POJOKSATU.ID - Kasus dugaan keracunan massal terjadi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebanyak 252 siswa SMA mengalami gejala mual, pusing, dan muntah usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah pada Senin (10/11/2025).

Peristiwa ini terjadi di dua sekolah, yakni SMA Manda Elu dan SMA Santo Alfonsus. Kedua sekolah tersebut merupakan penerima program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah.

Baca Juga: Buka Pendaftaran April 2026, Ini Sekolah Kedinasan dan Syarat Tes Fisik Terbaru yang Harus Kamu Tahu

Menu yang disajikan kepada siswa hari itu berupa nasi putih, ayam goreng, dan sayur labu siam campur buncis.

Tak lama setelah jam makan siang, sejumlah siswa mulai mengeluhkan pusing dan mual.

Gejala semakin meluas hingga keesokan harinya, Selasa (11/11/2025), dan membuat ratusan siswa harus menjalani perawatan medis di rumah sakit dan puskesmas setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat Daya, dr. Maria Tadu, membenarkan kejadian tersebut.

Baca Juga: Program Bergizi yang Gagal di Rasa, Anak Sekolah Keluhkan Makanan Basi

Ia menyebut sebanyak 252 siswa mengalami gejala yang serupa.

Sebagian besar sudah mendapat penanganan dan diperbolehkan pulang, namun delapan siswa masih dirawat intensif di RS Karitas Weetebula.

Tim dari Dinkes telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan penyebab pasti.

Baca Juga: Publik Kaget, MUA Viral ‘Dea Lombok’ Ternyata Pria Bernama Denny

Pemeriksaan dilakukan bekerja sama dengan Balai POM dan Polres Sumba Barat Daya.

Bupati Sumba Barat Daya, Kornelius Kodi Mete, langsung memerintahkan jajarannya untuk menelusuri kasus ini.

Ia meminta seluruh sekolah penerima program MBG agar sementara menghentikan distribusi makanan sambil menunggu hasil investigasi.

Baca Juga: 10 Kampus Paling Berprestasi Versi Puspresnas 2025, UGM dan ITS Bersaing Ketat!

Polres Sumba Barat Daya juga telah memeriksa penyedia makanan dan yayasan penyalur program MBG.

Petugas menyelidiki bagaimana proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan sebelum sampai ke sekolah.

Menurut keterangan sementara, menu MBG hari itu disiapkan oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh yayasan lokal bekerja sama dengan dinas sosial setempat.

Baca Juga: Dana Daerah Menipis, P3K Terancam Tak Bergaji? Ini Penjelasan Soal TKD dan Batas 30 Persen APBD

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan pemerintah yang ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi siswa sekolah di seluruh Indonesia.

Di NTT, program ini baru berjalan beberapa bulan terakhir dan menjangkau ratusan sekolah di wilayah terpencil.

Namun, kasus di Sumba Barat Daya ini menimbulkan kekhawatiran publik terkait pengawasan dan keamanan makanan dalam pelaksanaan program tersebut.

Sejumlah orang tua siswa berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca Juga: Status Info GTK Masih 02? Begini Langkah yang Harus Kamu Lakukan Sekarang

Kementerian Sosial (Kemensos) melalui juru bicara resminya menyatakan akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengevaluasi sistem pengadaan dan pengawasan makanan.

Selain pemeriksaan laboratorium, Dinas Kesehatan juga akan melakukan inspeksi sanitasi ke seluruh dapur penyedia MBG di wilayah Sumba Barat Daya.

Hingga Rabu (12/11/2025) malam, seluruh siswa yang sebelumnya dirawat sudah dalam kondisi membaik.

Tim medis masih melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada efek lanjutan dari dugaan keracunan tersebut.

Sementara hasil laboratorium diperkirakan keluar dalam beberapa hari ke depan, dan akan menjadi dasar bagi kepolisian untuk menentukan ada tidaknya unsur kelalaian dari pihak penyedia makanan.

Baca Juga: Kementerian PANRB Buka Lowongan Magang Nasional Batch 2, Ada 56 Lowongan, Jangan Sampai Ketinggalan!

Kasus 252 siswa di NTT yang diduga mengalami keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas pangan sekolah.

Program pemerintah ini sejatinya bertujuan mulia untuk menyehatkan anak bangsa, namun tanpa sistem kontrol yang baik, justru bisa membawa risiko kesehatan.***