POJOKSATU.id - Rebo Wekasan dikenal sebagai momentum yang berkaitan dengan Rabu terakhir pada bulan Safar.
Tradisi ini telah lama hidup di tengah masyarakat Muslim Nusantara dan diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan.
Di tengah adanya perbedaan pandangan mengenai sejumlah praktik Rebo Wekasan, umat Islam tetap dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Hal yang perlu diperhatikan adalah niatnya. Berbagai ibadah tersebut dilakukan sebagai bentuk taqarrub atau upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt., bukan karena menganggap hari Rabu terakhir bulan Safar memiliki kekuatan tertentu untuk mendatangkan kesialan.
Dalam ajaran Islam, hari, bulan, maupun waktu tidak memiliki kemampuan memberikan manfaat atau mudarat dengan sendirinya.
Baca Juga: Rangkuman Silabus OSN IPS SMP 2026 Lengkap, Ini Materi yang Harus Dipelajari Peserta
Karena itu, momentum Rebo Wekasan lebih tepat dimanfaatkan untuk memperkuat doa, ibadah, dan introspeksi diri.
Memahami Rebo Wekasan dengan Bijak
Tradisi Rebo Wekasan berkembang dalam khazanah Islam Nusantara melalui praktik yang dilakukan sebagian ulama dan orang-orang saleh.
Namun, umat Islam perlu membedakan antara menjalankan suatu amalan sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan meyakini waktu tertentu memiliki kekuatan khusus di luar kehendak-Nya.
Rasulullah Saw bersabda: لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ Artinya: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa sial, tidak ada kesialan pada bulan Safar, dan larilah kamu dari penderita kusta sebagaimana engkau lari dari singa." (HR. al-Bukhari).
Baca Juga: Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9 dan 10? Pemerintah Siapkan Sistem Subsidi Tepat Sasaran
Penjelasan mengenai larangan menganggap hari tertentu sebagai pembawa kesialan juga diterangkan Imam Abdurrauf al-Munawi dalam Faidh al-Qadir.
Beliau menjelaskan bahwa yang tidak dibenarkan adalah menghindari hari Rabu karena meyakininya sebagai hari sial sebagaimana keyakinan ahli nujum dan peramal.
Sementara itu, melakukan amal saleh pada hari tersebut tetap diperbolehkan selama tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Imam Abdurrauf al-Munawi menjelaskan: وَالْحَاصِلُ أَنَّ تَوَقِّيَ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ عَلَى جِهَةِ الطِّيَرَةِ وَظَنِّ اعْتِقَادِ الْمُنَجِّمِينَ حَرَامٌ شَدِيدُ التَّحْرِيمِ، إِذِ الْأَيَّامُ كُلُّهَا لِلَّهِ تَعَالَى، لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ بِذَاتِهَا Artinya:
"Menghindari hari Rabu karena meyakini kesialan sebagaimana keyakinan para peramal hukumnya haram. Sebab seluruh hari adalah milik Allah. Hari-hari itu tidak memberi manfaat maupun mudarat dengan sendirinya." (Faidh al-Qadir, Juz I, hlm. 62).
Dari penjelasan tersebut, Rebo Wekasan dapat dipandang sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah dan memohon perlindungan kepada Allah, bukan sebagai waktu yang diyakini membawa kesialan.
1. Memperbanyak Doa
Doa menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan ketika memasuki Rabu terakhir bulan Safar.
Umat Islam dapat memohon perlindungan, keselamatan, kesehatan, serta berbagai kebaikan kepada Allah Swt.
Salah satu doa yang disebutkan dalam Kanz an-Najah wa as-Surur dan Mujarrabat ad-Dairabi adalah: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اللَّهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى، وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ، يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ، اكْفِنِي مِنْ شَرِّ جَمِيعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ، يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضِّلُ، يَا مُنْعِمُ، يَا مُتَكَرِّمُ، يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، ارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ...
Doa tersebut pada intinya berisi permohonan agar Allah Swt. memberikan perlindungan dari berbagai keburukan dan musibah.
2. Memperbanyak Istighfar
Istighfar tidak hanya berkaitan dengan Rebo Wekasan. Memohon ampun kepada Allah merupakan ibadah yang dapat dilakukan kapan saja.
Allah Swt. berfirman: وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ Artinya: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (QS. Hud: 90).
Rasulullah Saw juga bersabda: مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ Artinya: "Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, menghilangkan setiap kegundahan, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Ahmad).
Karena itu, memperbanyak istighfar dapat menjadi salah satu bentuk introspeksi sekaligus ikhtiar spiritual dalam mengisi momentum tersebut.
3. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Waktu yang ada juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an.
Membaca ayat-ayat Al-Qur’an merupakan amal yang memiliki keutamaan dan tidak terbatas pada waktu atau momentum tertentu.
Rasulullah Saw bersabda: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا Artinya: "Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh." (HR. at-Tirmidzi).
Baca Juga: Makam Sutrimo Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Dibongkar, Alami atau Tidak Cara Kematiannya
Maka, Rebo Wekasan dapat menjadi pengingat untuk kembali meluangkan waktu membaca dan memahami Al-Qur’an di tengah kesibukan sehari-hari.
4. Mengenal Amalan Tujuh Ayat Salam
Di sebagian kalangan pesantren dan masyarakat Muslim Nusantara, dikenal pula amalan menulis tujuh ayat Al-Qur’an yang diawali lafaz سَلَامٌ atau Salamun.
Ayat tersebut ditulis pada wadah, kemudian dilarutkan menggunakan air dan diminum sebagai bentuk tabarruk.
Keterangan ini dinukil Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayah az-Zain: وَمَنْ كَتَبَ هَذِهِ الْآيَاتِ السَّبْعَ فِي إِنَاءٍ وَمَحَاهَا بِمَاءٍ وَشَرِبَهُ لَمْ يُصِبْهُ شَيْءٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلَايَا Artinya: "Barang siapa menulis tujuh ayat tersebut pada sebuah wadah, kemudian melarutkannya dengan air lalu meminumnya, maka ia tidak akan terkena bala tersebut."
Baca Juga: WhatsApp Punya Fitur Baru, Kini Bisa Bersihkan Media dari Channel agar Memori HP Tak Cepat Penuh
Tujuh ayat yang dimaksud adalah:
سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (QS. Yasin: 58)
سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ (QS. ash-Shaffat: 79)
سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (QS. ash-Shaffat: 109)
سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ (QS. ash-Shaffat: 120)
سَلَامٌ عَلَى آلِ يَاسِينَ (QS. ash-Shaffat: 130)
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ (QS. az-Zumar: 73)
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (QS. al-Qadr: 5).
Baca Juga: Tiga Kali Layangkan Surat, FORMASI Desak DPRD Kabupaten Cirebon Buka RDP Soal Tim Kerja Pendidikan
Syekh Nawawi al-Bantani juga mengingatkan bahwa tulisan yang memuat ayat Al-Qur’an harus diperlakukan dengan penuh penghormatan sebagaimana penghormatan terhadap mushaf.
5. Salat Sunnah Mutlak
Sebagian ulama juga mencantumkan amalan berupa Salat sunnah mutlak empat rakaat yang dikaitkan dengan momentum Rebo Wekasan.
Keterangan mengenai amalan tersebut antara lain terdapat dalam Kanz an-Najah wa as-Surur karya Syekh Abdul Hamid al-Qudsi dan Al-Risalah al-Badi'ah karya KH M. Djamaluddin Ahmad.
Hal yang penting dipahami, Salat tersebut diniatkan sebagai Salat sunnah mutlak, bukan sebagai Salat khusus yang memiliki nama atau kewajiban tersendiri karena Rebo Wekasan.
Dalam praktik yang disebutkan, setiap rakaat membaca Surah Al-Fatihah, kemudian Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Surah Al-Ikhlas lima kali, serta Surah Al-Falaq dan An-Nas masing-masing satu kali.
Setelah salam, dianjurkan membaca doa perlindungan sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut.
Rebo Wekasan sebagai Momentum Memperbaiki Diri
Pada akhirnya, inti dari mengisi Rebo Wekasan dengan amal saleh bukanlah meyakini adanya hari yang membawa kesialan.
Doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, maupun amalan lainnya dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. sekaligus memohon perlindungan-Nya.
Baca Juga: Kronologi Pikap Ditimpa Pohon Besar di Sigli Pidie, Tujuh Tewas, Didahului Hujan Angin Kencang
Dengan pemahaman tersebut, tradisi yang berkembang di tengah masyarakat dapat dijalani dengan tetap menjaga prinsip tauhid dan meluruskan niat dalam beribadah.
Rebo Wekasan dapat menjadi pengingat bahwa setiap waktu memiliki kesempatan untuk mendekat kepada Allah.
Bukan karena sebuah hari dianggap membawa kesialan, melainkan karena manusia membutuhkan doa, ketenangan, dan perlindungan-Nya dalam menjalani kehidupan.
Semoga momentum ini menjadi jalan untuk memperbanyak kebaikan dan memperkuat hati dalam menghadapi segala keadaan.***




