POJOKSATU.ID - Presiden Prabowo Subianto akhirnya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh.
Minggu 7 Desember2025, untuk meninjau penanganan banjir dan longsor.
Namun kedatangannya memicu sorotan tajam serta kritik publik karena dilakukan.
Setelah bencana berlangsung berhari-hari dan ribuan warga terpaksa bertahan dengan bantuan terbatas.
Baca Juga: Expo STEM Tadris Biologi 2025 Pamerkan Puluhan Karya Inovatif Mahasiswa Angkatan 2023
Prabowo turun dari pesawat Kepresidenan mengenakan safari coklat dan topi biru, disambut jajaran menteri dan pejabat daerah.
Sementara itu, suara mesin pesawat yang masih menyala tak menghentikan Presiden untuk berbincang lama di landasan, memanggil satu per satu pejabat yang hadir.
Mulai dari Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), hingga Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Adegan berpelukan dan obrolan panjang itu menjadi pemandangan kontras dengan kondisi di lapangan.
Baca Juga: Tambahan TPG 100 Persen Jadi Sorotan Tapi Bagaimana Cara Pemerintah Menganggarkannya
Di mana warga masih berjibaku menyelamatkan sisa hidup mereka.
Kesan seremonial semakin kuat ketika Prabowo terlihat lebih lama berbincang di landasan pesawat dibanding bergerak cepat menuju lokasi terdampak.
Sejumlah pihak menilai momen itu menegaskan bahwa prioritas awal kunjungan lebih condong pada protokol.
Dan tampilan politik ketimbang inspeksi darurat yang dinanti-nantikan warga.
Padahal, bencana di Aceh telah memicu kerusakan besar.
Ribuan warga mengungsi, akses jalan terputus, listrik padam, dan sejumlah titik masih terisolasi.
Banyak warga mengaku baru menerima bantuan setelah menunggu selama berhari-hari.
Dalam situasi seperti ini, kedatangan Presiden yang baru dilakukan belakangan dianggap terlalu lambat dan tak sebanding dengan urgensi bencana.
Baca Juga: Prabowo Klaim 97 Persen Aceh Sudah Terang, Faktanya Banyak Desa Masih Tertutup Lumpur
Pemerintah mengklaim kunjungan ini dilakukan untuk memastikan percepatan penanganan darurat, evakuasi, distribusi logistik, hingga pembukaan akses jalan.
Namun publik bertanya-tanya, mengapa percepatan itu baru diikuti kunjungan Presiden setelah kondisi terlanjur memburuk?
Kementerian terkait sebelumnya menyatakan penanganan banjir di Aceh sebagai prioritas nasional.
Namun realitas di lapangan menunjukkan banyak ketidaksiapan. Warga dilaporkan kekurangan logistik, posko darurat kewalahan.
Baca Juga: Terkuak! Kayu Banjir dengan Bekas Chainsaw, Kapolri Ungkap Jejak Kejahatan Hutan yang Disembunyikan
Sementara sejumlah lokasi tidak tersentuh bantuan dalam waktu lama karena akses terputus.
Kunjungan Presiden yang datang di penghujung pekan dipandang sebagai respons terlambat yang menyoroti lemahnya sistem koordinasi pemerintah.
Tak sedikit warganet mempertanyakan manfaat langsung kunjungan tersebut.
Banyak yang menilai kedatangan Prabowo lebih condong pada citra politik ketimbang langkah strategis untuk meringankan penderitaan korban.
Terlebih, kunjungan itu berlangsung sangat protokoler, lengkap dengan barisan pejabat yang ikut mendampingi, tetapi tanpa ada tindakan cepat yang terlihat seketika.
Presiden lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma sekitar pukul 07.55 WIB.
Namun bagi sebagian warga Aceh yang sudah berhari-hari menunggu bantuan, kedatangannya dinilai telat.
Baca Juga: Rencana TPG Bulanan Peluang Besar dan Risiko Besar! Bagaimana Cara Guru Bisa Menyesuaikan Diri?
Meski pemerintah memastikan percepatan pemulihan, warga berharap kunjungan ini bukan sekadar formalitas.
Melainkan awal dari langkah konkret yang harusnya dilakukan sejak awal.***




