POJOKSATU.ID - Presiden Prabowo Subianto mengingatkan ancaman serius dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan, khususnya dalam penyebaran hoaks dan manipulasi informasi yang dinilai bisa mengganggu stabilitas negara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam arahannya kepada jajaran Kabinet Merah Putih, pejabat eselon I kementerian dan lembaga, serta pimpinan BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Menurut Prabowo, kemajuan teknologi digital saat ini membuat penyebaran disinformasi semakin mudah dan masif, bahkan hanya dilakukan oleh segelintir orang.
Baca Juga: IPB Kupas Strategi Lolos SNBT 2026, Kuota 30 Persen Jadi Peluang Besar Calon Mahasiswa
Ia menyoroti bagaimana satu individu bisa mengendalikan banyak akun untuk menciptakan persepsi tertentu di ruang publik.
“Dengan teknologi AI, satu orang bisa punya ribuan akun dan menyebarkan informasi yang bisa diperbanyak lagi dengan biaya yang relatif murah,” ujarnya.
Fenomena tersebut, lanjutnya, menciptakan apa yang dikenal sebagai echo chamber, yakni kondisi di mana informasi yang sama terus berulang dan memperkuat persepsi tertentu, meski belum tentu benar. Hal ini dinilai berpotensi menimbulkan kegaduhan sosial.
Prabowo menegaskan bahwa pola ancaman terhadap negara kini telah berubah.
Jika dulu ancaman datang melalui kekuatan militer, kini manipulasi informasi di media sosial justru menjadi alat yang lebih efektif dan sulit dikendalikan.
“Dulu perang dengan senjata, sekarang cukup dengan hoaks dan fitnah di media sosial,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan bagaimana teknologi AI mampu memanipulasi suara maupun video seseorang hingga terlihat seolah-olah nyata.
Bahkan, ia mengaku pernah melihat konten yang menampilkan dirinya berbicara dalam bahasa asing atau bernyanyi dengan suara berbeda dari aslinya.
Meski mengingatkan bahaya tersebut, Prabowo tetap menegaskan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi.
“Kita tetap terbuka terhadap kritik, tapi harus waspada terhadap fitnah dan manipulasi,” pungkasnya.
Namun, ia mengingatkan agar kritik disampaikan secara bertanggung jawab dan tidak berubah menjadi disinformasi.***




