POJOKSATU.ID – Banjir besar yang melanda Kota Medan pada akhir November 2025 meninggalkan kerusakan luas di sejumlah wilayah, termasuk kawasan pusat kota yang selama ini dianggap aman dari genangan.

Salah satu sorotan publik adalah terendamnya rumah dinas Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, serta rumah dinas Kapolda Sumut dan Pangdam I/BB.

Kejadian ini memicu perhatian karena menunjukkan betapa parahnya dampak banjir kali ini.

Baca Juga: SKTP 2026 Semakin Dekat Guru Diminta Merampungkan Dapodik Sebelum Akhir Januari

Kawasan Jalan Sudirman, tempat rumah dinas Gubernur Bobby Nasution berada, menjadi salah satu titik paling terdampak.

"Kami turun langsung untuk mengecek debit air, membantu kelancaran arus lalu lintas, dan memastikan seluruh personel bergerak cepat membantu warga. Polda Sumut bersama TNI dan pemerintah daerah bekerja maksimal agar situasi segera pulih,” ujar Irjen Whisnu dikutip pojoksatu.id dari (kompas.com)

Air dengan cepat mengalir masuk ke pekarangan hingga mencapai ketinggian lutut orang dewasa.

Sejumlah kendaraan yang terparkir di dalam kompleks pun ikut terendam.

Baca Juga: Benarkah Gaji Pensiunan PNS, TNI, Polri Diangka Rp1,748 Juta? Ini Klarifikasi Resmi Taspen

Warga sekitar menyebut luapan air datang tiba-tiba usai hujan deras mengguyur sejak malam sebelumnya.

Tak hanya rumah dinas gubernur, genangan besar juga menyasar rumah dinas Kapolda Sumut serta kompleks Pangdam I/BB di Medan.

Foto dan video yang beredar memperlihatkan halaman rumah dinas pejabat tersebut berubah menjadi kolam air cokelat yang meluas ke jalan utama.

Baca Juga: PENTING! Tegas Kepala BPSDM! PPPK Paruh Waktu SAH Sebagai ASN Resmi! Stop Perdebatan, Jangan Terjebak Istilah!

Kondisi ini jarang terjadi dan membuat banjir kali ini menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan laporan lapangan, banjir dipicu oleh luapan Sungai Babura, disusul melubernya sungai lain seperti Sungai Deli dan Sungai Belawan.

Tingginya intensitas hujan selama beberapa hari membuat debit air sungai meningkat drastis, sementara sistem drainase perkotaan tidak mampu menahan aliran yang besar.

Baca Juga: BRI Raih Dua Penghargaan Internasional, Tegaskan Komitmen pada Keberlanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat

Akibatnya, genangan menyebar ke berbagai titik strategis yang biasanya tidak terdampak banjir.

Situasi ini sekaligus menimbulkan alarm keras mengenai kerentanan tata kota Medan dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Jika rumah dinas pejabat tinggi pemerintahan saja dapat terendam banjir, masyarakat pun mempertanyakan bagaimana nasib warga yang tinggal di permukiman padat dan daerah rendah yang minim saluran air.

Baca Juga: UMY Peringkat 1 Nasional di QS Sustainability 2026, Kunci Suksesnya Ada pada Riset Solutif

Gubernur Sumut Bobby Nasution langsung menginstruksikan langkah darurat, mulai dari membuka akses jalan yang terputus, menggerakkan tim evakuasi, hingga menyiapkan posko sementara bagi warga terdampak.

Meski rumah dinasnya ikut terendam, Bobby menegaskan bahwa penanganan untuk masyarakat menjadi fokus utama pemerintah daerah.

“Meskipun rumah dinas kami dan beberapa fasilitas pejabat lain ikut terdampak banjir, namun fokus utama kami adalah memastikan masyarakat dalam keadaan aman," ujar Whisnu. 

Baca Juga: Ini 4 Prasyarat Kenaikan TPP ASN 2026 Untuk Pemda, Dari Kemendagri Yang Tak Boleh Diabaikan

"Keselamatan warga adalah prioritas kami, dan seluruh jajaran sudah kami kerahkan untuk memberikan bantuan seoptimal mungkin,” tambahnya.

Di sisi lain, banjir besar yang juga merendam infrastruktur penting seperti kantor pemerintahan, sekolah, dan fasilitas umum membuat aktivitas kota lumpuh.

Sejumlah ruas jalan ditutup karena tingginya genangan, sementara ribuan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan.

Peristiwa ini dinilai harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh terhadap sistem mitigasi banjir di Sumatera Utara.

Evaluasi drainase, normalisasi sungai, serta pembangunan ruang resapan air disebut sebagai prioritas yang tidak bisa ditunda lagi.

Baca Juga: Harapan PPPK Jadi PNS Kandas! DPR Tegaskan Tak Ada Jalur Otomatis Tanpa Seleksi

Banjir yang menenggelamkan rumah dinas pejabat tinggi menjadi bukti bahwa bencana hidrometeorologi dapat menimpa siapa pun tanpa pandang status.

Pemerintah kini diharapkan mengambil langkah yang lebih serius untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali melumpuhkan Kota Medan.***