POJOKSATU.ID - Profil Bahlil Lahadalia, pria yang pernah merasakan menjadi supir angkot sebelum sukses menjadi pengusaha dan menteri di Indonesia.
Bahlil Lahadalia, merupakan pengusaha yang kini menjabat Menteri Investasi Indonesia merangkap sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal di Kabinet Indonesia Maju Jilid II.
Bahlil dilantik menjadi Menteri Investasi Indonesia pada 28 April 2021 lalu.
Baca Juga: Profil Marselino Ferdinan, Wonderkid Indonesia yang Bawa 3 Level Timnas ke Final Piala Asia
Mengulik latar belakang sang menteri, Bahlil ternyata bukanlah dari keluarga kaya.
Meski berasal dari keluarga miskin tak serta-merta membuat Bahlil Lahadalia menyerah terhadap hidup.
Bahlil yang benar-benar mengawali karir dari nol kini telah menjadi seorang pengusaha sukses bahkan menjadi menteri di masa Presiden Jokowi dan Ma'aruf Amin.
Baca Juga: Debut Layar Lebar, Jisoo Blackpink Perankan Peri di Film 'Dr. Cheon dan Lost Talisman'
Pria asal Fakfak Papua ini, pernah menjalani berbagai profesi untuk bertahan hidup sebelum menjadi sukses seperti sekarang.
Mulai dari tukang kue semasa kecil, seorang kondektur, hingga menjadi supir angkot pun pernah dia jalani.
Dengan kerja keras yang dijalani semasa hidupnya, pria kelahiran 1976 ini kemudian bisa sukses hingga menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), yang selama ini dianggap jadi ‘perkumpulan’ anak-anak pengusaha dan pejabat.
Baca Juga: Timnas Indonesia U24 Libas Kirgistan 2-0, Hugo Samir Layak Dapat Pujian
Ada banyak cerita menarik yang pernah dijalani Bahlil sebelum menjadi sukses seperti sekarang.
Bahkan karena saking miskinnya, Bahlil pun pernah juga merasakan sakit busung lapar.
Pria kelahiran Maluku Utara, 7 Agustus 1976 ini adalah anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai kuli bangunan dan ibu sebagai tukang cuci.
Dengan adanya keterbatasan tersebut, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.
Baca Juga: Komitmen Berantas Korupsi, Ganjar Pranowo Janji Bakal Perkuat KPK
Kemandiriannya itu terbukti saat ia duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah membantu perekonomian keluarga dengan menjajakan kue di sekolah.
Memasuki bangku SMP, ia juga sempat menjadi kondektur, di saat SMEA, ia menjadi supir angkot secara part time.
Walaupun begitu, Bahlil tetap menunjukan prestasinya di sekolah, bahkan ia pernah menjadi ketua OSIS.
Bermodalkan semangat, Bahlil berhasil daftar kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura, Papua.
Baca Juga: Mengenang Kosasih Kartadiredja, Wasit Indonesia Pertama Berlisensi FIFA, Dijuluki King Kobra Asia
Semasa di bangku kuliah, ia dikenal sangat aktif menjadi pengurus senat mahasiswa hingga bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang membawanya menduduki posisi puncak sebagai Bendahara Umum PB HMI.
Pada tahun 2003, namanya terdaftar di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tingkat kabupaten, provinsi, hingga ke pengurus pusat.
Setelah memiliki berbagai pengalaman dalam organisasi ia bekerja di Sucofindo sebuah perusahaan milik negara.
Bersama teman-temannya ia kemudian mendirikan tiga perusahaan bernama PT Rifa Capital, PT Bersama Papua Unggul, dan PT Dwijati Sukses.
Baca Juga: Anies Baswedan Unggul di 4 Partai Berbasis Pemilih Islam, Raihan Suara Capai 37 Persen
Bahlil juga memiliki PT Rifa Capital Holding Company dan 10 perusahaan lainnya, dan sebagian besar aktif di sektor transportasi dan properti.
Bahkan Bahlil adalah mantan ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.
Sebagai seorang pengusaha, pada suatu waktu, ia bertemu dengan Joko Widodo yang merupakan sesama pengusaha saat itu dan berteman dengannya.
Selama pemilihan umum presiden Indonesia 2019, Bahlil mendukung Joko Widodo mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua sebagai presiden.
Baca Juga: Popularitas Prabowo Paling Tinggi di Semua Ormas Islam, Ganjar dan Anies Kalah Saing
Atas kiprahnya untuk kampanye Joko Widodo dalam mempertahankan kepresidenannya, pada Oktober 2019, ia diangkat menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Ia dilantik sebagai menteri investasi pertama Indonesia pada 28 April 2021, setelah pembentukan Kementerian Investasi.***




