POJOKSATU.id, JAKARTA—Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tak khawatir Indonesia akan menuju kondisi krisis ekonomi (krismon) 1997-1998 meski Rupiah saat ini ambruk di level Rp18.036 per Dolar AS.

Menurutnya, Indonesia saat ini tidak sedang menuju krisis ekonomi, keuangan, dan moneter seperti yang terjadi pada periode 1997 sampai 1998.

“Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-98 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus,” kata Menkeu dalam kunjungan kerja di Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Baca Juga: Jubir Kemlu Iran Kritik Presiden Joseph Aoun, Selamatkan Lebanon dari Musuh Sejati Anda

Menurutnya, sentimen negatiflah yang menyebabkan Rupiah anjlok.

“Hanya ada sentimen negatif di sana-sini yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar,” ujarnya.

Menurutnya, terpuruknya rupiah bisa diatasi dengan kebijaka kombinasi antara pemerintah, Kemenkeu dan Bank Sentral atau BI.

Tekanan itu dinilai masih bisa diperbaiki melalui sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. Sinkronisasi bisa dilakukan pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia (BI).

“Tapi itu harusnya bisa diperbaiki dengan kombinasi yang lebih baik antara pemerintah, Kementerian Keuangan dengan Bank Sentral,” ujarnya.

Baca Juga: Pemerintah Ngutang Lagi Rp 386 Triliun, Menkeu Purbaya Tak Risau, Rupiah Anjlok Rp18.034

Diketahui, Rupiah sempat menembus level Rp 18.036 per Dollar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Sementara pada perdagangan Sabtu (6/6), nilai Dolar terhadap Rupiah sudah di level Rp18.095.

Namun Purbaya menilai kondisi saat ini berbeda dengan krisis 1997 sampai 1998.

Langkah Pemerintah

Menurut dia, kondisi fiskal Indonesia masih baik dan aktivitas ekonomi tetap berjalan positif.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik.

Langkah itu diharapkan dapat mendorong kembali masuknya aliran modal asing atau inflow ke pasar keuangan Indonesia. Pemerintah juga akan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.

Pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di BI akan menjadi salah satu instrumennya. Purbaya juga menyinggung peningkatan remunerasi yang dibayarkan BI kepada pemerintah.

Menurut dia, sinkronisasi kebijakan tersebut dapat membantu menurunkan biaya produksi bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.

“Kita akan pastikan terjadi dalam beberapa waktu ke depan,” ucap Menkeu.

Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto masih cukup kuat untuk memastikan strategi pembangunan berjalan.

“Yang saya bisa katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonominya bagus, kepemimpinan Bapak Presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan Bapak Presiden,” ungkapnya.***