POJOKSATU.ID - Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tengah mematangkan program Ekspedisi Masjid Indonesia 2026.
Inisiatif ini akan menyulap sebanyak 6.859 masjid di berbagai penjuru tanah air menjadi tempat singgah gratis guna mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran.
Program kemanusiaan ini dijadwalkan beroperasi selama dua pekan, tepatnya mulai tujuh hari sebelum (H-7) hingga tujuh hari sesudah (H+7) Idulfitri.
Masjid-masjid yang berada di jalur utama mudik akan disiagakan selama 24 jam sebagai tempat transit bagi masyarakat yang menempuh perjalanan jauh.
Baca Juga: Ribuan Masjid Siap Jadi Rest Area Gratis bagi Pemudik Pada Mudik 2026
Sinergi Antar Kementerian demi Keselamatan
Langkah ini dibahas secara mendalam dalam pertemuan antara Menteri Agama dan Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, pada Senin (23/2/2026).
Kerja sama ini bertujuan menyelaraskan data agar fasilitas masjid di lapangan sejalan dengan kebutuhan 143 juta pemudik yang diprediksi akan bergerak tahun ini.
Pihak Kemenag juga telah menginstruksikan koordinasi internal dari tingkat pusat hingga Kantor Urusan Agama (KUA) di tiap kecamatan untuk memastikan kesiapan fasilitas pendukung, seperti:
Baca Juga: Begini Respon KPK Terhadap Aksi Menag Nasaruddin Umar Terkait Penggunaan Pesawat Saat Kunker
1. Ruang istirahat dan area parkir gratis yang aman.
2. Sanitasi bersih, air wudhu, dan ruang laktasi.
3. Penyediaan air minum serta fasilitas pengisian daya ponsel.
4. Sajian takjil dan minuman hangat pada malam hari untuk memulihkan stamina pengemudi.
Menekan Risiko Kecelakaan di Jalur Utama
Fungsi masjid dalam program ini melampaui tempat ibadah, yakni sebagai instrumen keselamatan publik.
Dengan tingginya penggunaan kendaraan pribadi di jalur Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatra, kelelahan menjadi ancaman nyata yang dapat memicu kecelakaan fatal.
Oleh karena itu, pemerintah mendorong pemudik untuk tidak memaksakan diri dan memanfaatkan masjid yang telah diberi tanda khusus di jalur utama sebagai tempat beristirahat sejenak demi menjaga nyawa.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Sambangi KPK Terkait Penggunaan Pesawat Khusus!
Semangat pelayanan ini juga bersifat inklusif dengan melibatkan rumah ibadah lain, seperti gereja di wilayah Sumatra Utara dan Indonesia Timur.
Hal ini mencerminkan komitmen bahwa rumah ibadah harus menjadi ruang terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang agama.***




