POJOKSATU.ID – Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik sejumlah pengamat terhadap kebijakan pemerintah.

Ia menilai sebagian pandangan yang disampaikan tidak sepenuhnya dilandasi sikap objektif dan justru dapat menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Baca Juga: Makna Perintah “Iqra” pada Peristiwa Nuzulul Quran, Membaca Bukan Sekadar Teks

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa kritik dalam sistem demokrasi merupakan hal yang wajar dan bahkan diperlukan.

Namun demikian, menurutnya terdapat beberapa pengamat yang dinilai tidak mendukung keberhasilan pemerintah dalam menjalankan program-programnya.

“Ada pengamat yang memang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil karena berbagai motivasi. Menurut saya sikap seperti itu bukan sikap patriotik, melainkan sikap yang sempit,” kata Prabowo.

Baca Juga: 27 Sekolah Kedinasan Buka Pendaftaran untuk Lulusan SMK 2026, Kuliah Gratis dan Peluang Jadi CPNS

Menurut kepala negara, kritik yang muncul terkadang tidak hanya didorong oleh analisis akademis, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh faktor persaingan politik maupun kepentingan tertentu.

Ia menduga ada pihak yang merasa dirugikan ketika pemerintah mengambil langkah tegas, termasuk dalam upaya penertiban dan pemberantasan praktik korupsi.

“Mungkin karena merasa kalah, tidak punya kekuasaan, atau ada yang kehilangan rezeki. Terutama para maling dan koruptor yang tentu merasa rugi jika pemerintah melakukan penertiban,” ujarnya.

Baca Juga: Pemerintah Resmi Atur Penggunaan AI di Pendidikan, Tujuh Menteri Teken Pedoman Nasional, Begini Pedomannya

Prabowo juga menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil pemerintah didasarkan pada data dan informasi yang lengkap.

Ia menyebut dirinya menerima laporan intelijen secara rutin sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

“Saya punya data-data intelligence. Sekarang saya presidennya, jadi setiap hari saya mendapat laporan intel,” ungkapnya.

Meski demikian, Prabowo menegaskan pemerintah tetap mengedepankan pendekatan yang transparan kepada masyarakat.

Ia percaya publik pada akhirnya mampu menilai sendiri kinerja pemerintah jika informasi disampaikan secara terbuka dan didukung data yang jelas.

Baca Juga: Tiga Hari Sebelum Penyiraman Air Keras, Dua OTK Terpantau Awasi Asrama KontraS di Jakpus

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung pentingnya persatuan nasional setelah proses politik selesai.

Menurutnya, perbedaan pandangan selama pemilu adalah hal yang biasa, tetapi setelahnya semua pihak harus kembali bersatu demi kepentingan bangsa.

Ia mengibaratkan Indonesia sebagai kapal besar yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.

“Ini satu kapal. Kalau kapal ini oleng, semua juga ikut oleng. Setelah pertandingan politik selesai, kita harus bersatu menjaga kapal besar bernama Republik Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Motif Pembunuhan Rahmadani Siagian Diduga Didasari Pertengkaran Keduanya Saat Nginap di Kamar

Prabowo menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan global dan domestik yang berpotensi memengaruhi kondisi nasional.

Menurutnya, Indonesia telah beberapa kali melewati berbagai krisis besar di masa lalu. “Saya yakin Indonesia akan semakin kuat,” pungkasnya.

Karena itu, ia optimistis negara ini memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan.***