POJOKSATU.id — Nama Cucun Ahmad Syamsurijal selama ini dikenal sebagai salah satu politisi PKB dengan pengaruh kuat.
Terutama setelah dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua DPR RI periode 2024–2029.
Perjalanan politiknya panjang, dimulai dari struktur NU daerah, lalu merangkak ke partai hingga akhirnya duduk di pucuk pimpinan parlemen.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, sosok yang biasanya tampil tenang itu justru.
Baca Juga: Disdukcapil Kota Sukabumi Percepat Layanan KTP-EL di Akhir Pekan
Menjadi buah bibir nasional setelah membuat pernyataan kontroversial mengenai peran ahli gizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari Kader NU ke Panggung Politik Nasional
Latar belakang Cucun kental dengan tradisi keislaman.
Ia tumbuh dalam kultur pesantren, aktif di NU sejak akhir 90-an, kemudian memimpin struktur PKB di tingkat kabupaten hingga provinsi.
Baca Juga: Hari Ini! Operasi Zebra 2025 Digelar di Kota Bogor, Simak Titik Lokasi Operasi
Pengalamannya di parlemen pun bukan satu dua tahun; Cucun sudah tiga periode duduk di DPR, mewakili Jawa Barat II.
Pendidikan formalnya di bidang administrasi publik memperkuat posisinya dalam melihat tata kelola kebijakan.
Terutama saat ia dipercaya menjadi Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Korkesra).
Di DPR, bidang yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Sebagai pimpinan DPR, ia sering menekankan pentingnya peningkatan kualitas kebijakan publik
Termasuk program penanganan stunting, sanitasI lingkungan.
Baca Juga: Hari Ini! Operasi Zebra 2025 Digelar di Kota Bogor, Simak Titik Lokasi Operasi
Hingga pemerataan akses layanan dasar. Pendekatan kesejahteraan ini menjadi citra yang melekat pada dirinya setidaknya sampai polemik MBG mencuat.
Pernyataan Soal Ahli Gizi yang Memicu Gelombang Reaksi
Kontroversi mulai bergulir ketika Cucun berbicara dalam forum MBG di Kabupaten Bandung. Ia mengatakan bahwa program MBG “tidak perlu ahli gizi”.
Baca Juga: Disdukcapil Kota Sukabumi Percepat Layanan KTP-EL di Akhir Pekan
Bahwa peran tersebut bisa digantikan oleh tenaga yang disebutnya sebagai “pengawas gizi” yang berasal dari lulusan SMA.
cukup mengikuti pelatihan beberapa bulan sebelum mendapat sertifikasi.
Ucapan itu langsung menyebar luas di media sosial. Publik menilai komentarnya meremehkan profesi ilmiah yang membutuhkan pendidikan bertahun-tahun.
Baca Juga: Tes Ulang hingga Nilai 2 Tahun, CPNS 2026 Lebih Fair, Tapi Kok Formasi Masih Rahasia?
Banyak pihak menganggap bahwa pengawasan gizi bukan perkara sederhana yang cukup diatasi dengan pelatihan singkat.
Di sisi lain, ada pula kritik yang menilai sikap Cucun cenderung pragmatis dan mengabaikan standar kesehatan yang menyangkut keselamatan jutaan anak sekolah penerima MBG.
Cucun adalah politisi yang dikenal tegas. Tetapi dalam kasus ini, ketegasan itu dibaca sebagian publik sebagai arogansi, terutama ketika ia menyatakan bahwa perubahan nomenklatur cukup dilakukan “dengan palu sidang”.
Ungkapan itu memantik kritik baru soal gaya kepemimpinan di DPR dan bagaimana keputusan strategis program sosial dibuat.
Meski demikian, kontroversi ini juga membuka kesempatan bagi Cucun untuk memperjelas posisinya.
Baca Juga: 15 Pekerjaan yang Diprediksi Paling Dibutuhkan di Tahun 2030, Siapkah Kamu?
Ia dapat menunjukkan apakah kebijakannya memang bertujuan memperbaiki distribusi tenaga MBG atau justru perlu diluruskan agar tidak menurunkan kualitas layanan publik.
Perdebatan ini masih terus berlangsung, dan publik menantikan apakah pernyataan itu sekadar kesalahpahaman, bagian dari strategi efisiensi, atau benar-benar arah kebijakan baru.
Cucun Ahmad Syamsurijal adalah figur politik berpengaruh dengan rekam jejak panjang di PKB dan NU.
Baca Juga: 15 Pekerjaan yang Diprediksi Paling Dibutuhkan di Tahun 2030, Siapkah Kamu?
Namun masa jabatannya sebagai Waka DPR kini menghadapi ujian serius.
Polemik ahli gizi MBG bukan sekadar perdebatan teknis, melainkan pertarungan narasi tentang kualitas kebijakan publik.
Profesionalisme, dan peran DPR dalam memastikan keamanan pangan anak bangsa.
Dalam politik, reputasi dibentuk bukan hanya oleh rekam jejak, tetapi juga cara menjawab kritik.
Baca Juga: Tes Ulang hingga Nilai 2 Tahun, CPNS 2026 Lebih Fair, Tapi Kok Formasi Masih Rahasia?
Bagi Cucun, ini adalah momen yang menentukan: apakah ia akan keluar sebagai sosok yang mampu menjembatani efisiensi dan standar profesional, atau justru sebaliknya?***




