POJOKSATU.ID - Beberapa hari terakhir, jagat media sosial dihebohkan dengan cerita “rahim copot” yang ramai dibagikan di TikTok dan Instagram.

Kisah ini viral setelah terekam dalam sebuah video yang menunjukkan proses persalinan seorang ibu dengan intervensi seorang dukun beranak.

Namun menurut dokter kandungan, isu ini seharusnya menjadi pintu masuk edukasi medis, bukan sekadar sensasi viral.

Video yang memperlihatkan seorang ibu dalam kondisi disebut “rahim copot” karena penarikan tali pusar secara paksa menyebar cepat di platform sosial media.

Baca Juga: Mendadak Puluhan Karangan Bunga untuk Menkeu Purbaya dari Food Tray, Gunakan Produk Lokal untuk MBG

Komentar netizen pun muncul “Geger! Jangan angkat galon lagi kalau takut rahim copot!”, atau “Ternyata rahim bisa copot karena dukun!”.

Namun, dokter kandungan, seperti dr. Muhammad Fadli, SpOG, dengan tegas meluruskan bahwa istilah “copot” tidak tepat secara medis.

Jadi rahimnya itu bukan ‘copot’, melainkan rahim yang terbalik (inversio uteri).

"ini keadaan gawat darurat karena bisa menyebabkan perdarahan hebat,” ujar dr Fadli, dikutip detik, Rabu 12 November 2025.

Baca Juga: Motivasi Skuat PSMS Bertambah usai Kembalinya Kas Hartadi dari Skorsing Empat Laga, Siap Balas Kekalahan di Markas Persekat Tegal

Menurut laporan dari Grid Health dan detikHealth, kondisi yang sering disebut “rahim copot” sebenarnya merujuk ke inversio uteri.

Yaitu kondisi rahim yang terbalik keluar setelah plasenta belum terlepas dan tali pusar ditarik paksa.

dr Fadli menambahkan bahwa proses penarikan tali pusar harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Dan tenaga medis sebaiknya memberi kesempatan plasenta keluar secara spontan sebelum intervensi.

Jika terlewat, maka tindakan darurat harus segera dilakukan untuk mengembalikan posisi rahim.

Fenomena ini menjadi contoh bagaimana isu kesehatan bisa menjadi viral bukan hanya karena fakta, tetapi karena unsur sensasi yang melekat.

Banyak video yang diunggah tanpa konteks medis, ditambah dengan judul provokatif yang menakut-nakuti masyarakat.

Menurut pakar kesehatan reproduksi, ini adalah momen kritis untuk meningkatkan literasi kesehatan ibu dan anak bukan ajang panik kolektif.

Baca Juga: Menteri Lingkungan Hidup Tegas Tujuan Mempercepat Perubahan Iklim dalam COP30

Hal ini bisa jadi momentum baik agar masyarakat mengetahui gejala risiko persalinan, namun sayangnya kerap berhenti di level ‘kejutan’ bukan ‘pembelajaran.

Kasus video viral yang menampilkan proses persalinan tradisional telah menimbulkan dampak sosial.

Dan kesehatan publik yang cukup signifikan, terutama di kalangan perempuan.

Banyak ibu hamil dilaporkan mengalami kecemasan berlebih setelah menonton video tersebut.

Baca Juga: TPG 100 Persen Segera Dicairkan, Kementerian Keuangan Ingatkan Syarat Mutlak yang Harus Dipenuhi Guru Penerima!

Bahkan ada yang mulai meragukan keamanan proses persalinan di fasilitas medis.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat mendorong sebagian calon ibu untuk memilih melahirkan di tempat yang tidak memenuhi standar kesehatan.

Sehingga berpotensi membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

Selain itu, peristiwa ini kembali memicu perdebatan tentang peran dan batas praktik persalinan tradisional di masyarakat.

Diskusi publik semakin luas mengenai bagaimana dukun beranak atau tenaga tradisional seharusnya berkolaborasi.

Dengan sistem medis modern agar proses persalinan tetap aman namun tetap menghormati kearifan lokal.

Di sisi lain, kasus ini juga menjadi sorotan terhadap perilaku pengguna media sosial.

Yang terbukti lebih cepat membagikan konten sensasional dibandingkan konten edukatif.

Akibatnya, informasi medis yang beredar sering kali terdistorsi, menimbulkan kesalahpahaman dan ketakutan yang tidak berdasar di masyarakat.

Baca Juga: Angka Stunting Turun ke 15,9 Persen, Jawa Barat Raih Penghargaan Terbaik Nasional dari Kemenko PMK

Sebagai langkah antisipatif, masyarakat, terutama perempuan hamil dianjurkan untuk memilih fasilitas persalinan yang dilengkapi tenaga medis profesional.

Seperti dokter atau bidan terlatih, serta melakukan pemeriksaan rutin sejak awal kehamilan.

Penting juga untuk tidak menjadikan video viral atau konten sensasional sebagai rujukan medis.

Melainkan selalu mengandalkan konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan terpercaya.

Baca Juga: Patung Jenderal Soedirman Berdiri Megah di Soreang, Wagub Jabar: Jadi Penanda Semangat Juang yang Tak Padam

Sementara itu, media dan para kreator konten kesehatan diimbau lebih berhati-hati dalam memproduksi dan membagikan informasi terkait kesehatan.

Setiap konten yang bersifat publik sebaiknya menyertakan data valid serta narasumber medis yang kompeten.

Agar pesan yang tersampaikan tidak menyesatkan atau menimbulkan kepanikan.

Dengan kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan media, penyebaran informasi kesehatan dapat menjadi lebih bertanggung jawab.

Sekaligus membantu membangun literasi kesehatan publik yang lebih baik dan berbasis fakta.

Kasus viral “rahim copot” bukan sekadar hiburan digital, melainkan alarm bagi sistem kesehatan publik dan literasi medis masyarakat.

Jika ditangani dengan bijak, momen ini bisa memperkuat kesadaran akan prosedur persalinan yang aman.

Sebaliknya, jika hanya menjadi headline sensasional, maka risikonya bukan hanya hoaks kesehatan, tetapi juga kecemasan yang tidak produktif.***