POJOKSATU.id, ACEH— Kasus tewasnya dokter umum Puskesmas, dokter Shanti Hastuti (44) Sabtu (21/3) lalu belum menemukan titik terang. Polisi menyebut mereka sedang mengejar pelaku.

Jasad dokter umum yang bertugas di Puskesmas Uring, Kecamatan Pining ini ditemukan terlentang di kamar lantai dua rumahnya dalam kondisi tangan terikat ke belakang dan mulut disumpal.

Peristiwa tragis ini terjadi di Desa Raklunung, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Penemuan jenazah dokter Shanti bermula dari kedatangan sang adik, Norman, Sabtu pagi sekitar pukul 09.30 WIB yang ingin berlebaran ke rumah kakaknya.

Baca Juga: Ketika Kejari Tercoreng Akibat Kasi Pidsus Di Jemput Kejagung, Pertaruhan Harga Diri Di Mata Publik Usut Tuntas Kasus Yang Belum Selesai

Namun dia justru menemukan kakaknya dalam kondisi mengenaskan di kamar di rumah berlantai dua itu.

Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo menegaskan, langkah strategis telah dilakukan mulai dari olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan saksi-saksi, hingga pengumpulan barang bukti yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Selain itu, tim juga tengah melakukan pengejaran terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini.

Polres Gayo Lues dibantu tim Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh, juga terus bergerak cepat dalam mengungkap kasus pembunuhan terhadap dr Shanti Astuti yang menggemparkan masyarakat setempat.

Penegasan ini disampaikan Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo, saat ditemui awak media, Senin (23/3/2026).

Baca Juga: Arus Kendaraan di Puncak Bogor Mengalami Kenaikan 50 Persen, Rekayasa Lalin Diterapkan Mulai Pukul 6.30

Hyrowo kembali menegaskan bahwa, pihaknya berkomitmen untuk segera mengungkap pelaku di balik peristiwa tersebut.

Proses penyelidikan saat ini tengah berjalan intensif dengan melibatkan tim gabungan dari Polres Gayo Lues dan Jatanras Ditreskrimum Polda Aceh.

“Kami telah menurunkan tim terbaik untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh. Insya Allah, dalam waktu 2x24 jam ke depan sejak hari ini, kasus ini akan segera terungkap,” ujar AKBP Hyrowo.

Kehadiran tim Jatanras Ditreskrimum Polda Aceh sebut dia, diharapkan dapat memperkuat upaya pengungkapan kasus, mengingat pengalaman dan keahlian mereka dalam menangani tindak pidana berat, termasuk kasus pembunuhan.

AKBP Hyrowo mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum tentu benar.

Dia meminta dukungan serta kerja sama dari masyarakat dalam memberikan informasi yang dapat membantu proses penyelidikan.

“Kami mengharapkan peran serta masyarakat untuk memberikan informasi apabila mengetahui hal-hal yang mencurigakan. Kami menjamin keamanan dan kerahasiaan identitas pelapor,” jelasnya.

Meninggal Tujuh Hari

Hasil pemeriksaan awal polisi mengungkap fakta yang mengejutkan. Korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar lima hingga tujuh hari sebelum ditemukan.

Kondisi jasad sudah mulai membusuk saat pertama kali diperiksa oleh tenaga medis. Lebih jauh lagi, ditemukan tanda-tanda kuat adanya tindak kekerasan.

Mulut korban disumpal kain menyerupai jilbab hitam. Kedua tangannya terikat ke belakang menggunakan kabel.

Di bagian pinggang kiri, terdapat luka yang diduga akibat benda tajam. Semua itu mengarah pada dugaan pembunuhan. ***