POJOKSATU.id - Video azzan Ganjar Pranowo menuai berbagai respon. Bukan saja sejumlah tokoh dan partai politik tapi juga masyrakat.

Seperti biasa, pro dan kontra pun bermunculan menanggapi video azan yang menampilkan Ganjar Pranowo sebagai modelnya itu.

Bahkan ada yang menyebut bahwa video azan Ganjar Pranowo itu adalah bentuk politik identitas.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Unggul di Pemilih Usia 40 ke Atas, tapi Gen Z Tetap Setia Dukung Prabowo Subianto Sejak Pilpres

Padahal selama ini diketahui, politik identitas yang terjadi di Pilpres 2019 lalu membuat masyarakat menjadi terbelah.

Lalu, benarkah video azan Ganjar Pranowo yang tayang di sebuah televisi itu adalah bentuk politik identitas?

Dalam video azan tersebut memperlihatkan Ganjar Pranowo yang mengenakan kemeja putih dan peci hitam.

Baca Juga: PDI Perjuangan Targetkan 20 Juta Suara di Jawa Barat untuk Kemenangan Ganjar Pranowo

Carpres yang diusung PDIP dan PPP itu terlihat mempersilahkan para jamaah agar segera memasuki masjid.

Adegan kemudian dilanjutkan dengan mantan Gubernur Jawa Tengah tersebut yang mengabil wudhu.

Selanjutnya, Ganjar ikut dalam barisan menjadi makmum untuk menunaikan salat di sebuah masjid.

Baca Juga: Staf Konser BTS di Arab Saudi Muncul, Bela RM BTS dan Ungkap Fakta Mengejutkan

Aktivis Kolaborasi Warga Jakarta, Andi Sinulingga, berpendapat, penempatan Ganjar Pranowo sebagai model untuk video azan jelas mengarah pada kampanye terselubung.

Selain itu, Andi juga menyebut bahwa video azan itu sudah bisa disebut politisasi agama.

Ia menyebut bahwa video itu mengarahkan Ganjar yang dicitrakan sebagai sosok yang agamis.

Padahal, lanjut Andi, pemerintah melalui Kementerian Agama kerap kali mengingatkan masyarakat atau siapapun agar tidak melakukan politik identitas.

Baca Juga: Cak Imin Cawapres Anies Baswedan is Nothing, Suara NU di Jatim Lari ke Prabowo, Anies cuma Unggul di DKI

Bahkan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, juga secara tegas meminta masyarakat jangan memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan.

"Mungkin beliau tak dengar arahan Menag itu," sindir Andi Sinulingga.

Hal senada juga diutarakan Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi.

Baca Juga: Dikenalkan dengan Gen Halilintar, Reza Artamevia Ogah Campuri Hubungan Aaliyah dan Thariq : Itu Urusan Remaja

"Kalau dilihat dari azan yang disiarkan di RCTI, di mana GP (Ganjar Pranowo) dimunculkan itu jelas kampanye tersembunyi," kata dia.

Yang harus dipertegas adalah bahwa KPU belum memulai waktu kampanye. Di sisi lain Ganjar notabene adalah seorang bakal calon presiden.

"Jadi azan dengan munculkan wudhu dan salat GP (Ganjar Pranowo) itu sebagai kampanye terselubung. Ini mempolitisasi agama," sambungnya.

Baca Juga: Sinopsis Film '2 Guns' di TransTV, Denzel Washington dan Mark Wahlberg Melawan Kartel Narkoba

Terpisah, Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menyebut video tersebut bertolak belakang dengan karakter pendukung Ganjar yang didominasi kaum nasionalis.

"Maka dari itu Ganjar sedang ingin menggaet pemilih muslim dengan menampilkan di azan dalam TV swasta," kata dia.

Saiful menilai, hal ini justru menunjukkan kegamangan PDIP untuk meraih pemilih muslim yang merupakan mayoritas.

"Tapi dengan tanpa memikirkan efek negatif yang ditimbulkannya," ujar Saiful dikutip Pojoksatu dari RMOL, Senin (11/9/2023).

Baca Juga: Serunya Petualangan Luffy! Nonton One Piece 1075 Sub Indo Legal, Sinopsis dan Link Streaming!

Akademisi Universitas Sahid Jakarta ini menganggap, cara kampanye Ganjar tersebut adalah salah satu bentuk blunder.

Akibatnya, publik jadi tidak lagi simpatik kepada Ganjar Pranowo.

Kalaupun memang ingin memunculkan sisi keagaman, bisa dilakukan dengan menghadiri atau terlibat dalam acara atau kegiatan agama tertentu saja.

Baca Juga: Akui Kenalkan Aaliyah Massaid ke Thariq Halilintar, Aurel Hermansyah : Doain yang Terbaik

"Tidak mempertontonkan seolah sedang panik dengan menggunakan panggung azan sebagai bagian dari cara untuk meraih simpati," tutur Saiful.

Pendapat berbeda disampaikan Juru Bicara PKS, Ahmad Mabruri, yang malah sama sekali tidak mempermasalahkan kemunculkan Ganjar dalam vide azan.

Menurutnya, kemunculan Ganjar dalam video tersebut sudah menunjukkan sisi religiusitas Ganjar Pranowo.

Baca Juga: Daftar Jurusan S1 yang Dibutuhkan untuk Formasi CPNS 2023 Mahkamah Agung Lengkap Link Pendaftaran Resmi

"Salah? Ya enggaklah. Menurut saya justru keren banget," kata Ahmad, Senin (11/9/2023).

Mabruri juga tak sependapat jika video azan Ganjar itu disebut sebagai politik identitas.

Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk tak lagi memperebatkan video tersebut.

Sebaliknya, PKS malah mendorong Prabowo Subianto dan Anies Baswedan untuk melakukan hal serupa.

Baca Juga: Bocah 6 Tahun di Pondok Aren Tewas Kesetrum Etalase Konter Pulsa, Pegang-pegang Langsung Jatuh

"Saya bayangkan ada scene Mas Anies sedang mengimami salat Maghrib berjamaah di Masjid Istiqlal," kata Ahmad Mabruri.

Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah, KH Cholil Nafis menyatakan, indentitas politik dan politik identitas adalah 2 hal yang berbeda.

Menurutnya, indentitas politik merupakan keniscayaan yang tidak bisa lepas dari berbagai kegitan sehari-hari seperti munculnya salah satu capres dalam video azan.

Baca Juga: Bocah 6 Tahun di Pondok Aren Tewas Kesetrum Etalase Konter Pulsa, Pegang-pegang Langsung Jatuh

Sementara politik identitas adalah tindakan yang selalu mengatasnamakan agama tertentu untuk sebuah tujuan tertentu pula.

Politik identitas inilah yang jelas-jelas dilarang dan dianggap melanggar aturan dan norma agama.

"Yang tidak boleh itu mengatasnamakan agamanya lalu melarang orang lain menunjukan kesalehan beragamanya,"

Baca Juga: Indentitas Anggota TNI Lawan Arah di Tol BMZ Lulusan Akmil? Ada Instgram juga, Apa Alasan Lawan Arah?

"Itu bedanya identitas politik keniscayaan sedangkan politik identitas dilarang," ujar Kiai Cholil Nafis dalam akun media sosialnya.

Jadi, bagaimana menurut Anda? Apakah video azan Ganjar Pranowo politik identitas, identitas politik atau kampanye terselubung?***