakhun menegaskan hingga saat ini belum ada laporan mengenai bank maupun perusahaan yang mengalami gagal bayar atau default akibat tekanan nilai tukar rupiah.
“Sekarang rupiah Rp17.600 belum ada perbankan atau swasta yang mengumumkan ada kegagalan bayar, menghadapi tekanan, iya,” kata Misbakhun dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di JEC Bantul, Yogyakarta.
Menurutnya, banyak masyarakat yang langsung mengaitkan pelemahan rupiah dengan situasi krisis 1998.
Padahal, struktur ekonomi Indonesia saat ini disebut jauh lebih kuat dibanding masa tersebut.
Baca Juga: Piala Juara Persib Dipajang di Balai Kota Bandung, ASN Rela Antre Foto sejak Pagi
Ia menjelaskan bahwa pada krisis moneter 1998 terjadi economic bubble atau gelembung ekonomi akibat overheating di berbagai sektor.
Saat itu banyak perusahaan dan perbankan melakukan pinjaman dalam mata uang asing tanpa perlindungan nilai tukar atau hedging.
Akibatnya, ketika rupiah anjlok tajam terhadap dolar AS, banyak pihak langsung kolaps dan gagal membayar utang.
“Maka ketika rupiah mengalami tekanan yang naik mereka kemudian mengalami gagal bayar alias default,” ujar Misbakhun.
Baca Juga: Serangan Siber NFC di Android Naik 188 Persen, Saldo E-Money dan Rekening Terancam Dikuras
Meski begitu, ia mengakui situasi saat ini tetap memberikan tekanan pada sejumlah sektor tertentu.
Namun menurutnya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid.
Misbakhun menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif di tengah tekanan global.
Bahkan Indonesia masih masuk jajaran negara G20 dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.
Baca Juga: Program Uji Emisi Gratis Pertamina Diminati Warga, 3.500 Kendaraan Ikut Pemeriksaan
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga dinilai masih sehat karena mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut.
“Artinya apa? Secara fundamental ekonomi kita sangat kuat. Pada saat itu 98 kita mengalami pertumbuhan minus 13 persen. Inflasi jangan ditanya. Tetapi kita sekarang menghadapi situasi ekonomi yang tumbuh,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pengaruh media sosial yang dinilai memperbesar kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi nasional.
Baca Juga: Dandim Karawang Bareng Dirjen Pas Panen Raya Padi M70D di Lapas
Menurutnya, sentimen di media sosial sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan realitas ekonomi sebenarnya.
“Kita berhadapan kepada sebuah situasi antara fundamental versus sentimen, realitas melawan media sosial,” katanya.
Pernyataan Misbakhun ini sekaligus menjadi penegasan bahwa pelemahan rupiah saat ini belum menunjukkan tanda-tanda krisis seperti yang pernah terjadi pada akhir 1990-an.
Meski begitu, pemerintah dan pelaku ekonomi tetap diminta waspada terhadap tekanan global yang masih bisa memengaruhi stabilitas nilai tukar dan sektor keuangan nasional.
Baca Juga: MacBook Neo Jadi Buruan Anak Muda, Desain Colorful dan Harga Rp10 Jutaan Bikin Kepincut
Gejolak nilai tukar memang selalu membuat masyarakat cemas, apalagi bayang-bayang krisis 1998 masih membekas di ingatan banyak orang.
Namun di tengah derasnya sentimen dan kekhawatiran di media sosial, kondisi ekonomi hari ini menunjukkan Indonesia memiliki fondasi yang jauh lebih siap menghadapi tekanan global.***




