POJOKSATU.id, JAKARTA— Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti memberikan analisa mengenai manuver Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurutnya, manuver Purbaya Yudhi Sadewa selama ini sudah direstui Presiden Prabowo Subianto.

Prabowo menurut Ray Rangkuti tidak masalah dengan adanya perseteruan kata-kata antara Presiden ketujuh Jokowi dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

"Ketika ada perseteruan kata-kata antara Jokowi dan Purbaya, Prabowo diam,” kata Ray dalam podcast bersama Abraham Samad dikutip redaksi, Sabtu, 1 November 2025.

Baca Juga: Ramai Isu Purbaya Dilirik Partai Politik, Jawabannya Santai tapi Politik Itu Pagi Tahu Sore Tempe

“Artinya Prabowo enggak ada masalah dengan gaya Purbaya seperti perseteruan dengan Jokowi terkait Whoosh," katanya lagi.

Ray Rangkuti yang berasal dari Mandailing Natal ini belum bisa berspekulasi bahwa manuver Purbaya tersebut sebagai perintah langsung dari Prabowo.

"Saya tidak tahu. Yang bisa dilihat sekarang, Prabowo tidak menegur Purbaya. Bahkan sekarang Purbaya menanggapi lagi soal Whoosh," jelas Ray.

Di sisi lain, perdebatan antara Purbaya dan Jokowi soal proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini diprediksi masih panjang.

Baca Juga: Purbaya Yudhi Sadewa Penganut Agama Islam Taat, Naik Mobil Ternyata Sambil Baca Al Quran

"Jadi agak sedikit panjang silang pendapat ini," jelasnya.

Ditambah Purbaya bersikukuh tidak mau menggunakan APBN untuk membayar utang Whoosh era Jokowi-Maruf Amin ini.

Kekhawatiran Ray Rangkuti

Ray Rangkuti khawatir, kasus dugaan mark-up kereta cepat Whoosh ini berakhir tanpa ada aktor intelektual atau aktor utama yang dijerat.

"Bisa langsung ke penyidikan, kemudian ditetapkan tersangkanya siapa. Tapi terbatas di situ, dilokalisir (tanpa menyentuh pelaku utama)," kata Ray Rangkuti dalam podcast bersama Abraham Samad itu.

Kekhawatiran lain, kata Ray, kasus Whoosh bisa mandek dengan tidak adanya pelanggaran hukum yang ditemukan KPK dalam proses penyelidikan.

"Bisa dinyatakan tidak ada apa-apa, enggak bisa dibuktikan. Yang kita khawatirkan ini, padahal sinyal-sinyal yang disebutkan banyak orang, agak masuk akal," jelas Ray Rangkuti.***