POJOKSATU.id, JAKARTA – Saat berpidato di acara 100 tahun Pesantren Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Presiden Prabowo terpantau menangis dan menyeka air matanya.
Prabowo juga meneriakkan Palestina Merdeka atau Free Palestine di acara yang dihadiri beberapa Duta Besar negara sahabat itu.
Prabowo juga mendapat keffiyeh atau sorban bermotif kotak-kotak yang menjadi simbol perlawanan dan identitas rakyat Palestina yang diberikan Dubes Palestina Abdalfatah AK Al-Sattari.
Mulanya, Prabowo menyapa para tamu undangan yang hadir, para dubes negara sahabat, lalu tiba giliran Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah AK Al-Sattari.
Baca Juga: Demo Tolak Batalyon TP di Silo, Gus Fawait Tegaskan Pemkab Jember Tak Lepas Tangan
Tak lama kemudian, Prabowo lalu meneriakkan solidaritas untuk kemerdekaan rakyat Palestina.
"Free Palestine! Free Palestine! Free Palestine!," teriak Prabowo dengan lantang sambil mengepalkan tangan kanan disambut teriakan yang sama dari hadirin.
Abdalfatah lalu berdiri dan berlari menghampiri Prabowo sambil membawa keffiyeh. Dia lalu mengalungkan simbol solidaritas untuk Palestina itu kepada Prabowo. Keduanya lalu berpelukan. Momen hangat itu mendapat riuh tepuk tangan dari hadirin.
Prabowo lalu menuju podium untuk melanjutkan pidatonya. Namun mantan Danjen Kopassus ini terlihat menangis dan menyeka air matanya dengan tisu.
Baca Juga: Sidang Tipikor Bea Cukai, Ahmad Dedi Bantah Minta Uang Rp500 Juta, Klaim Bukan Staf Khusus BIN
"Saya minta maaf, tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus. Dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi dorongan bagi Indonesia untuk terus memperkuat bangsa. Dia mengajak para kiai, ulama, pendidik, dan santri untuk mendorong generasi muda belajar dengan sungguh-sungguh.
"Ini saya kira harus mendorong dan memicu suatu kehendak, kehendak untuk belajar sungguh-sungguh, kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain," ujarnya.
Prabowo berharap generasi penerus dari para ustaz dan ulama dapat membangun keberanian untuk belajar dari kelemahan dan kekurangan.
"Kita pernah dijajah oleh bangsa lain. Itu kenyataan yang pahit. Ya, bapak-bapak kita, eyang-eyang kita, kakek-kakek kita, ya, pendahulu-pendahulu kita ya berjuang, ya melawan, tapi cukup lama kita di bawah telapak kaki bangsa lain,” ujarnya.
“Ini pahit, tapi kita harus berani mengakui, dan kita harus belajar dari situ, dan kita harus bertekad jangan sekali-sekali kita akan dijajah kembali oleh siapa pun!" sambungnya lagi.***




