POJOKSATU.ID - Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat 28 November 2025.
Mendadak menjadi panggung pernyataan keras Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pidatonya, Prabowo meminta para guru di seluruh Indonesia bersikap tegas terhadap murid-murid yang bersikap kurang ajar.
Bahkan menyarankan pemberian sanksi berat tanpa memandang status sosial orang tua murid.
Baca Juga: Sekolah Bisa Ajukan Revitalisasi Secara Online Mulai 2026, Begini Mekanismenya
Pernyataan itu mengundang sorotan publik karena disampaikan dengan nada tegas sekaligus menyindir keras budaya “anak pejabat kebal aturan”.
Yang sudah lama menjadi polemik di dunia pendidikan. Namun di sisi lain, sebagian pihak menilai pernyataan Prabowo.
Justru memperlihatkan betapa rusaknya sistem disiplin sekolah hingga presiden harus turun tangan mengurusi perilaku murid.
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung fenomena murid yang membalas teguran guru, merasa paling hebat, dan memperlihatkan perilaku tak sopan di ruang kelas.
Baca Juga: Update Jumlah Korban Banjir Bandang Tapsel, 32 Orang Meninggal Dunia, Kayu Gelondongan Berserakan
“Kadang-kadang ada murid yang kurang ajar. Ditegur guru dia balas. Merasa dirinya jagoan,” ujar Prabowo dengan suara meninggi.
Prabowo mengaku heran mengapa fenomena seperti ini terus terjadi, seolah sekolah kehilangan wibawa dan guru tak lagi dihormati.
Pernyataannya memperlihatkan keresahan mendalam terhadap budaya sekolah yang makin jauh dari nilai kesopanan.
Namun kritik muncul, bukankah kondisi ini menunjukkan kegagalan sistem pembinaan karakter yang selama ini menjadi program pemerintah?
Prabowo membeberkan pengalaman pribadi. Ia mengaku pernah menerima laporan murid di bawah naungan Kementerian Pertahanan.
Yang membanting pintu dan bersikap tidak sopan kepada guru.
Kepala sekolah disebut tidak berani memberi sanksi karena murid tersebut adalah anak seorang jenderal.
Pernyataan ini memicu kritik dari berbagai kalangan karena membuka borok lama.
Banyak sekolah yang takut menindak anak pejabat, anak aparat, atau anak “orang penting”.
Namun publik juga menilai bahwa mengumbar kasus tersebut dalam forum terbuka bisa memperlihatkan buruknya tata kelola sekolah di bawah kementeriannya sendiri.
Prabowo meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti serta seluruh guru di Indonesia untuk tidak ragu bersikap tegas.
Namun kritik muncul dari pemerhati pendidikan, guru sering kali dibiarkan “berperang sendirian”.
Baca Juga: Lulus PPG Bisa Langsung Jadi PPPK? Benarkah Peserta Tak Perlu Mengajar atau Masuk Dapodik?
Pernyataan Prabowo dianggap benar secara normatif, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.
Lemahnya regulasi yang membuat guru sering kalah dalam konflik dengan orang tua dan pihak berpengaruh.
Fakta di lapangan menunjukkan kasus murid yang membangkang, melawan guru, membully, hingga melakukan kekerasan bukan lagi hal baru.
Beberapa tahun terakhir, publik disuguhi guru dipukul murid, murid menantang guru berkelahi, guru dipolisikan karena mencubit murid.
Orang tua mengancam sekolah karena merasa anaknya “disakiti” oleh guru.
Dengan munculnya pernyataan presiden seperti ini, banyak pihak mempertanyakan.
Mengapa baru sekarang presiden bersuara tegas, padahal masalah ini sudah lama terjadi?
Pernyataan Prabowo tentang “guru harus tegas” memicu perdebatan.
Guru-guru di berbagai daerah menyambut baik dukungan moral, tetapi mereka juga menagih perlindungan hukum.
Tanpa aturan jelas, guru kerap berada dalam posisi lemah. Apalagi di sekolah swasta, kehadiran murid berkaitan dengan pendapatan sekolah.
Menghadapi murid bermasalah bisa berujung pada tekanan dari yayasan atau orang tua.
Menutup pidatonya, Prabowo mengatakan semua murid wajib mencintai orang tua dan menghormati guru.
Pesan ini baik, tetapi kontras dengan kondisi dunia pendidikan yang sedang menghadapi krisis moral, kekerasan, perundungan, serta impunitas bagi anak pejabat.
Publik berharap pernyataan ini bukan sekadar retorika peringatan Hari Guru, melainkan diikuti kebijakan konkret.
Jika tidak, masalah murid “kurang ajar” hanya akan menjadi isu tahunan tanpa solusi.***




