POJOKSATU.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah baru ekonomi Indonesia, yakni tidak lagi bergantung pada penjualan bahan mentah ke luar negeri.

Pemerintah kini fokus mendorong hilirisasi agar nilai tambah industri bisa dinikmati di dalam negeri.

Dalam acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Cilacap, Prabowo mengungkapkan target ambisius yang sedang disiapkan.

"Sudah 26 titik (proyek hilirisasi) ya, dan kita mungkin tambah lagi enam titik tahun ini. Mungkin kita mulai 30-40 proyek besar," ujarnya.

Baca Juga: Prabowo Puji TPST Banyumas, Jateng Targetkan Zero Sampah Lebih Cepat

Menurutnya, seluruh proyek tersebut merupakan bagian dari strategi besar untuk mengubah pola ekonomi nasional.

Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi penyuplai bahan baku, tetapi mampu mengolah sumber daya menjadi produk bernilai tinggi.

"Apapun terjadi kita hanya mau kerja untuk rakyat," katanya.

Prabowo menilai penguatan hilirisasi menjadi kunci untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keuntungan ekonomi, sekaligus memperkuat industri dalam negeri.

Baca Juga: Usai Kecelakaan KA Bekasi, Presiden Prabowo Pastikan Investigasi dan Flyover Segera Dibangun

Langkah ini juga diharapkan bisa membuat ekonomi Indonesia lebih mandiri.

Tak hanya itu, pemerintah juga bersiap meluncurkan program lain seperti Koperasi Desa Merah Putih.

Dalam waktu dekat, sekitar 1.000 koperasi akan diresmikan, disusul lebih dari 25 ribu koperasi fisik dalam beberapa bulan ke depan.

"Sesudah itu dua-tiga bulan lagi kita akan resmikan lebih dari 25 ribu Koperasi (Desa). Koperasi bukan di atas kertas, koperasi fisik, ada gudang, ada pendingin, ada gerai-gerai, ada kendaraan," ucapnya.

Prabowo juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai menjadi bagian dari upaya membangun rantai ekonomi dari hulu ke hilir.

"Banyak negara sekarang belajar MBG ke kita. Di mana ada negara bisa memberi makan lebih 60 juta orang lima kali seminggu," ujarnya.

Diketahui, pemerintah baru saja memulai 13 proyek hilirisasi tahap kedua dengan total nilai mencapai Rp116 triliun.

Proyek tersebut mencakup sektor energi, mineral, hingga perkebunan yang tersebar di berbagai daerah.

Presiden juga menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan dengan pendekatan teknologi dan efisiensi.

Ia meminta setiap proyek benar-benar dihitung secara matang.

"Saya perintahkan terus dikaji karena perkembangan teknologi berjalan terus. Saya minta kita objektif dan kita bersifat scientific, kita hitung secara matematik," katanya.

Ia menegaskan bahwa hanya proyek yang paling efisien dan menguntungkan rakyat yang akan dijalankan. "Tidak ada kepentingan lain. Yang paling efisien, menguntungkan rakyat, itu yang harus dijalankan," ujarnya.

Langkah besar ini menjadi sinyal bahwa Indonesia sedang berupaya naik kelas dalam peta ekonomi global.

Kadang, perubahan besar memang butuh keberanian untuk meninggalkan pola lama dan melangkah ke arah yang lebih bernilai.***