POJOKSATU.ID - Upaya pemerintah menekan harga obat di Indonesia memasuki babak baru. Sejumlah BUMN farmasi, termasuk Bio Farma dan Kimia Farma, tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan besar asal Rusia.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat produksi obat nasional sekaligus memangkas harga yang dinilai masih terlalu tinggi bagi masyarakat.
Penjajakan ini mengemuka setelah Grup Sistema, salah satu konglomerasi terbesar di Rusia, bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana.
Pertemuan tersebut membahas peluang investasi di sektor farmasi, kapal listrik, hingga teknologi kesehatan.
Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa perusahaan Rusia itu menyatakan minat kuat untuk masuk ke industri farmasi Indonesia.
Rosan menyebut kerja sama ini membuka peluang besar bagi BUMN farmasi untuk melakukan transfer teknologi, produksi bersama, hingga pengembangan obat-obatan strategis.
Menurutnya, kolaborasi ini berpotensi menekan harga obat yang selama ini menjadi keluhan masyarakat karena masih lebih mahal dibanding negara tetangga.
“Kalau kerja sama ini berjalan, harga obat bisa jauh lebih murah,” ujar Rosan.
Grup Sistema dikenal memiliki portofolio luas di industri farmasi Rusia, termasuk produksi obat paten dan pengembangan riset kesehatan.
Dengan kemampuan tersebut, Indonesia dinilai bisa mendapatkan akses teknologi yang lebih maju dan pasokan bahan baku obat yang lebih stabil.
Hal ini sejalan dengan fokus pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat dari negara lain.
BUMN farmasi sebelumnya telah berupaya memperluas kerja sama internasional.
Melalui holding farmasi, Bio Farma telah membuka peluang kolaborasi dalam forum bisnis Rusia–Indonesia 2025.
Baca Juga: TPG TW 3 Belum Cair! Apakah Sistem Pengelolaan Baru Justru Menambah Hambatan?
Sementara itu, Kimia Farma aktif menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan asing untuk memperkuat pasokan bahan baku dan meningkatkan kapasitas produksi obat nasional.
Rencana kerja sama dengan Rusia ini juga berkaitan dengan agenda besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan farmasi nasional.
Indonesia masih mengimpor lebih dari 90 persen bahan baku obat, sehingga harga obat sangat bergantung pada stabilitas global.
Baca Juga: Cek Daerah Yang Sudah Pakai SIMATA, BKN Minta ASN Segera Adaptasi Sebelum Wajib 2026
Dengan adanya produksi bersama, diharapkan rantai pasok menjadi lebih efisien dan harga obat lebih terjangkau bagi masyarakat.
Meski menjanjikan, kolaborasi ini tentu memiliki tantangan.
Integrasi standar produksi, regulasi obat, hingga kesiapan infrastruktur BUMN farmasi menjadi faktor penting yang harus dipastikan agar kerja sama berjalan optimal.
Selain itu, kerja sama dengan negara yang berada dalam pusaran geopolitik global seperti Rusia perlu dipertimbangkan secara matang.
Pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses penjajakan tetap mengutamakan kepentingan publik, terutama pasien yang membutuhkan obat dengan harga lebih terjangkau.
Jika kerja sama ini melangkah ke tahap investasi, Indonesia bisa memiliki posisi yang lebih kuat dalam industri farmasi internasional, sekaligus memberikan dampak langsung bagi masyarakat melalui harga obat yang lebih murah.***




