POJOKSATU.ID - Menguatnya rantai pasok pangan lokal menjadi salah satu aspek strategis dari program MBG.
Menurut Badan Gizi Nasional (BGN), rata-rata dana yang dikelola satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebesar Rp10 miliar per tahun, dengan 85 % untuk bahan baku,
Dan 95 % dari sektor pertanian lokal.
Baca Juga: Kolaborasi TNI dan Pemprov Banten Hadirkan Pembangunan Inklusif Lewat TMMD
Ini berarti program MBG tidak hanya menyuplai gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi pertanian dan agro-industri di akar rumput.
BGN telah merancang sistem logistik terpadu untuk menjamin kelancaran pasokan bahan baku MBG.
Dalam laman resmi disebutkan bahwa bahan pangan strategis seperti beras, sayur, buah.
Baca Juga: Gagal di Percobaan Pertama, UMKM Tekstil Ramah Lingkungan Asal Bekasi Ini Kini Mendunia Bersama BRI
Serta rotein hewani akan disuplai melalui mitra lokal seperti koperasi, BUMDes, petani, dan peternak.
Menurut Kementerian Pertanian, kelancaran rantai hulu-hilir dari produksi hingga distribusi adalah syarat utama agar MBG optimal menjangkau anak-sekolah, ibu hamil, dan balita.
Dengan demikian, MBG lebih dari program gizi, ia menjadi arena penguatan ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: Investasi Rp64 Triliun, Pabrik Petrokimia Lotte Jadi Kebanggaan Baru Banten
Data BGN menunjukkan bahwa dana sekitar Rp8,2 triliun yang digelontorkan mampu menggerakkan ekonomi hingga 5-6 kali lipat.
Ketika produksinya digerakkan oleh petani dan UMKM lokal, dampaknya terasa langsung di desa-desa: petani mendapatkan pasar, stabilitas harga meningkat, dan distribusi pangan lebih efisien.
Di sisi lain, menu MBG pun disesuaikan dengan potensi pangan lokal tiap daerah misalnya sagu di Papua, jagung di NTT, sayuran dataran tinggi Jawa Barat.
Pendekatan ini memastikan bahwa program MBG bersifat inklusif dan memberdayakan.
Namun, tantangan tetap ada. Produksi lokal harus mampu menyesuaikan volume dan mutu jika tidak, risiko kekurangan bahan muncul.
Pemotongan rantai pasok panjang memang efisien, namun memerlukan koordinasi intensif dan kesiapan di semua tingkatan.
Program MBG bukan sekadar upaya pemenuhan gizi, tetapi strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan melalui rantai pasok lokal.
Dari ladang petani hingga piring anak sekolah, seluruh ekosistem terhubung dalam satu misi “pangan bergizi dari Indonesia untuk anak Indonesia”.
Ke depan, keberlanjutan program ini akan sangat ditentukan oleh seberapa baik produksi lokal dipersiapkan, distribusi dijamin, dan mutu dijaga sebuah ujian nyata bagi ketahanan pangan Indonesia.***




