POJOKSATU.id - Presiden Prabowo Subianto mengenalkan sejumlah penerima bantuan pemerintah dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama MPR, DPR, DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Salah satunya adalah Susanah dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di hadapan ratusan anggota DPR RI, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai buruh harian yang bekerja mengupas bawang.

Namun, ada satu angka yang mencuri perhatian publik ketika Prabowo menyampaikan kisah Susanah. Presiden menyebut perempuan tersebut mendapatkan upah Rp700 ribu per kilogram.

Baca Juga: 11 Sekjen Parpol Merapat ke Rumah Menlu Sugiono, Pengamat Intelijen Kaitkan Stabilitas Politik

“Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram. Program Keluarga Harapan dan program sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” kata Prabowo.

Pernyataan ini sontak ramai di media sosial. Banyak warganet yang bercanda mau menjadi pengupas bawang dengan penghasilan sebesar itu.

Selain Susanah, Prabowo juga memperkenalkan Margarelitha Rohi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga: Beberapa Kerabat Saepul Pelaku Mutilasi Pancoran Mas Depok Ternyata Terjangkit HIV AIDS

“Hadir pula Ibu Margarelitha Rohi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sejak kecil, ia hidup dalam kesulitan dan tidak pernah mengenyam pendidikan.

Pada usia 38 tahun, ia masih berdagang serta merawat tantenya yang sudah berusia 80 tahun. Bantuan sosial ATENSI menjadi penopang keluarganya,” tutur Prabowo.

Kisah Warga Penerima Bantuan
Pengenalan Susanah dan Margarelitha menjadi bagian dari pidato kenegaraan Prabowo dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca Juga: Kado Kemerdekaan: Tarif Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Hanya Rp8 pada 17 Agustus 2026

Melalui kisah kedua warga tersebut, Prabowo menyoroti peran program perlindungan sosial dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan pendidikan dan kehidupan keluarga.

Prabowo dalam pidatonya juga memaparkan berbagai capaian pemerintah selama 21 bulan masa kepemimpinannya.

Ia menyebut pemerintah telah menjalankan 121 kebijakan transformatif dalam 663 hari untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dinilai telah lama dihadapi Indonesia.

Baca Juga: Sambut HUT ke-81 RI, Alun-alun Kota Bandung Dibuka Lagi 17 Agustus: Ada Pesta Rakyat, Warga Boleh Botram!

Capaian yang disampaikan antara lain swasembada delapan komoditas pangan, penghentian impor solar melalui penerapan B50, penurunan harga pupuk 20 persen, pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta pembangunan Sekolah Rakyat dan Kampung Nelayan.

Presiden juga menyoroti hilirisasi, penguatan BUMN, pengelolaan devisa hasil ekspor, perlindungan sosial, kesehatan, pelayanan publik, pertahanan, hingga politik luar negeri Indonesia.

Pernah Salah Sebut Angka
Momen penyebutan angka Rp700 ribu per kilogram dalam kisah Susanah juga mengingatkan pada beberapa momen ketika Prabowo pernah terpeleset menyebut angka dalam pidatonya.

Salah satu yang paling menarik perhatian terjadi pada 20 Oktober 2025 di Gedung Utama Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Simpan Dana Bunga Cair di Muka, Bank Bandung Luncurkan 'Deposito Cuan di Depan' Hingga 6 Persen

Saat itu, Prabowo menghadiri penyerahan uang pengganti kerugian negara dari kasus korupsi ekspor CPO atau minyak goreng.

Di hadapan tumpukan uang sitaan, Presiden sempat menyebut nominal Rp13 miliar sebelum menyadari kekeliruannya.

Prabowo kemudian langsung meralat angka tersebut menjadi Rp13 triliun.

“Sori, nggak kebayang uang segitu banyak,” ujar Prabowo sambil tersenyum, yang kemudian disambut tawa para hadirin.

Baca Juga: Soal TKA SMK 2026 Pusmendik, Kimia Analisis, Materi Budaya Kerja hingga Mikrobiologi

Momen salah sebut angka lainnya terjadi ketika Prabowo menyampaikan klaim mengenai keuntungan perusahaan penggilingan padi.

Dalam acara peresmian Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pada 21 Juli 2025, Prabowo menyebut ada grup perusahaan penggilingan padi yang mampu meraup keuntungan hingga Rp2 triliun per bulan.

Pernyataan tersebut kemudian kembali menjadi perbincangan di medsos dan sempat ramai dikomentari warganet.

Klarifikasi Mentan Amran
Terkait itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sampai harus memberikan klarifikasi bahwa angka Rp2 triliun tersebut bukan merupakan laba bersih bulanan dari operasional penggilingan padi.

Baca Juga: Menteri Purbaya Angkat Bicara Soal Rencana Kenaikan Gaji Guru 2027, Simak Penjelasannya

Menurut penjelasan Amran, angka tersebut berkaitan dengan taksiran nilai kerugian masyarakat atau fraud akibat praktik penipuan mutu, ketika beras kualitas medium dikemas dan dijual dengan label sebagai beras premium dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Meski begitu, pada momen salah sebut dalam laporan itu, pemerintah ingin menempatkan masyarakat buruh, petani dan penerima manfaat, sebagai bagian dari cerita pembangunan Indonesia. ***