POJOKSATU.ID - Kabar hilangnya Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazri Penarik, akhirnya menemukan titik terang.
Setelah dua hari tak bisa dihubungi akibat disergap bencana banjir dan longsor.
Yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, Syukri akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal Zakaria Ali, pada Jumat 28 November 2025.
Menurut Safrizal, Syukri bukan hilang tanpa jejak. Ia sebenarnya tengah dalam perjalanan menuju Sibolga, namun akses jalan di kawasan Tapanuli lumpuh total akibat longsoran besar.
Syukri dan rombongan tak bisa melanjutkan perjalanan dan terpaksa bertahan di titik aman sebelum akhirnya memutuskan berjalan kaki.
“Beliau tertahan jalan longsoran. Jalan kaki dua hari ke Sibolga,” ungkap Safrizal, dikutip dari Tirto.id, 28 November 2025.
Salah satu hambatan terbesar yang membuat situasi semakin menegangkan adalah hilangnya sinyal ponsel.
Putusnya jaringan telekomunikasi membuat komunikasi antara Wali Kota dengan Kemendagri nyaris mustahil.
Kondisi ini menyebabkan selama lebih dari 48 jam tidak ada kabar pasti mengenai keberadaan Syukri.
Memicu kekhawatiran banyak pihak, termasuk keluarga, kolega, hingga warga Sibolga yang tengah dilanda panik akibat bencana.
Sebelumnya, kabar terkait keberadaan Syukri sempat disampaikan oleh Ketua DPP NasDem Aceh, Bakhtiar Ahmad Sibarani.
Yang terakhir berkomunikasi dengan sang Wali Kota pada 25 November 2025.
Dalam pesan tersebut, Syukri memberi tahu bahwa ia terjebak di Sitahuis, Tapanuli Tengah. Jalur menuju Sibolga tertutup total akibat banjir dan longsor besar.
Syukri juga menjelaskan bahwa daerah itu nyaris tak memiliki sinyal.
Pesan itu menjadi jejak komunikasi terakhir sebelum Syukri menghilang dan tidak bisa dihubungi lagi.
Baca Juga: Hanya Ada 37.244 Guru yang Terpanggil di PPG Guru Tertentu Tahap 5 Tahun 2025, CEK Rinciannya!
Wilayah Sibolga dan kabupaten sekitar termasuk daerah paling terpukul dalam rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Curah hujan ekstrem, yang dipicu sistem cuaca dari Samudra Hindia, menyebabkan banjir bandang dan longsor dalam skala masif.
Bagi warga Sibolga, kabar hilangnya Wali Kota di tengah bencana adalah pukulan berlapis.
Namun temuan bahwa Syukri berhasil bertahan hidup dengan berjalan kaki dua hari menembus jalur rusak membuat publik lega sekaligus terkejut.
Sumber internal Kemendagri menyebut perjalanan itu bukan perjalanan mudah.
Jalur yang ditempuh berupa tanah berlumpur, reruntuhan, dan tebing longsor yang rawan ambrol kapan saja.
Meski demikian, Syukri menolak menunggu bantuan karena daerah tempat ia terjebak juga mulai kekurangan logistik.
Peristiwa ini kembali memantik diskusi soal kesiapan daerah dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Putusnya komunikasi, minimnya jalur alternatif, dan lambatnya informasi membuat situasi di lapangan kacau.
Kini setelah ditemukan, warga Sibolga menantikan penjelasan lengkap dari Syukri mengenai apa yang terjadi selama dua hari “hilang” tersebut.
Sementara itu, fokus pemerintah masih tertuju pada proses evakuasi korban, perbaikan jalur, dan restorasi jaringan komunikasi.
Bencana besar ini menjadi pengingat bahwa di tengah cuaca ekstrem, seluruh pihak termasuk pejabat daerah tak luput dari ancaman alam.***




