POJOKSATU.id, JAKARTA – Pengamat politik Rocky Gerung merasa heran ketika Jokowi menyatakan sikap mendukung Ridwan Kamil (RK) -Suswono di Pilkada Jakarta.
Menurut Rocky, Jokowi berbeda situasinya dengan mantan Presiden SBY dan Megawati Soekarnoputri.
Sebab kedua mantan RI 1 itu memiliki parpol sementara Jokowi tak memiliki parpol.
Rocky Gerung menilai turunnya Jokowi mendukung Ridwan Kamil-Suswono di Pilkada Jakarta dan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen di Pilkada Jawa Tengah, cukup mengherankan.
Menurut Rocky, Jokowi bukanlah pemimpin partai politik yang memberi usungan pada calon-calon gubernur tersebut.
Baca Juga: Babak I Indonesia Unggul Atas Arab Saudi, Gol Marselino Ferdinan
"Yang harus kita pahami adalah buat apa sebetulnya seorang yang baru saja meninggalkan gelanggang politik sebagai presiden eh masuk lagi ke wilayah yang sebetulnya sudah tidak lagi diperlukan, karena dia sudah masuk dalam tahap menjadi begawan, tapi kenapa mesti turun gunung," kata Rocky di program FNN, Youtube Rocky Gerung Official, Selasa (19/11/2024).
"Lain misalnya sudah cukup lama, lalu presiden ingin membantu partai politiknya. Kan Presiden Jokowi tidak punya partai politik," katanya lagi.
Menurut Rocky, Jokowi berbeda dengan SBY dan Megawati. Sebab Jokowi hingga hari ini belum memiliki partai politik dan bukan ketua umum partai politik.
Menurutnya, SBY berkampanye karena jabatan dia sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat. Sementara Megawati juga memiliki kepentingan yang sama karena menjabat Ketua Umum PDIP.
"Kalau SBY jelas itu masih cawe-cawe, tapi SBY punya alasan karena dia adalah pembina atau pendiri Partai Demokrat. Dia ingin memastikan Demokrat mendapat dukungan rakyat," katanya.
"Bu Mega punya partai jadi dia berkampanye untuk calon dari partainya," ujarnya.
"Kalau Pak Jokowi buat siapa?," tanya Rocky Gerung.
"Jadi itu masalahnya soal ketidakjelasan posisi presiden di dalam kampanye di Jakarta," kata Rocky Gerung lagi.
Sebelumnya, Jokowi bertemu dengan Ridwan Kamil di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2024).
Baca Juga: Angin Segar untuk PPG Kemenag, Menag Temui Mendikdasmen Bahas Percepatan Pelaksanaan
Jokowi terang-terangan mengutarakan dukungannya untuk RK-Suswono di Pilkada Jakarta 2024.
“Kenapa saya Ridwan Kamil? Karena rekam jejak. Saya ulangi, kenapa saya Ridwan Kamil? Karena rekam jejak,” katanya.
Diketahui, Ketua DPP PDIP, Ganjar Pranowo mendorong pemberhentian terhadap kader-kader yang sudah lagi tak sejalan dengan partainya.
Pemberhentian ini, kata Ganjar, untuk siapa saja, termasuk Joko Widodo (Jokowi) yang dianggap telah melenceng dan berseberangan dengan PDIP menjelang akhir kepemimpinannya sebagai kepala negara.
Dalam sebuah acara diskusi di UGM, Senin (26/8/2024), Ganjar menyebut antara PDIP dan Jokowi saat ini berstatus pisah ranjang karena belum ada surat resmi pemberhentian kepada yang bersangkutan sebagai kader partai berlambang banteng itu.***




