POJOKSATU.ID - Di tengah hiruk pikuk kehidupan, kisah pilu datang dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Seorang ibu yang akrab disapa Bu Sagam terlihat memunguti sisa-sisa timun yang dibuang oleh warga.
Bersama anak-anaknya, ia menjalani hidup dalam keterbatasan yang jauh dari kata layak.
Baca Juga: KNKT Pastikan Pesawat ATR Milik IAT Tabrak Lereng Gunung Bulusaraung, Tapi Bukan Disengaja Pilot
Apa yang dilakukan Bu Sagam bukanlah sebuah pilihan, melainkan bentuk perjuangan untuk tetap bertahan hidup.
Setiap potongan timun yang ia kumpulkan menjadi harapan agar dapur keluarganya tetap mengepul, meski hanya sekadar mengganjal perut.
Dengan langkah perlahan dan wajah penuh kelelahan, Bu Sagam mengais sisa hasil pangan yang tak lagi dimanfaatkan.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Diskon 50 Persen Iuran JKK–JKM, Ojol Bisa Dapat Cashback GoPay
Ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya kerap mengundang rasa iba, namun baginya, harga diri harus dikalahkan demi memastikan anak-anaknya tidak kelaparan.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat Bu Sagam harus menjalani hari-hari penuh perjuangan.
Tanpa pekerjaan tetap dan penghasilan yang memadai, ia mengandalkan apa pun yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Baca Juga: Pengusulan Bansos 2026 Wajib Sertakan Struk Listrik 3 Bulan, Ini Penjelasannya
Anak-anaknya pun tumbuh dalam keterbatasan. Mereka ikut menyaksikan perjuangan sang ibu, belajar tentang kerasnya hidup sejak usia dini.
Meski demikian, Bu Sagam berusaha tetap tegar dan memberikan contoh ketabahan kepada buah hatinya.
Kisah Bu Sagam mencerminkan potret kemiskinan yang masih nyata di sejumlah daerah Indonesia.
Baca Juga: TNI dan BPBD Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Karangligar Karawang
Di balik program bantuan sosial dan janji kesejahteraan, masih ada warga yang harus berjuang sendiri demi sekadar bertahan hidup.
Keterbatasan akses pekerjaan, minimnya pendapatan, serta kondisi sosial ekonomi yang belum merata menjadi tantangan besar bagi masyarakat seperti Bu Sagam.
Dalam situasi ini, solidaritas dan kepedulian lingkungan sekitar menjadi harapan yang sangat berarti.
Baca Juga: Sosok Pilot dan Kopilot Pesawat ATR Milik IAT yang Jatuh di Gunung Bulusaraung, Berkiprah 38 Tahun
Apa yang dialami Bu Sagam juga menjadi pengingat bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik.
Di baliknya, ada manusia dengan cerita, perjuangan, dan air mata yang jarang terdengar. Seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya demi anak-anaknya.
Hingga kini, Bu Sagam tetap menjalani hidup dengan kesederhanaan.
Ia berharap suatu hari keadaan akan berubah, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang layak, dan mereka tak lagi harus bergantung pada sisa-sisa makanan.
Kisah ini menjadi cermin bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar.
Sebab, di sudut-sudut negeri, masih ada ibu-ibu tangguh seperti Bu Sagam yang berjuang dalam senyap demi masa depan keluarganya.***




