POJOKSULSEL, MAMUJU - Pj Gubernur Sulbar Prof Zudan Arif Fakrulloh menargetkan jumlah anak tidak sekolah dapat diturunkan hingga 50 persen pada tahun 2023.
Ia menegaskan, dukungan semua pihak diperlukan untuk menurunkan anak tidak sekolah di Sulbar. Sebab, anak tidak sekolah bukan hanya ditemuai pada usia tingkat SMA/SMK yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
Melainkan, anak tidak sekolah ada pada usia tingkat sekolah dasar atau SD dan tingkat sekolah menengah pertama atau SMP, yang masuk dalam kewenangan pemerintah kabupaten.
"Kalau bisa kita dorong sampai dengan di bulan Desember itu bisa 50 persen masuk sekolah itu sudah luar biasa," kata Zudan, Rabu (5/7/2023) malam.
Ia mengatakan, untuk menuntaskan masalah anak tidak sekolah diperlukan keberanian untuk merevolusi anggaran pendapatan dan belanja daerah atau APBD. Kata Zudan, sudah saatnya mengarahkan setiap program dan penganggaran dalam APBD.
"Pendekatan yang dibutuhkan adalah affirmative policy dan affirmative action," kata dia.
Zudan mencontohkan, salah satu masalah yang sering membuat anak tidak sekolah karena sulitnya akses. Maka perlu disediakan angkutan umum di sekolah.
Begitu juga dalam perbaikan kualitas guru melalui pemberian beasiswa untuk S1 S2 dan S3, serta pelibatan 29.000 ASN mengintervensi 23.000 anak stunting di Sulbar, 48.000 anak tidak sekolah, serta terlibat dalam mengedukasi masyarakat tidak melakukan kawin muda.
"Jadi menyusun APBDnya diarahkan untuk penguatan IPM. Kita sentuh dulu manusianya," kata Sekretaris BNPP itu.
(fadli/pojoksulsel)



