POJOKSATU.ID- Kemunculan robot polisi dalam gladi resik Hari Bhayangkara ke-79 di Monas Jakarta menuai beragam reaksi dari masyarakat.
Tak sedikit netizen yang mencibir kehadiran robot-robot canggih tersebut, dengan komentar pedas.
Sebagaimana tanggapan berikut: "malah jadi anak-anak main robot-robotan" dan "masa kecil kurang bahagia masih main robot remot".
Bahkan ada yang menyindir dengan pertanyaan tajam, "mudah-mudahan robotnya gak pungli".
Kritik keras datang bertubi-tubi di media sosial. Di Facebook akun Hasan M.M berkomentar sinis, "Sekarang jamannya AI bukan remot. Terus itu fungsinya apa selain buat mainan bapak-bapak?"
Sementara Raynaldy Samad menambahkan, "Masa kecil kurang bahagia masih main robot remot. Harusnya kalau ingin modern harus yang pakai sistem AI yang dikontrol lewat komputer bukan remot."
Polri Buka Suara Soal Fungsi Sesungguhnya
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Kadiv Humas Polri Irjen Sandi Nugroho memberikan klarifikasi komprehensif.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap demo robot saat gladi Hari Bhayangkara benar-benar melampaui ekspektasi, namun Polri memahami betul keingintahuan masyarakat tentang fungsi sesungguhnya robot-robot tersebut.
"Kami tentu pahami betul masyarakat bertanya-tanya untuk apa robot-robot ini?" ujar Sandi kepada wartawan. Hal ini sebagaimana dilansir dari situs resmi TB News Polres Trenggalek.
Dia menegaskan bahwa kehadiran robot bukan sekadar pamer teknologi, melainkan gambaran nyata modernisasi Polri yang mengikuti perkembangan zaman.
Baca Juga: VIRAL! Bocah Jatuh Dari Jendela Bus di Tol Kebon Jeruk–Ulujami, Langsung DIbopong Pengguna Jalan
Sandi menjelaskan bahwa kepolisian di negara-negara maju sudah mulai menggunakan robot dalam operasional mereka.
Bahkan beberapa negara di kawasan ASEAN telah bersiap menggunakan robot untuk memaksimalkan kinerja kepolisian.
Thailand sudah memperkenalkan robot humanoidnya, Dubai telah mendeklarasikan pemanfaatan robot untuk membantu tugas kepolisian, dan China bahkan sudah uji coba robot polisi untuk patroli.
Bukan Mainan, Ini Fungsi Strategis Robot Polri
Berbeda dengan anggapan sebagian netizen yang menilai robot tersebut hanya mainan, Polri menjelaskan fungsi strategis masing-masing jenis robot.
Robot humanoid, misalnya, dirancang khusus untuk teknologi pemindaian wajah dan pemantauan pelanggaran lalu lintas secara elektronik.
Baca Juga: Tak Ada Lagi Sekolah Unggulan, Ini Penentu Lolos Jalur Domisili SPMB Jakarta 2025 untuk SMA
Robot ini memiliki keunggulan bergerak bebas dengan pandangan 360 derajat, membuatnya lebih efektif untuk pengawasan.
Untuk robot K9 atau i-K9, fungsinya sama dengan anjing pelacak konvensional yaitu mendeteksi bahan-bahan dan benda-benda berbahaya.
Namun robot ini memiliki keunggulan signifikan karena tidak perlu diberi makan setiap hari, tidak memerlukan proses latihan dengan tenaga pawang, dan tahan cuaca ekstrem.
Robot i-K9 bahkan mampu bertahan selama 8 jam dalam cuaca ekstrem dan terintegrasi dengan AI behavior analysis.
Selain itu, robot-robot ini diharapkan dapat berfungsi untuk pengawasan dan pemantauan di lokasi berbahaya seperti gedung terbengkalai atau area bencana.
Mereka juga dirancang untuk penanganan situasi berbahaya termasuk penjinakan bahan peledak dan penyanderaan, serta pencarian dan penyelamatan korban dalam bencana alam maupun kebakaran.
Baca Juga: Alih Teknologi Pengolahan Sampah di Bantragebang Tidak Boleh Ditunda
Investasi Masa Depan, Bukan Pemborosan
Menjawab tudingan pemborosan anggaran rakyat, Polri menegaskan bahwa pengembangan robot ini merupakan investasi jangka panjang.
Dalam rencana strategis Polri tahun 2025 hingga 2045, kehadiran robot-robot tersebut telah dibahas secara matang.
Bahkan untuk anggaran tahun 2026, Polri telah memasukkan pengadaan robot K9 dalam perencanaan anggaran.
Sementara itu, Irwasum Polri Komjen Dedi Prasetyo menyatakan robot tersebut akan menunjang kinerja Polri di masa depan.
"Robot-robot ini di masa depan akan menjadi mitra strategis personel Polri. Mereka dirancang untuk mengambil peran di lokasi berisiko tinggi guna mengurangi paparan bahaya terhadap manusia, sekaligus meningkatkan akurasi operasi," jelasnya.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa tahun 2030 'wajah' kepolisian di sejumlah negara akan diwarnai kehadiran robot-robot yang dinilai efektif untuk tugas kepolisian.
Baca Juga: Dinilai Buruk, Honorer Asli K2 Tergeser, Bodong Lolos PPPK Tahun 2024
Singapura bahkan mengembangkan kecoak cyborg untuk kegiatan search and rescue (SAR), menunjukkan tren global penggunaan teknologi robotik dalam penegakan hukum.
Kolaborasi dengan Anak Bangsa
Satu hal juga yang patut dibanggakan, Polri tidak serta-merta mengimpor teknologi dari luar negeri.
Sebagai mitra dalam mengembangkan robot, Polri menggandeng PT Sari Teknologi, perusahaan anak bangsa yang bergerak di bidang IT.
Direktur Utama PT Sari Teknologi Yohanes Kurnia Widjaja menegaskan bahwa robot-robot dihadirkan sesuai tantangan tugas Polri.
"Kami membangun teknologi ini dengan menyesuaikan kebutuhan unik Polri," kata Yohanes sebagaimana dilansir dari Antara News.
Dia menjelaskan bahwa untuk robot humanoid masih terus dipelajari dan dikembangkan sesuai kebutuhan kepolisian di masa depan.
Perusahaan ini masih memerlukan ribuan jam uji coba dan penyempurnaan algoritma sebelum mencapai tingkat operasional penuh.
Pelibatan perusahaan dalam negeri ini sejalan dengan penguatan SDM, sains, dan teknologi yang termaktub dalam Asta Cita Presiden.
Hal ini juga merupakan wujud pemberdayaan dan dukungan terhadap generasi muda yang berkecimpung di bidang teknologi robotik dan AI.
Tahap Pengembangan Awal yang Penuh Potensi
Mengakui bahwa teknologi robotika ini masih dalam tahap pengembangan awal, Polri berkomitmen untuk terus belajar dari praktik terbaik negara-negara maju.
"Kami mengakui bahwa teknologi ini masih dalam tahap pengembangan awal dan akan terus belajar dari praktik terbaik negara-negara maju," sambung Dedi Prasetyo dalam keterangan tertulisnya.
Modernisasi Polri disebutnya sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan dukungan seluruh rakyat Indonesia.
Polri berkomitmen menjalani proses ini dengan transparansi, termasuk belajar dari mitra internasional dan melaporkan perkembangan riset secara berkala.
Baca Juga: Hari Bhayangkara ke-79: Kapolrestabes dan Pemkot Bandung Kompak Jaga Kota Tetap Aman
"Teknologi ini hadir untuk memperkuat nilai kemanusiaan dalam pelayanan kepolisian," pungkas Dedi.
Dia menekankan bahwa robot-robot tersebut bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan untuk mengoptimalkan tugas-tugas kepolisian dalam rangka pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, pelayanan publik, serta penegakan hukum yang lebih presisi, humanis, transparan, dan akuntabel.
Visi 2030: Kepolisian Modern Berbasis Teknologi
Meski saat ini masih menuai kontroversi, visi Polri untuk tahun 2030 cukup ambisius. Kepolisian Indonesia diproyeksikan akan memiliki sistem yang terintegrasi dengan teknologi robotik dan AI untuk berbagai keperluan operasional.
Hal ini bukan lagi wacana, mengingat negara-negara tetangga seperti Thailand dan Singapura sudah lebih dulu mengimplementasikan teknologi serupa.
Hal terpenting bahwa pengembangan teknologi ini dilakukan dengan melibatkan anak bangsa, bukan sekadar mengimpor teknologi jadi.
Baca Juga: PNS dan PPPK Penting untuk Setara, Wali Kota: Tim Kerja Harus Profesional
Pendekatan ini tidak hanya menghemat anggaran dalam jangka panjang, tetapi juga membangun kemandirian teknologi Indonesia di bidang keamanan dan pertahanan.
Kritik dan cibiran netizen memang wajar dalam era keterbukaan informasi seperti sekarang.
Namun dengan penjelasan yang komprehensif dari Polri, diharapkan masyarakat dapat memahami bahwa robot polisi bukan sekadar mainan atau ajang pamer teknologi, melainkan investasi strategis untuk masa depan keamanan Indonesia yang lebih baik.***



