POJOKSATU.id - Persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 masih sulit dipetakan.

Perubahan mekanisme pemilihan dalam Muktamar Ke-35 NU justru membuat peluang setiap kandidat dinilai masih terbuka.

Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, H.M. Zahrul Azhar As'ad atau Gus Hans, mengatakan belum ada calon yang bisa dengan yakin mengklaim dirinya sebagai kandidat terkuat.

Menurutnya, komunikasi antara para kandidat dan kiai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) masih berjalan.

Baca Juga: UU Perampasan Aset Ditarget Rampung 15 Desember, KBPP Polri Minta DPR Buktikan Komitmennya

Bahkan, komunikasi menjelang proses pemilihan disebut bisa menjadi faktor penting dalam menentukan hasil akhir.

"Semua masih terbuka. Belum bisa mengklaim siapa yang paling kuat. Semuanya tergantung komunikasi last minute kepada para kiai yang ada di AHWA," ujar Gus Hans dalam keterangannya di Jombang, Minggu 30 Agustus 2026.

Dengan kondisi tersebut, peta dukungan masih sangat mungkin berubah.

Mekanisme Pemilihan Berubah

Dinamika itu semakin menarik setelah mayoritas muktamirin menyetujui perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.

Baca Juga: 35 Pantun Maulid Nabi Muhammad SAW, dari Pembuka hingga Penutup

Dari total 552 muktamirin, sebanyak 401 suara mendukung perubahan mekanisme.

Sebanyak 150 suara memilih agar sistem lama tetap dipertahankan, sedangkan satu suara tercatat abstain atau tidak sah.

Artinya, sekitar 73 persen peserta mendukung perubahan tersebut.

Bagi Gus Hans, perubahan sistem pemilihan harus tetap diikuti dengan proses yang objektif.

Para kiai AHWA diharapkan dapat menilai para kandidat berdasarkan rekam jejak dan kapasitas masing-masing.

Ia berharap keputusan tersebut tidak lagi dibebani persoalan yang muncul dalam dinamika sebelumnya.

"Sehingga para kiai bisa menentukan pilihan tanpa ada lagi sisa residu dari konflik yang kemarin," ucap Gus Hans.

Dugaan Pengondisian Ikut Muncul

Di balik perubahan mekanisme tersebut, Gus Hans juga melihat adanya kemungkinan pengondisian oleh pihak tertentu.

Ia mengingatkan, perubahan sistem pemilihan tidak otomatis menghilangkan potensi persoalan seperti politik uang ataupun intimidasi.

Namun, Gus Hans menegaskan bahwa hal tersebut masih sebatas dugaan.

"Proses ini kan kita bicara dugaan. Dugaan itu bisa saja akan terjadi atau sudah terjadi," katanya.

Ia bahkan membuka kemungkinan bahwa perubahan sistem tersebut telah dipengaruhi kepentingan pihak yang merasa memiliki peluang besar untuk menang.

"Dengan perubahan sistem ini, bisa saja bahwa ini juga hasil dari pengondisian yang tidak gratis dari pihak yang menganggap dirinya akan memiliki potensi menang untuk menggunakan sistem yang ini," tuturnya.

Meski demikian, Gus Hans memilih berhati-hati. Ia tidak langsung menyebut dinamika tersebut sebagai manipulasi.

"Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah bagian dari manipulasi, tidak, tapi lebih tepatnya adalah hasil dari sebuah pengondisian," kata Gus Hans.

AHWA Jadi Penentu

Arah persaingan akan sangat bergantung pada keputusan para kiai yang memiliki kewenangan dalam mekanisme pemilihan tersebut.

Karena itu, Gus Hans berharap AHWA dapat menentukan pilihan secara independen dan menggunakan pertimbangan hati nurani.

"Saya berharap AHWA benar-benar bisa memilih tanpa ada intervensi dan menggunakan batin nurani yang dimiliki," ujar Gus Hans.

Kini, semua mata tertuju pada proses pemilihan Ketua Umum PBNU.

Peta kekuatan yang terlihat hari ini belum tentu sama ketika keputusan akhir dibuat.***