POJOKSATU.id - Presiden Prabowo Subianto menggagas ide penggunaan genteng berbahan dasar tanah untuk memperindah tampilan bangunan di setiap atap rumah di Indonesia.

Menurut Prabowo, hingga kini masih banyak rumah di berbagai daerah yang menggunakan atap seng, padahal material tersebut dinilai tidak awet dan kurang ramah lingkungan.

“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh,” kata Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Jawa Barat pada Senin, 02 Februari 2026.

Baca Juga: Info GTK Akan Masuk Masa Validasi 15–20 Februari 2026, Ini yang Harus Dilakukan Guru Sertifikasi agar Status Tetap 'Valid'

Ia pun menegaskan keinginannya agar seluruh atap rumah di Indonesia menggunakan genteng.

“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” lanjutnya.

Lantas, seperti apa kondisi penggunaan atap rumah di Indonesia saat ini?

Baca Juga: Kenapa Guru Sertifikasi Diminta Bersiap Sebelum 15 Februari 2026, Ini Penjelasan Alur Data dari Sekolah hingga Kementerian Keuangan

57,93 Persen Rumah Tangga Sudah Pakai Genteng
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, sebanyak 57,93 persen atau setara dengan 40.913.287 rumah tangga di Indonesia sudah menggunakan genteng sebagai atap rumah.

Artinya, mayoritas masyarakat Indonesia telah memilih genteng sebagai material utama penutup atap.

Sementara itu, 31,48 persen atau sekitar 22.232.058 rumah tangga masih menggunakan seng.

Baca Juga: TPG Februari 2026 Bisa Gagal Cair Jika Lengah, Ini Daftar Persiapan Guru Sertifikasi Sebelum 15 Februari Berdasarkan Mekanisme Resmi

Seng merupakan material penutup atap dari lembaran logam yang dikenal ringan, cukup tahan lama, dan harganya relatif terjangkau.

Namun, penggunaan seng kerap kurang diminati karena menimbulkan bunyi berisik saat hujan serta membuat suhu di dalam rumah terasa lebih panas akibat sifat logam yang menyerap dan menghantarkan panas.

Selain genteng dan seng, sebanyak 7,85 persen atau sekitar 5.543.280 rumah tangga menggunakan atap asbes.

Baca Juga: Heboh Prabowo Blak-blakan: Saat Negara Ingin Berantas Korupsi, Para Garong Menyerang Balik

Atap asbes terbuat dari campuran semen dan serat, dengan keunggulan harga terjangkau, ringan, dan tahan api.

Meski demikian, material ini berisiko melepaskan serat halus yang berbahaya bagi kesehatan jika terhirup.

Adapun 0,28 persen atau 199.055 rumah tangga masih menggunakan atap berbahan dasar bambu, kayu, atau sirap.

Kemudian, 0,84 persen atau sekitar 592.978 rumah tangga menggunakan atap dari bahan lain seperti jerami, ijuk, hingga rumbia.

Baca Juga: Tanggal 15 Februari 2026 Jadi Penentu TPG Guru Sertifikasi, Ini Alur Validasi Data Info GTK yang Wajib Dipahami Agar Tunjangan Tidak Tertahan

Sebaran di Perkotaan dan Perdesaan
Dari sisi wilayah, penggunaan atap genteng di kawasan perkotaan mencapai 62,2 persen, sedangkan seng berada di angka 24,4 persen.

Di perdesaan, genteng digunakan oleh 52,5 persen rumah tangga, menunjukkan bahwa material ini juga cukup dominan di luar kota.

Sebaran Berdasarkan Provinsi
Penggunaan genteng sebagai atap rumah belum merata di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Komjen Purn Dharma Pongrekun Tegas: Stop MBG Sekarang, Program Ini Disebut Sarang Korupsi

Berdasarkan data BPS 2022 yang masih mengacu pada 34 provinsi, atap genteng tanah paling banyak digunakan di wilayah Jawa.

Secara persentase, Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat penggunaan genteng tertinggi sebesar 95,03 persen, disusul Jawa Timur 93,58 persen, dan Lampung 87,10 persen.

Baca Juga: Guinness Patrick

Sementara itu, penggunaan atap seng paling banyak ditemukan di Gorontalo dengan persentase 97,3 persen.

Berikutnya Sulawesi Utara 96,23 persen dan Sulawesi Barat 95,97 persen.

Gagasan gentengisasi nasional bukan sekadar soal estetika, tetapi juga tentang kenyamanan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga: Polemik Teras Cihampelas Berlanjut, Wali Kota Bandung Sebut Gagal Jadi Pusat UMKM dan Rawan Keamanan

Di balik atap-atap rumah, tersimpan harapan akan hunian yang lebih layak dan masa depan Indonesia yang semakin indah.***