POJOKSATU.id – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa tujuan utama bernegara bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan kesejahteraan benar-benar dirasakan seluruh rakyat Indonesia, terutama kelompok paling bawah.
Prabowo mengakui, pada awal kemerdekaan Indonesia lahir dalam kondisi serba terbatas.
Negara belum memiliki anggaran yang jelas, sistem bernegara masih dibangun dari nol, dan sebagian besar rakyat hidup tanpa modal ekonomi yang memadai.
Baca Juga: KDM Cairkan Suasana Korban Bencana Taput, Ketemu Ibu yang Disakiti Orang Jabar, Beri Bantuan Rp1,5 M
Kondisi historis ini, menurutnya, tak bisa disamakan dengan negara-negara yang tumbuh tanpa pengalaman penjajahan.
Ia menyoroti pandangan pembangunan yang terlalu bertumpu pada teori pertumbuhan konvensional dan pemikiran neoliberal.
Dalam teori tersebut, penumpukan kekayaan di kelompok kecil diyakini akan menetes ke bawah. Namun, Prabowo mempertanyakan efektivitas konsep itu dalam realitas Indonesia.
Baca Juga: Lulusan PPG 2024 Berpeluang Terima THR dan Gaji ke-13 2026, Ini Syarat Administrasinya
“Kalau hanya menunggu kekayaan menetes ke bawah, bisa jadi rakyat kecil keburu habis menunggu,” ujar Prabowo dalam pidatonya, dikutip Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai pemerataan akan menghasilkan ketimpangan dan membuat sistem pembangunan kehilangan manfaat bagi bangsa.
Di sinilah peran pemimpin negara diuji, yakni berani melihat kekurangan, mengakui masalah, dan mengambil langkah tegas untuk memperbaikinya.
Baca Juga: Dosen Vokasi Undip Raih Penghargaan Bergengsi dari RWTH Aachen University Jerman
Prabowo kembali mengingatkan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia telah ditegaskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Negara dibentuk untuk melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum, termasuk melindungi rakyat dari ancaman kelaparan, kemiskinan, penyakit, dan penderitaan.
Dalam konteks itu, Prabowo menyinggung peran TNI dan Polri sebagai institusi yang lahir dari rahim perjuangan rakyat.
Sejak awal kemerdekaan hingga kini, keduanya disebut selalu hadir di wilayah paling sulit, termasuk saat terjadi bencana alam dan krisis kemanusiaan.
Ia juga menekankan pentingnya semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan kesadaran bernegara sebagai fondasi utama pembangunan.
Bagi Prabowo, kemajuan negara tidak diukur dari segelintir kelompok yang sejahtera, melainkan dari sejauh mana seluruh rakyat merasakan kehidupan yang lebih layak.
Baca Juga: Setelah Guru, Kini PPPK Nakes Ikut Jadi Korban Pemutusan Kontrak Kerja! Kebijakan Zalim?
“Negara ini dibangun untuk semua, bukan untuk segelintir orang,” tegasnya. ***




