POJOKSATU.id, JAKARTA— Budayawan Erros Djarot memberikan pesan dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia (RI). Erros mengkritik Presiden Prabowo.
Pesan ini disampaikan oleh pria berkumis ini kepada rakyat Indonesia. Erros dikenal sebagai sutradara, jurnalis dan politisi kawan dekat Megawati Soekarnoputri ini.
“Sebentar lagi kita merayakan 81 tahun umur kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi seharusnya di umur 81 tahun itu sudah lebih baik, bijak, banyak pengetahuan, matanglah, banyak makan asam garam yang cukup,” katanya dalam video yang beredar, Jumat (14/8).
Menurut Erros, makin hari tampaknya makin jauh dari yang diharapkan tersebut.
“Ini tanggung jawab kita semua ya,” katanya.
Baca Juga: Pidato Kenegaraan Prabowo, Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, MBG Lanjut, Berantas Birokrat Koruptor
Banyak yang mengatakan pidato Presiden Prabowo luar biasa. Tapi menurut dia, pidato saja tidak ada gunanya tanpa perbuatan.
“Kita mulai dari diri kita sendiri dulu. Kita ini bernegara, kita sebenarnya, rakyat yang paling tinggi. Kita terlalu memberi ruang yang berlebihan walaupun memang dalam uud 45 itu memberi kewenangan yang sangat besar bagi seorang presiden,” ujarnya.
“Tapi jangan salah, boleh. Cuma ingat ya Presiden itu seperti sedang kita kasih mobil. BPKB di tangan kita. Dia hanya kita serahkan. Jadi gak boleh, naik mobil sembarangan,” jelasnya.
“Harus dikasih seint, harus ada tanda, ada aturan mainnya. Gak bisa baru saja jalan, langsung gigi empat. Nah Ini yang sebetulnya menjadi tugas kita semua,” ujarnya.
Baca Juga: Targetkan PAD Rp23 Miliar, DPRD Jember Dukung Penerapan Kembali Parkir Berlangganan
Dia melihat selama dua tahun ini, percuma saja. Dan seharusnya bangsa Indonesia belajar dari Presiden Jokowi atau presiden sebelumnya. Contoh kasusnya di Morowali dan pembangunan IKN.
“Sepertinya kita tidak punya presiden, tapi punya raja, rakyat dijadikan seperti pengabdi. Dari pendekatan kebudayaan, kenapa menteri itu dipanggil pembantu presiden, berarti kacung atau babu ya,” jelasnya.
“Jangan kita asyik merayakan kemerdekaan, tapi makna kemerdekaan itu tidak kita pahami. Kalimat merdeka, merdeka itu harus dipahami rakyat Indonesia,” tegasnya.
“Kita ini bosnya presiden, bukan terbalik ya,” ujarnya.
“Biarinlah presidennya seperti itu, tidak harus seperti itu ya. Saya menganggap kita harus melakukan koreksi banyak hal. Bagaimana budaya kekuasaan, budaya berbangsa, bernegara, berpolitik, harus kita kritisi,” jelasnya.
Menurutnya, kritik kepada Presiden Prabowo seperti tidak ada hasilnya atau tidak mempan. Buktinya MBG jalan terus. Apapun jalan terus.
“Kenapa? karena negara adalah saya. Ini yang paling bahaya. Padahal Indonesia sudah 81 tahun. Saya pribadi, kita akan koreksi lewat pintu kebudayaan. Saya kira itu saja pesan saya. Ayo kita kritik diri kita sendiri. Mau gak jadi manusia merdeka,” jelasnya.***




