POJOKSATU.id — Aktivitas gempa masih terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Flores, setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.

Fenomena tersebut secara ilmiah berkaitan dengan posisi Flores yang berada di kawasan tektonik aktif.

Gempa utama juga memicu perubahan tegangan pada kerak bumi sehingga wilayah di sekitar sumber gempa masih mengalami proses penyesuaian.

Baca Juga: Bolehkah Pemerintah Meminta Donasi kepada Masyarakat? Simak Aturan Hukumnya

Lantas, mengapa gempa susulan masih terus terjadi dan mengapa sebagian di antaranya masih terasa cukup kuat?

Gempa M7,7 Flores berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust, yakni sistem sesar naik yang berada di wilayah utara Flores.

Menurut BMKG, gempa utama tersebut terjadi pada kedalaman sekitar 15 kilometer dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault.

Baca Juga: Malaysia Tutup 591 Sekolah akibat Kabut Asap Karhutla, Bagaimana Kondisi Sekolah di Kalimantan?

Ketika sesar mengalami pergeseran dalam gempa besar, kondisi tegangan di kerak bumi di sekitarnya ikut berubah.

Energi yang sebelumnya tersimpan pada batuan tidak serta-merta membuat seluruh sistem menjadi stabil setelah gempa utama berakhir.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi segmen sesar di sekitar sumber gempa.

Bagian kerak bumi yang mengalami perubahan tegangan kemudian dapat melakukan penyesuaian melalui pergeseran kecil yang menghasilkan gempa susulan.

Baca Juga: Apa Saja Faktor Pertumbuhan Ekonomi? Ini 10 Hal yang Mendorong Ekonomi Negara

Gempa susulan dapat dipahami sebagai bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah terjadinya gempa utama.

Ketika satu bagian sesar bergerak secara tiba-tiba, distribusi tegangan di sekitarnya ikut berubah.

Kondisi ini dikenal dalam geologi sebagai redistribusi tegangan atau stress redistribution.

Proses tersebut tidak selalu berlangsung dalam hitungan jam atau beberapa hari.

Baca Juga: Lima Strategi Prabowo Atasi Karhutla Kalimantan, Tambah Pasukan hingga Perbanyak Water Bombing

Penyesuaian dapat terus terjadi selama beberapa waktu setelah gempa utama.

Karena itu, kemunculan gempa susulan tidak berarti setiap gempa merupakan peristiwa yang sepenuhnya baru dan tidak berkaitan dengan gempa utama.

Sebagian besar merupakan respons kerak bumi terhadap perubahan yang terjadi setelah gempa besar.

Gempa utama dengan magnitudo besar dapat memengaruhi wilayah sesar yang cukup luas sehingga menghasilkan rangkaian aktivitas gempa susulan.

Baca Juga: Mensesneg Bantah Haji Isam Jadi Pimpinan Pemadaman Karhutla di Kalimantan

BMKG mencatat hingga 22 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB terdapat 5.089 aktivitas gempa susulan setelah gempa M7,7 Flores.

Gempa susulan terbesar dalam rangkaian tersebut mencapai magnitudo 6,2.

Meski jumlahnya mencapai ribuan, tidak semua gempa tersebut dapat dirasakan masyarakat.

Sebagian besar memiliki magnitudo kecil dan hanya dapat terdeteksi oleh instrumen pencatat gempa.

Baca Juga: Warga Desa Kebiranga Terdampak Gempa NTT Dapat Layanan Kesehatan Relawan GAN, Pijat Cimande Diminati

Aktivitas susulan juga tidak langsung berhenti setelah beberapa hari.

BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan pascagempa M7,7 Flores masih berpotensi berlangsung hingga sekitar empat minggu.

Gempa susulan memang umumnya memiliki magnitudo lebih kecil dibandingkan gempa utama.

Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh gempa susulan pasti sangat lemah.

Baca Juga: Pemerintah Kerahkan 1.500 Prajurit TNI Beserta Pemadam Perorangan untuk Padamkan Karhutla

Dalam rangkaian gempa Flores, sejumlah gempa susulan memiliki magnitudo lebih dari 5.

Kondisi tersebut membuat sebagian gempa masih dapat dirasakan masyarakat, terutama di wilayah yang relatif dekat dengan sumber gempa.

BMKG sebelumnya juga mencatat sejumlah gempa susulan, termasuk gempa dengan magnitudo sekitar 5 hingga 6 dalam rangkaian pascagempa utama.

Dengan demikian, munculnya gempa susulan yang cukup terasa beberapa hari setelah gempa M7,7 masih dapat terjadi dalam satu rangkaian aktivitas gempa.

Baca Juga: Festival Padasuka V Meriah Tanpa APBD, DPRD Kota Bandung Singgung Anggaran Rp600 Juta

Salah satu hal yang sering menimbulkan kekhawatiran adalah ketika setelah beberapa hari relatif tenang, tiba-tiba muncul gempa susulan yang terasa lebih kuat.

Secara statistik, jumlah gempa susulan memang cenderung berkurang seiring berjalannya waktu.

Namun, penurunannya tidak berlangsung secara mulus setiap saat.

Artinya, masih mungkin terjadi gempa susulan yang cukup kuat di tengah rangkaian gempa-gempa kecil.

Baca Juga: BRI Luncurkan BRImo Taiwan, Permudah Akses Keuangan Diaspora Indonesia

Pola aktivitasnya dapat berupa banyak gempa kecil, kemudian aktivitas sempat menurun, lalu muncul gempa dengan magnitudo lebih besar sebelum kembali diikuti gempa-gempa yang lebih kecil.

Karena itu, satu gempa yang terasa kuat tidak otomatis menunjukkan bahwa aktivitas gempa sedang semakin membesar secara keseluruhan.

Para ahli perlu melihat pola aktivitas secara keseluruhan untuk menilainya

Flores berada di kawasan dengan kondisi tektonik yang kompleks.

Baca Juga: Baby Udon Tawarkan Perspektif Laki-Laki tentang Perjuangan Rumah Tangga

Wilayah Nusa Tenggara dipengaruhi interaksi lempeng tektonik serta keberadaan sejumlah struktur sesar aktif.

Salah satu struktur penting di kawasan tersebut adalah Flores Back-Arc Thrust yang berada di utara Pulau Flores.

Kondisi tektonik tersebut membuat Flores dan wilayah NTT memiliki potensi aktivitas kegempaan yang cukup tinggi.

Oleh sebab itu, terjadinya rangkaian gempa setelah gempa besar bukan merupakan fenomena yang aneh secara geologi.

Fenomena tersebut merupakan bagian dari respons sistem kerak bumi terhadap pelepasan energi dan perubahan tegangan di sekitar zona sumber gempa.

Baca Juga: Tokoh Jawa Barat Dorong Ahmad Heryawan Masuk Kabinet, Rekomendasi Diserahkan di Senayan

Kesimpulannya, gempa susulan yang masih mengguncang NTT merupakan bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah gempa utama M7,7 Flores.

Gempa besar menyebabkan perubahan distribusi tegangan pada batuan dan sesar di sekitarnya.

Kondisi tersebut kemudian dapat memicu pergeseran-pergeseran kecil yang menghasilkan gempa susulan.

Aktivitas gempa susulan pada umumnya akan berkurang seiring waktu, tetapi kapan tepatnya rangkaian tersebut benar-benar berhenti tidak dapat dipastikan secara akurat.

Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai prediksi waktu terjadinya gempa yang tidak memiliki dasar ilmiah.***