POJOKSATU.id, JAKARTA — Presiden Jokowi disebut menjadi dirigen di kubu Prabowo Subianto. Siapa nantinya yang menjadi cawapres pendamping Prabowo tergantung keputusan Jokowi.

Demikian disampaikan pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin.

Menurut Ujang, ada penentu di luar koalisi empat partai yang mengusung Prabowo yaitu PKB, PAN, Golkar dan Gerindra.

Penentu di luar parpol ini bisa mengubah peta politik empat parpol pendukung pemerintah tersebut. Penentu itu bernama Presiden Joko Widodo.

Baca Juga: MA Sebut Pengadilan Jangan Cari-cari Kesalahan Satgas BLBI, yang Penting Kembalikan Uang Negara

"Ada dirigennya, ya Pak Jokowi. Kalau endorse-endorse tidak mungkin didorong tanpa Jokowi," jelasnya seperti dilansir dari RMOL, Selasa (15/8).

Menurutnya, Presiden Jokowi dianggap kuat dan bisa membangun koalisi pemerintah bergabung dengan Prabowo Subianto, ditambah PBB yang pada Pemilu 2019 lalu juga mendukung Jokowi.

Oleh karena itu, setiap ketum di koalisi besar punya peluang yang sama, tergantung Jokowi.

"Airlangga masih ada peluang yang sama dengan Cak Imin, Erick Thohir, maupun Gibran," tutupnya.

Baca Juga: Sidang Tuntutan Mario Dandy dan Shane Lukas Digelar Hari Ini di PN Jaksel

Menurutnya, siapa yang bakal menjadi cawapres pendamping Prabowo, maka harus ada kompromi politik antara empat parpol ini; Gerindra, PKB, Golkar, dan PAN.

"Di situ harus ada kompromi di antara empat partai, Gerindra, PKB, Golkar, dan PAN, untuk menentukan siapa cawapres yang ideal yang bagus," katanya.

"Tapi, di antara tiga nama, semua masih ada peluang yang sama, untuk menjadi cawapres Prabowo," imbuhnya lagi.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dinilai masih memiliki peluang mendampingi bakal calon presiden Prabowo Subianto.

"Kalau kita bicara duet Prabowo-Airlangga, masih ada peluang," ujar Ujang Komarudin, Selasa (15/8).

Terlebih Partai Golkar merupakan partai tiga besar di parlemen setelah PDIP dan Gerindra.

Ujang melanjutkan, peluang Airlangga menjadi pendamping Prabowo akan terbuka kalau tiga ketua umum lain yang ada di koalisi besar itu sepakat mengusung duet tersebut.***