POJOKSULSEL.com, PINRANG - Kasus dugaan korupsi dana ratusan juta untuk pengadaan buku Amaliah Ramadan tahun 2023, di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pinrang kini tengah menjadi atensi Polres Pinrang.
Proyek pengadaan buku itu disebut-sebut menjadi sarana oknum pejabat di kantor tersebut untuk meraup keuntungan pribadi. Sebelumnya menuai sorotan dari masyarakat dan penggiat anti korupsi di Bumi Lasinrang.
"Kami sedang lidik untuk kasus tersebut," tulis Kanit Tipikor Satreskrim Polres Pinrang, IPTU Fitri Mattikka melalui pesan WhatsApp, Senin (22/5/2023).
Sebagai tindaklanjut, kata dia, polisi tengah mengumpulkan bahan keterangan dan dokumen terkait kasus itu dari pihak terkait.
"Saat ini masih tahap pengumpulan dokumen," kata dia.
Di samping itu, lanjut dia, sudah ada sejumlah pihak yang dipanggil untuk dimintai klarifikasi.
"Sudah ada beberapa yang kami klarifikasi juga," ucap dia.
Diketahui, dana buku tersebut bersumber dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (Bos) sebesar Rp500 Juta lebih dikelola oleh Dinas Pendidikan dan masing-masing sekolah.
Dana sebesar itu untuk pengadaann 35 ribu exsemplar. Sumber menyebut harga per buku Rp15 ribu.
Sementara Harga umumnya buku jenis serupa dilansir pada sejumlah toko online berkisar hanya Rp2.500 hingga Rp3.500. Terjadi selisih harga sekitar Rp10 ribu.
Pengadaan buku isian murid untuk tingkat SD dan SMP tersebut ramai disoroti karena diduga diatur oleh orang dekat pejabat.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Disdik Pinrang, Muktar, kepada wartawan membantah perihal kasus yang disebut-sebut melibatkan dirinya.
Muktar berdalih jika harga di toko online yang dijadikan dasar itu berbeda dan tidak bisa dijadikan acuan.
"Itu harga 'shopee' pak. Coba bandingkan harga daerah lain," dalih dia.
Muktar beralasan bahwa semua barang jika menggunakan standar harga onlien, pasti murah karena tidak bisa dijamin ketersediaan barangnya.
"Harga Shopee itu tidak bisa jadi standar untuk membuat HPS, coba liat harga barang disana ada yang murah nya tidak masuk akal tapi begitu pesan barang belum tentu datang. Pajak belum masuk ongkir juga belum banyak barang yang bukan aslinya dan biasa tidak sesuai dengan gambar," kata dia. (haerul amran/pojoksulsel)



