POJOKSATU.ID - Presiden Prabowo Subianto akhirnya turun tangan langsung menangani persoalan utang proyek kereta cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh.

Langkah cepat ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan gaya kepemimpinan baru di awal masa pemerintahannya  tegas, langsung, dan tanpa basa-basi.

Instruksi tegas itu disampaikan kepada sejumlah pejabat penting, di antaranya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan pimpinan PT Danantara Nasional, Rosan Roeslani.

Baca Juga: Polres Cirebon Kota Hadirkan Layanan SKCK Full Online Lewat Polri Super APP

Mereka diminta segera mencari formula penyelesaian utang proyek yang nilainya ditaksir mencapai Rp120 triliun.

Pemerintah ingin memastikan proyek strategis nasional itu tetap berjalan tanpa mengganggu stabilitas fiskal negara.

Langkah ini menjadi titik balik menarik Sebab proyek Whoosh selama ini disebut-sebut sebagai salah satu “warisan besar”.

Atau Peninggalan dari pemerintahan Jokowi sebelumnya yang meninggalkan beban keuangan cukup berat.

Baca Juga: Ternyata ini Penyebab Perbedaan Data Keuangan Pemda dan Pusat

Meski menjadi simbol kemajuan transportasi Indonesia, proyek ini tak lepas dari berbagai persoalan.

pembengkakan biaya (cost overrun), keterlambatan operasional, hingga proyeksi pendapatan yang belum sebanding dengan nilai investasi.

Prabowo disebut ingin menata ulang pendekatan pemerintah terhadap proyek besar seperti Whoosh.

Ia ingin memastikan bahwa setiap proyek strategis tidak hanya megah di atas kertas, tetapi juga efisien, transparan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Presiden menekankan agar penyelesaian utang dilakukan secara hati-hati, jangan sampai menimbulkan gejolak di sektor keuangan,” ujar salah satu sumber di lingkaran pemerintahan.

 

Sinyal Baru Kepemimpinan

Pengamat kebijakan publik menilai langkah Prabowo ini sebagai sinyal kuat.

Di awal pemerintahannya, ia menunjukkan bahwa dirinya tidak akan membiarkan persoalan lama berlarut-larut.

Baca Juga: Pemakzulan Bupati Pati Gagal, Publik Meradang sebut DPRD tak Punya Nyali! Sadewo Pilih Evaluasi Anak Buahnya

Pendekatan langsung semacam ini dianggap sebagai gaya khas Prabowo, memotong birokrasi dan ingin memastikan hasil nyata.

“Prabowo ingin menunjukkan bahwa pemerintahannya berbeda cepat ambil keputusan, fokus ke solusi,” kata analis politik dari UGM, Wahyudi Kumorotomo.

Dari sisi ekonomi, kebijakan ini menimbulkan dua sisi pandangan.

Di satu sisi, publik mengapresiasi ketegasan Prabowo yang berani mengambil alih isu besar dengan beban keuangan tinggi.

Baca Juga: Dimumkan Tanggal 1 November 2025 Sore Hari? Begini Langkah untuk Cek Pengumuman Kelulusan PPG Guru Tertentu Tahap 2!

Namun di sisi lain, para ekonom mengingatkan agar restrukturisasi utang dilakukan secara transparan dan tidak membebani APBN.

Pemerintah disebut sedang mengkaji opsi perpanjangan tenor pinjaman dan skema pembayaran bertahap, sambil menjaga agar proyek tetap produktif.

Meski begitu, langkah ini juga mengandung risiko politik.

Isu utang Whoosh bisa dengan mudah dijadikan alat kritik terhadap pemerintahan sebelumnya maupun sekarang.

Namun Prabowo tampak tak gentar. Ia justru memilih menghadapi isu itu secara terbuka.

“Rakyat perlu tahu bahwa pemerintah hadir dan bekerja, bukan saling menyalahkan,” ujar salah satu staf presiden.

 

Menegaskan Komitmen Prabowo

Gaya kepemimpinan seperti ini sekaligus mengirimkan pesan bahwa Prabowo ingin membangun citra sebagai presiden yang tidak hanya pandai memberi instruksi.

Tapi juga turun langsung mengawal kebijakan.

Dalam konteks politik nasional, langkah ini memperkuat persepsi bahwa Prabowo berupaya menjaga kesinambungan pembangunan, namun dengan pendekatan baru yang lebih realistis dan akuntabel.

Baca Juga: Masa Depan Baru, Guru Melek AI, Kurikulum Adaptif dan Siswa Siap Hadapi Dunia Kerja Digital, Mampukah Guru Bawa Beban Baru?

Di sisi lain, masyarakat kini menunggu langkah konkret selanjutnya.

Bagaimana pemerintah memastikan pembayaran utang tidak menggerus anggaran sosial?

Bagaimana transparansi dijaga agar publik tahu arah penggunaan dana publik?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting di tengah tuntutan agar proyek besar seperti Whoosh tidak hanya jadi simbol kemajuan, tapi juga keberlanjutan ekonomi.

Baca Juga: Bersih-bersih Citarum: Warga dan Pemerintah Angkut Bertruk-truk Sampah, Sungai Kembali Mengalir

Langkah Prabowo bisa menjadi momentum untuk menata ulang tata kelola proyek strategis nasional.

Jika berhasil, gaya kepemimpinan langsung dan solutif ini bisa menjadi fondasi baru pemerintahan.

Namun jika tidak hati-hati, isu Whoosh justru berpotensi menjadi batu sandungan di awal periode kepemimpinan.

Untuk saat ini, publik menilai langkah cepat Prabowo sebagai keputusan yang berani.

Dari proyek Whoosh, publik bisa melihat bahwa Prabowo ingin mengubah wajah kebijakan publik dari yang reaktif menjadi proaktif, dari yang rumit menjadi pasti.***