POJOSATU.ID - Setelah melalui proses forensik dan uji DNA, Polri secara resmi menetapkan.

Bahwa dua kerangka manusia yang ditemukan di lantai dua gedung Astra Credit Companies (ACC), Kwitang, Jakarta Pusat.

Adalah korban yang paling dicari keluarga yaitu Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputra Dewo.

Pengumuman dilakukan dalam konferensi pers yang digelar di RS Polri, Jakarta Timur, Jumat 7 November 2025.

Baca Juga: Panduan Praktis Pendaftaran PPG Daljab Kemenag 2025 di EMIS GTK, Step by Step Anti Gagal Verifikasi.

Gedung ACC terbakar pada 29 Agustus 2025, dan dua kerangka manusia ditemukan pada 30 Oktober di lokasi yang sama.

Tim forensik kemudian mengambil sampel DNA serta melakukan pencocokan data gigi dan tulang korban dengan antemortem.

Data keluarga yang beberapa waktu lalu dilaporkan hilang melalui LSM komprehensif.

Brigjen Sumy mengatan, nomor posmortem 0080 cocok dengan antemortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputra.

Baca Juga: Inilah 10 Jurusan Ini Punya Peluang Besar Lolos CPNS 2026, Apakah Jurusanmu Termasuk?

"DewoNomor posmortem 0081 cocok dengan antemortem 001 sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid,” ujar Brigjen Sumy, dikutip detik, 5 November 2025.

Saat nama kedua korban disebut satu persatu, suasana haru menyelimuti ruangan.

Kakak kandung Farhan, Abraham, tak kuasa menahan tangis saat adiknya disebut.

Sementara pihak keluarga Reno juga menyatakan syok dan kesedihan mendalam karena pencarian panjang yang akhirnya menghasilkan duka kepastian.

Dengan identifikasi ini, jumlah korban yang dipastikan tewas dalam rangkaian kerusuhan dan kebakaran di kawasan Kwitang meningkat.

Komnas HAM menyebut bahwa temuan ini menjadi bagian penting dari pengumpulan fakta dan investigasi terkait kerusuhan Agustus.

Polri juga menyampaikan bahwa tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul yang jelas pada kerangka.

Temuan menunjukkan korban mungkin meninggal akibat kebakaran atau kondisi setelah kejadian.

Baca Juga: Target Piala Dunia 2030, tapi Liga Masih Amburadul?

Meskipun proses identifikasi korban akhirnya rampung, sejumlah pertanyaan penting masih belum terjawab secara tuntas.

Publik mempertanyakan mengapa proses identifikasi membutuhkan waktu lebih dari dua bulan sejak penemuan kerangka manusia di lokasi kejadian.

Selain itu, muncul tanda tanya mengenai prosedur pengamanan dan evakuasi yang membuat dua korban tersebut sempat tertinggal saat peristiwa kebakaran terjadi.

Tidak kalah penting, keluarga korban juga dikabarkan belum memperoleh akses penuh.

Baca Juga: Uang Rp 1.000 Jadi Rp 1? Ini Alasan Pemerintah Siapkan Redenominasi Rupiah Mulai 2026

Terhadap hasil forensik dan laporan penyelidikan yang dinilai harus disampaikan secara terbuka.

Berbagai pihak, termasuk pengamat hukum dan lembaga hak asasi manusia, mendesak agar aparat terkait memberikan transparansi.

Yang lebih luas dalam proses penanganan kasus ini.

Kejelasan informasi dianggap penting bukan hanya demi kepastian bagi keluarga korban.

Tetapi juga untuk memastikan akuntabilitas dan kepercayaan publik terhadap kinerja lembaga penegak hukum.

Pengumuman resmi Polri bahwa kerangka yang ditemukan di Gedung ACC Kwitang adalah Farhan dan Reno membawa sedikit kelegaan bagi keluarga korban.

Tapi sekaligus menimbulkan pertanyaan lebih besar tentang keselamatan warga.

Saat demonstrasi, tata kelola evakuasi, serta tanggung jawab aparat dan lembaga terkait.

Bagi banyak pihak, ini bukan sekadar penutupan sebuah kasus individu, melainkan ujian penting bagi mekanisme perlindungan dan keadilan di negara demokrasi.***