POJOKSATU.ID - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memberikan penjelasan terkait biaya pembangunan sumur bor yang mencapai Rp150 juta.

Ia menegaskan, pengeboran tersebut bukan diperuntukkan bagi satu rumah tangga, melainkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih satu desa, khususnya di wilayah terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.

Penjelasan itu disampaikan Maruli saat ditemui di Satuan Angkutan Air (Satangair) Pusbekangad, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2026).

Baca Juga: Kecelakaan Rombongan Guru Asal Jakarta, Toyota Hiace Tabrak Truk Crane di KM 426 Tol Semarang-Solo, Satu Penumpang Tewas

Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini TNI Angkatan Darat telah melakukan pengeboran air bersih di lebih dari 4.000 titik di berbagai daerah.

Menurut Maruli, penyediaan air bersih pascabencana tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Ia menjelaskan bahwa sumber air tanah berada di kantong-kantong tertentu yang harus ditemukan dengan metode dan kedalaman yang tepat.

Baca Juga: Layanan KA Tambahan Masih Beroperasi hingga 31 Januari 2026

“Saya mengerti betul, air itu di bawah ada kantong-kantong air. Kalau kita tidak menemukan mata airnya, air itu pasti akan habis,” ujar Maruli, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com.

Ia membandingkan biaya pengeboran sumur untuk kebutuhan rumah tangga dengan sumur yang diperuntukkan bagi masyarakat luas.

Menurutnya, pengeboran untuk satu rumah tentu jauh lebih murah karena kedalaman dan kapasitasnya terbatas.

Baca Juga: Kumpulkan Menteri dan Wamen di Hambalang, Prabowo Kembali Klaim Sanggup Hadapi Bencana di Sumatera

“Kalau hanya untuk satu rumah, mungkin biayanya bisa seperti di rumah-rumah kita. Rumah saya di Bandung, mungkin tidak sampai Rp10 juta, karena airnya hanya untuk satu keluarga,” jelasnya.

Namun, kondisi berbeda terjadi ketika sumur dibangun untuk satu desa.

Maruli menyebut, pengeboran harus menggunakan sumur dalam dengan kedalaman puluhan hingga ratusan meter agar mampu menjangkau lapisan air tanah yang stabil dan mencukupi kebutuhan banyak orang.

Baca Juga: Kasus Solar Subsidi di Tol Jagorawi, Pertamina Regional JBB Blokir QR Code Bermasalah

“Karena ini untuk satu desa, tentu harus sumur dalam. Kedalamannya bisa puluhan bahkan ratusan meter,” katanya.

Ia menambahkan, proses pengeboran sumur dalam jauh lebih rumit dibandingkan sumur biasa yang umumnya hanya sedalam 20 meter.

Selain membutuhkan peralatan khusus, pengeboran juga harus mempertimbangkan struktur tanah dan kondisi geologis masing-masing wilayah.

Baca Juga: Sudah Ada Tersangka Kasus Kayu Gelondongan Banjir Tapsel, Tapi Identitas Belum Dibeberkan Polisi

Maruli menekankan bahwa tidak semua daerah di Indonesia memiliki sumber air yang mudah dijangkau.

Di sejumlah wilayah, terutama daerah rawan bencana dan wilayah terpencil, air bersih merupakan kebutuhan yang sulit dipenuhi sejak lama.

“Beberapa daerah di Indonesia ini memang sumber airnya sulit. Kalau gampang, dari dulu sudah ada airnya di sana,” ujarnya.

Baca Juga: Inflasi Sumatera Meledak Usai Banjir, BPS Ungkap Dampak Langsung ke Harga Pangan

Ia berharap penjelasan ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa biaya besar dalam pembangunan sumur bor bukanlah pemborosan, melainkan investasi jangka panjang untuk memastikan ketersediaan air bersih yang berkelanjutan bagi warga.

TNI AD, lanjut Maruli, akan terus berkomitmen membantu masyarakat, khususnya di daerah terdampak bencana, agar kebutuhan dasar seperti air bersih dapat terpenuhi dengan baik.***