POJOKSATU.id, JAKARTA-- Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai pidato Ketua DPR RI Puan Maharani dalam sidang tahunan MPR 2025 disinyalir menyindir Wapres Gibran Rakabuming Raka.

Dalam pidatonya Puan menyebutkan bahwa demokrasi dipengaruhi oleh garis tangan, campur tangan, dan buah tangan.

Dan Hensat atau Hendri Satrio menafsirkan garis tangan yang disinggung Puan sebagai faktor keberuntungan yang berperan besar dalam karir politik Gibran.

"Kalau menurut saya ada dua lagi, tanda tangan dan tepuk tangan," kata analis komunikasi politik Hendri Satrio, Minggu, 17 Agustus 2025.

Baca Juga: Inilah Perbedaan Teks Proklamasi Tulisan Tangan Soekarno dan Ketikan Sayuti Melik, Lengkap dengan Sejarahnya

Dia melanjutkan, pernyataan ini bisa jadi merujuk pada karir politik Gibran yang melejit.

Hensat menafsirkan garis tangan yang disinggung Puan sebagai faktor keberuntungan yang berperan besar dalam karir politik Gibran.

"Dalam karir politik ya, seseorang itu pasti keliatan garis tangannya atau disiapkan, dan biasanya itu harus jadi, nah makanya ada campur tangan lanjutannya, campur tangan pemangku jabatan misalnya seperti rekomendasi," jelas Hensat.

Founder Lembaga Survei Kedai KOPI itu melanjutkan, adapun istilah buah tangan diartikan sebagai oleh-oleh atau pemberian yang dapat menyenangkan konstituen atau pengusungnya, namun bukan dalam konteks suap.

Baca Juga: SIMULASI Hitungan Guru per Orang di Anggaran Pendidikan 2026 Sebesar Rp 757,8 Triliun, BESAR MANA Dibandingkan MBG per Siswa?

"Ada bansos dan semacam gitu. Setelah itu dia terpilih kan, tanda tangan. Terpilih," ungkap Hensat.

Puan tidak hanya menyinggung garis tangan atau campur tangan, tetapi juga pentingnya dukungan publik yang direpresentasikan sebagai tepuk tangan dari rakyat. Hal ini mengacu pada kalimat Puan yang menyebut "demokrasi tidak berhenti di bilik suara."

"Siapa yang tepuk tangan? Rakyat, tapi juga benar kata mbak Puan, demokrasi tak berhenti di bilik suara saja, jadi rakyat harus tetap kritis," kata Hendri Satrio.***