POJOKSATU.id– Presiden Prabowo Subianto kembali membuat perhatian publik tersedot ketika meninjau pembangunan hunian sementara (huntara) untuk korban banjir besar di Aceh Tamiang.
Dalam kunjungan yang berlangsung di tengah percepatan pembangunan 600 unit huntara tersebut.
Prabowo menyoroti satu masalah serius atap seng yang digunakan kontraktor dinilai terlalu panas dan tidak layak ditempati.
Di hadapan jajaran kontraktor dan pejabat yang mendampingi, Prabowo langsung mengoreksi penggunaan material tersebut setelah melihat langsung kondisi bangunan.
Ia mempertanyakan alasan teknis sekaligus mengingatkan agar kenyamanan warga korban banjir menjadi prioritas utama.
“Saya koreksi sedikit, saya tanya, ‘bagaimana ini ya kan? Seng panas. Coba dipikirkan. Kalau bisa kita kasih apa solusi’,”
Baca Juga: Viral Mobil Pelat RI 25 Serobot Antrean Tol! Publik Geram, Polisi Turun Tangan
ujar Prabowo saat mengecek satu per satu unit huntara yang sedang dibangun 1/1/2026.
Menurut laporan di lapangan, atap seng memang menjadi perhatian karena kemampuannya menyerap panas matahari.
Di wilayah tropis seperti Aceh, suhu di dalam hunian beratap seng bisa meningkat drastis dan membuat penghuni terpapar panas ekstrem, terutama pada siang hari.
Hal ini membuat Prabowo menilai penggunaan material tersebut tidak tepat untuk hunian darurat yang seharusnya memberikan kenyamanan bagi pengungsi.
Prabowo menegaskan bahwa solusi bukan soal mahal atau tidak, melainkan soal kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana.
Ia meminta kontraktor untuk mencari alternatif material, termasuk menggunakan bahan lokal yang lebih ramah panas.
“Mungkin solusinya tidak usah mahal-mahal, solusinya mungkin dari bahan-bahan lokal. Apa itu anyaman atau apa ya kan,"
"dari ijuk atau dari apa, dilapisi di bawahnya seng. Tidak perlu barang bahan mahal,”
jelas Prabowo, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin menghamburkan anggaran tetapi tetap ingin memberikan tempat tinggal yang layak.
Arahan Prabowo itu langsung menjadi sorotan karena dianggap menunjukkan perhatian presiden hingga ke detail teknis bangunan.
Menurut Prabowo, kualitas huntara bukan sekadar bangunan berdiri cepat.
Baca Juga: Viral Mobil Pelat RI 25 Serobot Antrean Tol! Publik Geram, Polisi Turun Tangan
Tetapi harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pengungsi yang kehilangan rumah akibat banjir besar di penghujung 2025.
Dalam kunjungannya, Prabowo juga meninjau fasilitas umum yang sedang disiapkan, seperti musala, dapur umum, taman bermain, toilet, kamar mandi, hingga jaringan Wi-Fi.
Pemerintah menargetkan hunian sementara ini menjadi tempat tinggal transisi yang manusiawi sebelum warga kembali ke rumah permanen setelah proses rehabilitasi selesai.
Sikap tegas Prabowo langsung direspons pihak kontraktor yang menyatakan siap menyesuaikan desain sesuai arahan presiden.
Evaluasi terhadap material atap akan dilakukan agar suhu di dalam bangunan lebih stabil dan tidak membahayakan kesehatan penghuni, terutama anak-anak dan lansia.
Teguran Prabowo ini juga disambut positif oleh warga setempat.
Banyak dari mereka menilai bahwa perhatian presiden terhadap hal-hal teknis seperti atap seng menunjukkan komitmennya untuk memastikan pengungsi tidak hanya mendapat bangunan cepat, tetapi bangunan yang benar-benar layak.
Kunjungan tersebut sekaligus membuka diskusi nasional mengenai standar konstruksi hunian darurat di Indonesia.
Dengan banyaknya daerah rawan bencana, sorotan Prabowo menjadi momentum.
Agar pembangunan huntara di berbagai wilayah lebih memperhatikan kenyamanan dan keselamatan warga, bukan sekadar memenuhi target jumlah unit.
Dengan kritik tajamnya terhadap penggunaan atap seng, Prabowo menegaskan bahwa pendekatan empati harus menjadi landasan dalam setiap penanganan bencana.
Bagi Prabowo, huntara bukan hanya bangunan, tetapi tempat berteduh sementara yang harus membuat pengungsi merasa aman setelah kehilangan rumah mereka.***




