POJOKSATU.ID - Setelah lebih dari satu dekade dikenal sebagai relawan fanatik Presiden Joko Widodo.
Organisasi Projo resmi memperkenalkan logo baru tanpa menampilkan wajah Jokowi.
Langkah ini menjadi tanda perubahan besar arah organisasi yang kini ingin bergerak sebagai kekuatan sosial-politik yang lebih luas.
Deklarasi pergantian logo dilakukan dalam Kongres V Projo yang digelar di Jakarta, Sabtu 2 November 2025.
Baca Juga: Dapur Impian Jadi Nyata! 5 Tips Desain Interior Dapur yang Bikin Kamu Jatuh Cinta
Dalam forum itu, Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menegaskan bahwa perubahan logo bukan sekadar kosmetik, melainkan simbol transformasi.
Logo lama Projo selama ini identik dengan siluet wajah Joko Widodo yang menjadi simbol kesetiaan para relawan sejak Pilpres 2014.
Kini, wajah itu dihapus dan diganti dengan desain bergambar burung garuda bergaya modern dengan warna merah-putih dominan.
Bude Arie mengatakan logo baru ini menandai semangat baru dan tidak lagi dimaknai hanya sebagai Pro Jokowi, tetapi Pro Negeri dan Pro Rakyat Indonesia.
Baca Juga: Tolak Jadi Warga Kelas Dua, Belasan Forum PPPK Kompak Suarakan Alih Status PNS
Menurutnya, Jokowi akan tetap menjadi inspirasi, tetapi organisasi harus bisa berdiri mandiri dan relevan dengan tantangan zaman.
“Kita lahir dari semangat Jokowi, tapi kita tidak boleh berhenti di masa lalu. Projo harus melangkah ke depan,” tambahnya, Minggu 2 November 2025.
Logo baru dengan burung garuda itu, kata Budi Arie, melambangkan kemandirian, nasionalisme, dan keberanian berubah.
Desainnya dibuat lebih sederhana dan dinamis agar mencerminkan generasi baru Projo.
Yang ingin bertransformasi dari relawan menjadi organisasi sosial-politik berorientasi rakyat.
Dalam kongres tersebut, Budi Arie juga menegaskan bahwa Projo akan fokus pada isu-isu pemberdayaan masyarakat, digitalisasi ekonomi desa, dan gerakan kebangsaan.
Ia menyebut arah organisasi kini bergeser dari sekadar relawan politik menjadi “gerakan sosial dengan akar politik kerakyatan.”
“Kami tidak akan lagi menjadi alat elektoral siapa pun. Kami menjadi alat rakyat,” tegasnya dikutip dari Kompas.com, Minggu 2 November 2025.
Baca Juga: Kebakaran Mobil Tangki di Cianjur: Pertamina Patra Niaga Janji Tanggung Jawab Penuh dan Investigasi
Perubahan logo Projo yang kini tidak lagi menampilkan wajah Presiden Jokowi memicu beragam tafsir politik.
Banyak pengamat menilai langkah tersebut mencerminkan pergeseran arah organisasi setelah berakhirnya masa jabatan Jokowi pada 2024.
Isu ini kemudian berkembang menjadi perbincangan publik mengenai posisi dan sikap politik Projo di era pemerintahan baru.
Meski begitu, pimpinan organisasi menegaskan bahwa keputusan mengganti logo bukan bentuk upaya menjauh dari sosok Jokowi.
Baca Juga: Erni Yuniati Dosen Akper Bungo Aktif di Instagram dan Facebook, Sudah Lama Kenalan dengan Pelaku
Mereka menilai, Projo perlu berkembang menjadi organisasi yang mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada figur tertentu.
Hubungan dengan Jokowi disebut tetap terjalin baik.
Namun orientasi organisasi kini lebih diarahkan pada penguatan peran masyarakat sipil dalam politik kebangsaan.
Projo juga menekankan bahwa mereka bukan partai politik.
Melainkan gerakan sosial yang berfokus pada partisipasi warga dalam menjaga arah pembangunan nasional.
Dengan identitas baru ini, organisasi tersebut ingin menunjukkan kesiapan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Tanpa kehilangan semangat awal perjuangannya, yakni mendukung kepentingan rakyat dan keberlanjutan program pembangunan yang telah berjalan.
Dengan logo baru dan semangat baru, Projo kini berdiri di persimpangan sejarahnya sendiri.
Dari relawan politik yang mengantarkan Jokowi ke kursi presiden, kini mereka berupaya menegaskan identitas sebagai gerakan rakyat yang independen.
Budi Arie menutup pidato kongres dengan kalimat yang mendapat tepuk tangan panjang.
“Projo bukan lagi tentang seseorang. Projo adalah tentang Indonesia”.***




