POJOKSATU.ID - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menegaskan kedekatan mereka dengan Presiden ke 7 Joko Widodo.
Namun, lebih dari sekadar dukungan politik, PSI menempatkan figur Jokowi sebagai strategi untuk menarik minat anak muda agar tidak semakin menjauh dari dunia politik.
Hal itu disampaikan Ketua Harian PSI Ahmad Ali saat menghadiri Rakorwil PSI se-Kepulauan Riau di Batam, Sabtu 22 November 2025 malam.
Menurut Ali, keteladanan Jokowi sangat relevan untuk menjawab tantangan PSI dalam melawan meningkatnya apatisme politik generasi muda, khususnya Gen Z.
Baca Juga: Pengamat Analisa Pergolakan di Tubuh PBNU, Jangan-jangan Syuriah Tahu Aliran Dana Luar Biasa Besar
Ali menilai banyak anak muda merasa politik hanya milik “darah biru”, elite mapan, dan pemilik modal.
Kondisi itu, ia sebut, membuat generasi baru enggan masuk ke dunia politik karena merasa tidak memiliki akses maupun peluang.
“Hari-hari ini kita banyak dengar anak-anak muda generasi Z merasa politik itu milik kaum elite dan pemilik partai. Mereka pikir mereka tidak punya kesempatan,” ucap Ali.
Di sinilah figur Jokowi digunakan PSI sebagai contoh bahwa politik tidak harus lahir dari privilese.
Baca Juga: Al Jabbar Hidayat, Putra Tokoh Karawang H. Ade Hidayat, Raih Juara Danton Terbaik
Ali menekankan bahwa Jokowi pernah berada di posisi “tidak dianggap”, bahkan tidak dilirik oleh partai besar pada awal karier politiknya.
“Ada orang namanya Jokowi yang memulai dari bawah, yang awalnya tidak dilirik termasuk oleh PDIP,” katanya.
Menurut Ali, perjalanan politik Jokowi membuktikan bahwa seseorang dari kelas menengah.
Bahkan sederhana sekalipun bisa mencapai jabatan tertinggi negara melalui kerja keras dan konsistensi.
“Dia tidak lahir dari keluarga kaya, tapi mampu memimpin negeri ini,” ujar Ali.
Ali menambahkan bahwa kompleksitas figur Jokowi termasuk kritik dan fitnah yang diterima selama menjabat.
Justru menjadi contoh nyata bagi kader PSI bahwa politik tidak selalu mulus.
Ia menyebut Jokowi sebagai sosok kuat yang sering diserang karena pengaruhnya besar.
Baca Juga: KDM Dorong Konsep Tata Ruang Sunda untuk Tekan Risiko Bencana di Jawa Barat
“Saking kuatnya, dia dimusuhi banyak orang. Banyak fitnah diciptakan kepadanya,” kata Ali.
Melalui narasi tersebut, PSI mencoba menegaskan bahwa politik tetap terbuka bagi siapa pun.
Termasuk generasi muda yang selama ini merasa tersisih.
Ali berharap mengangkat figur Jokowi sebagai patron dapat memberikan inspirasi.
Baca Juga: Belum Ada Tersangka Tewasnya Dosen Dwinanda Linchia Levi Usai Hampir Seminggu Kematian
Bagi pemuda bahwa mereka pun bisa masuk gelanggang politik tanpa harus berasal dari kekerabatan elite.
PSI pun menggunakan momentum Rakorwil Kepri untuk mengingatkan kader.
Bahwa perjuangan politik era sekarang membutuhkan tokoh pemicu semangat.
Dan dalam hal ini mereka menempatkan Jokowi sebagai figur pemersatu internal dan pendorong bagi anak muda agar tidak alergi politik.
Dengan pendekatan ini, PSI tampaknya berusaha menggeser persepsi publik.
Bahwa kedekatan mereka dengan Jokowi hanya berbasis dukungan semata.
Ali menekankan bahwa patronase tersebut merupakan bagian dari strategi panjang PSI.
Guna membangun barisan pemimpin muda yang tidak takut bersaing di panggung politik nasional.***




