POJOKSATU.ID - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan beban limbah plastik cukup berat di kawasan Asia Pasifik.
Dalam kerangka itu, merek air mineral nasional seperti AQUA anak usaha Danone Indonesia menjadi sorotan utama.
Menurut laporan dari lembaga lingkungan Sungai Watch, ditemukan bahwa AQUA menjadi penyumbang terbesar sampah plastik di sungai-sungai di Bali dan Banyuwangi.
Baca Juga: Harga BBM Non-Subsidi Naik Lagi, Pertamina Pastikan Kenaikan Bersifat Tertarget dan Rasional
Sebagai contoh, dari total sekitar 600.000 item sampah yang dikumpulkan dalam “Brand Audit Report 2024”.
Sekitar 17 % atau ±102.000 item berasal dari produk AQUAterutama gelas plastik dan botol.
Lebih lanjut, audit-terdahulu menyebut AQUA menempati posisi pertama sebagai perusahaan penyumbang sampah plastik terbanyak.
Baca Juga: Kadistrik Mandobo Minta 221 CPNS atau PPPK Tingkatkan Dedikasi, Ini Fakta Terbarunya!
Contoh spesifik Di Bali ditemukan sekitar 10.910 item sampah gelas AQUA dalam satu periode pengumpulan.
Klaim Komitmen vs Realitas di Lapangan
Di satu sisi, AQUA dan Danone Indonesia memaparkan berbagai program pengelolaan kemasan plastik melalui gerakan seperti BijakBerplastik.
Baca Juga: Kadistrik Mandobo Minta 221 CPNS atau PPPK Tingkatkan Dedikasi, Ini Fakta Terbarunya!
Program daur ulang, pengembangan infrastruktur pengumpulan dan sirkularitas kemasan.
Misalnya, dalam laporan keberlanjutan disebutkan bahwa AQUA telah mengumpulkan hingga 22.000 ton sampah plastik per tahun yang kemudian didaur ulang menjadi berbagai produk.
Mereka juga menyatakan kemasan mereka akan 100 % dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dikomposkan pada tahun 2025.
Namun di sisi lain, kritikus menilai bahwa upaya tersebut belum menutup celah besar antara volume kemasan sekali pakai yang diproduksi.
Baca Juga: BKN Bantah Isu Zero Growth CPNS dan PPPK 2025, Perekrutan ASN Tetap Berjalan
Volume akhir yang terkumpul dan didaur ulang terutama di lingkungan seperti sungai, pantai, dan kawasan pesisir.
Sebuah proyek pengelolaan limbah plastik yang diprakarsai Danone/AQUA di Bali, misalnya, memperoleh kritik tajam karena dinilai menghasilkan polusi udara.
Serta limbah berbahaya dari proses pengolahan plastik beracun.
Faktor Penyebab & Titik Lemah
Beberapa faktor yang memperburuk masalah:
1. Format kemasan sekali pakai
Baca Juga: Viral! UAS Bela Abdul Wahid di Tengah Kasus OTT KPK, Antara Solidaritas Ulama dan Isu Politik
Gelas plastik (cup) dan botol kecil AQUA disebut sebagai salah satu bentuk kemasan yang paling banyak ditemukan sebagai sampah di sungai.
Format sekali pakai ini memang populer karena praktis namun dari sisi pengelolaan sampah, menjadi tantangan besar karena distribusi dan pengumpulan yang sangat tersebar.
2. Ketidakcukupan sistem pengumpulan & daur ulang
Walaupun program pengumpulan sudah ada, laporan menyebut bahwa tidak ada “sistem deposit” yang kuat, dan pengelolaan di tingkat ujung (end-of-life) masih lemah.
Misalnya, meskipun AQUA mengklaim bahwa kemasan mereka 100 % dapat didaur ulang, faktanya masih banyak yang tercecer ke sungai.
Aktivis lingkungan bahkan menyebut skema kredit plastik yang digunakan perusahaan sebagai potensi “greenwashing”.
Baca Juga: Pest Control dan Fumigasi Sarana, Langkah Nyata KAI Daop 3 Cirebon untuk Kenyamanan Pelanggan
Perusahaan menggunakan skema pengurangan yang kompleks sebagai klaim, namun realitas di lapangan masih bermasalah.
3. Lokasi pencemaran dan komunitas terdampak
Di Bali, komunitas lokal di sekitar fasilitas pengelolaan limbah plastik milik Danone/AQUA melaporkan gangguan kesehatan.
Baca Juga: Viral! UAS Bela Abdul Wahid di Tengah Kasus OTT KPK, Antara Solidaritas Ulama dan Isu Politik
Serta kualitas lingkungan akibat operasional yang dinilai buruk dalam persetujuan dan pengawasan.
Ini menunjukkan bahwa dampak sosial-lingkungan dari kemasan sekali pakai dan sistem pengelolaan yang tidak memadai.
Tidak hanya bersifat estetika “sampah di sungai” semata tetapi bersinggungan dengan kualitas hidup masyarakat.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata Terindah di Indonesia yang Bikin Kamu Pengen Balik Lagi! No 3 Bikin Penasaran
Kenapa Harus Peduli?
Dampak lingkungan Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik dapat mencemari sungai, muara, laut, dan akhirnya ekosistem laut.
Kredibilitas merek dan konsumen Konsumen semakin sadar bahwa klaim “ramah lingkungan” harus dibarengi dengan bukti nyata.
Jika tidak, reputasi bisa menurun. Regulasi yang semakin ketat Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan sampah plastik.
Hingga 70 % pada 2025 dari arus laut.
Perusahaan kemasan besar seperti AQUA dan Danone berada di bawah sorotan.
Baca Juga: Lupa Password SIMPKB? Jangan Panik, Ini Cara Mengembalikan Akun PPG Calon guru 2025
Merek AQUA memiliki skala dan pengaruh yang besar mereka memiliki cakupan nasional dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Namun fakta-lapangan menunjukkan bahwa meskipun komitmen mereka terhadap pengelolaan kemasan plastik cukup banyak dipublikasikan.
Masih ada celah besar antara klaim dan kenyataan***




