POJOKSATU.id – Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah tinggal menghitung hari.

Kementerian Agama dijadwalkan menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadan 2026 pada Selasa, 17 Februari 2026.

Namun di tengah euforia menyambut Ramadan, suasana berbeda justru dirasakan sejumlah warga di Aceh yang hingga kini masih bertahan di posko pengungsian pascabencana banjir bandang akhir November 2025 lalu.

Baca Juga: Sosok Plh Kapolres Bima Kota AKBP Catur Erwin Pernah Terjerat Kasus Narkoba Tahun 2017 Lalu

Hampir tiga bulan berlalu sejak air bah menghanyutkan rumah dan harta benda mereka.

Di bawah tenda darurat, seorang ibu tak kuasa menahan tangis saat mengenang Ramadan tahun lalu yang ia jalani bersama keluarga di rumahnya.

“Seharusnya kami bisa menyambut Ramadan, tapi rumah kami sudah hilang terbawa banjir,” tuturnya, dikutip Pojoksatu.id dari Instagram @seputaraceh, Selasa (17/2/2026).

Baca Juga: Driver Ojol Meninggal di Batam, Diduga Kelelahan Saat Bekerja

Sahur yang Kini Tinggal Kenangan
Bagi sang ibu, kenangan sahur di rumah terasa begitu membekas. Ia menceritakan kebiasaan sederhana yang dulu selalu dilakukan menjelang Ramadan.

“Biasanya kalau sahur itu, sebelum tidur sudah masak nasi. Nanti apa yang ada di kulkas tinggal dimasak,” ujarnya.

Rutinitas kecil itu kini tak lagi bisa dilakukan. Lemari es, dapur, hingga ruang makan yang dulu menjadi saksi kebersamaan keluarga, sudah tak tersisa.

Baca Juga: Kali Pertama Kajari Saksikan Acara Interaksi Langsung Bupati Dengan Ribuan Rakyatnya, Pada Kegiatan 'Mapag Ramadhan'

Kini, sahur dijalani bersama para pengungsi lain di tenda darurat. Ia pun hanya bisa membantu menyiapkan makanan seadanya di posko.

“Kalau sekarang, kulkas pun sudah tidak ada. Jadi kami tidak bisa menyimpan ikan-ikan segar. Semuanya harus langsung dimasak,” katanya pelan.

Kalimatnya terhenti beberapa kali. Air mata yang ia usap menjadi gambaran betapa Ramadan tahun ini terasa berbeda.

Baca Juga: Kronologi Kepala Polisi Pamong Praja Sambas Tewas Tenggelam di Pantai Temajuk, Anaknya Belum Ditemukan

Tiga Bulan di Bawah Tenda
Banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir November 2025 lalu menyebabkan ratusan rumah rusak dan hanyut.

Sejumlah warga masih bertahan di pengungsian karena proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah belum sepenuhnya rampung.

Menariknya, di saat pemerintah pusat bersiap menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat, sebagian warga di daerah terdampak bencana masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Baca Juga: Contoh Susunan Acara Pondok Ramadan 2026 di Sekolah, Interaktif dan Bikin Siswa Lebih Antusias

Momentum Ramadan yang identik dengan kebersamaan keluarga di rumah, bagi mereka justru menjadi pengingat kehilangan.

“Kalau teringat itu, kami tidak sanggup mengingatnya. Tidak bisa berbicara lagi,” ucap sang ibu dengan suara bergetar.

Ramadan dan Ujian Ketabahan
Kisah ini menjadi potret kontras antara semarak persiapan Ramadan 2026 dan realitas yang dihadapi korban bencana.

Baca Juga: Skema dan Mekanisme Pembagian MBG saat Ramadan, Ini Penjelasan Lengkap BGN

Ramadan sejatinya bukan hanya tentang hidangan sahur dan berbuka, tetapi juga tentang empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Unggahan mengenai kisah ibu tersebut pun mendapat perhatian publik. Hingga Selasa 17 Februari 2026 pukul 09.00 WIB, postingan itu telah disukai lebih dari 1,8 ribu pengguna Instagram.

Respons warganet mayoritas berisi doa dan ajakan untuk membantu para korban banjir yang masih bertahan di pengungsian.

Baca Juga: Mengapa Pemerintah Tetap Mengandalkan Rukyat? Ini Sejarah Lahirnya Sidang Isbat di Indonesia

Di tengah penantian keputusan sidang isbat, kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua orang menyambut Ramadan dengan suasana hangat di rumah sendiri. ***