POJOKSATU.ID - Perum Bulog menyatakan kesiapan Indonesia untuk memasuki babak baru ketahanan pangan nasional dengan membuka peluang ekspor beras ke sejumlah negara pada 2026.
Negara tujuan ekspor tersebut meliputi Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini, seiring keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa sejak Januari hingga Desember 2025, Indonesia tidak lagi melakukan impor beras.
Baca Juga: Airlangga Tegaskan THR PNS dan Pensiunan 2026 Cair Lebih Awal, Ini Perkiraannya
Kondisi ini menjadi tonggak penting setelah puluhan tahun ketergantungan pada pasokan luar negeri.
“Sepanjang tahun 2025, Indonesia sama sekali tidak melakukan impor beras. Ini bukti bahwa produksi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional,” ujar Rizal, dikutip pojoksatu.id dari instagram @fakta.jakarta (19/1/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah telah menetapkan target penyerapan beras nasional sebesar 4 juta ton pada 2026.
Baca Juga: Dinilai Gagal Berantas Situs Permainan Ilegal, Meutya Hafid Didesak Mundur dari Menkomdigi
Sementara itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini berada di kisaran 3,3 juta ton. Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 7 juta ton.
Menurut Rizal, angka tersebut dinilai cukup aman untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Oleh karena itu, pemerintah mulai membuka wacana ekspor beras, dengan tetap menempatkan ketahanan pangan nasional sebagai prioritas utama.
Baca Juga: Anies Baswedan Bongkar Fakta Mengejutkan, 97 Persen Kerusakan Hutan Indonesia Ternyata Legal
“Prinsipnya, kebutuhan masyarakat dalam negeri harus aman dan terpenuhi. Jika stok berlebih dan stabil, barulah ekspor bisa dilakukan secara terukur,” jelasnya.
Keberhasilan swasembada beras ini juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan bahwa capaian tersebut sekaligus menjawab keraguan sejumlah pihak yang selama ini meragukan kemampuan Indonesia untuk mandiri dalam sektor pangan.
“Banyak tokoh yang nyinyir dan skeptis, mengatakan Indonesia tidak mungkin swasembada pangan. Hari ini kita buktikan, kita swasembada pangan,” tegas Prabowo.
Presiden menilai kemandirian pangan merupakan fondasi utama bagi kedaulatan bangsa.
Dengan tidak lagi bergantung pada impor beras, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar yang lebih kuat di tingkat regional maupun global.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Bulog telah diminta untuk menyiapkan hingga 1 juta ton beras yang dapat dialokasikan untuk kebutuhan ekspor.
Namun, realisasi ekspor tersebut tetap akan mempertimbangkan kondisi stok nasional dan stabilitas harga di dalam negeri.
Indonesia sendiri terakhir kali mencatat swasembada beras tanpa impor pada periode 1984 hingga 1988.
Setelah itu, impor beras kembali dilakukan untuk menutup kebutuhan nasional. Keberhasilan mencapai swasembada pada 2025 menjadi catatan sejarah baru setelah lebih dari tiga dekade.
Dengan capaian ini, Indonesia tidak hanya dinilai berhasil mengamankan kebutuhan pangan rakyat, tetapi juga berpotensi menjadi pemain penting dalam perdagangan beras di kawasan Asia Pasifik.***




