POJOKSATU.ID - Ketika sebuah organisasi mengganti logonya, publik mungkin hanya melihatnya sebagai perubahan desain.

Namun bagi Projo, keputusan mengganti logo dan menghapus wajah Joko Widodo bukan sekadar urusan estetika.

Ia adalah simbol dari transformasi identitas dan arah baru gerakan politik rakyat.

Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, dalam Kongres V Projo di Jakarta, Minggu 2 November 2025.

Baca Juga: Dapur Impian Jadi Nyata! 5 Tips Desain Interior Dapur yang Bikin Kamu Jatuh Cinta

Ia menyebut perubahan logo ini menandai babak baru perjalanan Projo pasca era Jokowi.

Logo lama Projo menampilkan siluet wajah Jokowi yang selama ini menjadi ikon perjuangan mereka sejak 2014.

Kini, wajah itu diganti dengan gambar burung garuda bergaya minimalis, berwarna merah dan putih.

Budi Arie mengatakan logo baru ini melambangkan kemandirian, keberanian, dan nasionalisme.

Baca Juga: Tolak Jadi Warga Kelas Dua, Belasan Forum PPPK Kompak Suarakan Alih Status PNS

Projo tidak lagi hanya Pro Jokowi, tapi Pro Rakyat dan Pro Indonesia,” ujarnya, dikutip dari Detik.com 2 November 2025.

Desain anyar ini disebut menggambarkan semangat baru Projo untuk menjadi gerakan sosial-politik yang berdiri di atas nilai, bukan figur.

Menurut Budi Arie, Projo tidak akan lagi hanya dikenal sebagai relawan Jokowi, tetapi sebagai organisasi yang terus mengawal semangat kerja nyata dan keberpihakan pada rakyat.

Perubahan logo dalam ranah politik bukan sekadar persoalan estetika, melainkan langkah strategis yang sarat makna ideologis.

Simbol dalam politik berfungsi sebagai bahasa visual yang mampu menyampaikan pesan lebih cepat dan kuat daripada pernyataan lisan.

Dalam konteks Projo, pergantian dari logo yang menampilkan wajah seorang tokoh menuju simbol bernuansa nasional.

Menandakan pergeseran orientasi dari loyalitas terhadap figur tertentu menuju komitmen pada nilai dan ideologi kebangsaan.

Transformasi ini dapat dimaknai sebagai upaya Projo untuk keluar dari bayang-bayang sosok tunggal yang selama ini melekat kuat pada identitas organisasi.

Baca Juga: Kebakaran Mobil Tangki di Cianjur: Pertamina Patra Niaga Janji Tanggung Jawab Penuh dan Investigasi

Gerakan relawan yang dahulu dibentuk dengan tujuan mendukung tokoh politik kini berusaha menegaskan perannya sebagai kekuatan sosial yang lebih luas.

Berfokus pada penjagaan arah pembangunan dan nilai-nilai nasionalisme.

Langkah simbolik tersebut juga memiliki dampak besar terhadap citra publik.

Selama ini, Projo kerap diasosiasikan dengan fanatisme terhadap Presiden Jokowi.

Baca Juga: Erni Yuniati Dosen Akper Bungo Aktif di Instagram dan Facebook, Sudah Lama Kenalan dengan Pelaku

Namun, dengan tampilan logo baru, organisasi ini tampaknya ingin menegaskan bahwa mereka siap berdiri secara mandiri.

Berkontribusi lebih luas dalam dinamika sosial-politik Indonesia, tanpa meninggalkan semangat kebangsaan yang menjadi dasar gerakannya.

Meski tampak sederhana, perubahan visual memerlukan keberanian besar dalam konteks organisasi yang terbentuk dari gerakan relawan.

“Rebranding bukan soal menghapus masa lalu, tapi menyiapkan masa depan,” ujar Budi Arie, dikutip dari Tempo.co, 2 November 2025

Budi Arie menjelaskan, desain garuda dipilih karena menjadi simbol kemandirian dan semangat Pancasila.

Warna merah melambangkan keberanian, sementara putih menggambarkan kejujuran dan keterbukaan.

“Dulu wajah Jokowi adalah simbol perjuangan. Sekarang, garuda menjadi lambang rakyat yang mandiri,” katanya.

Publik menilai langkah Projo ini sebagai sinyal bahwa organisasi relawan mulai memasuki fase baru.

Dari relawan elektoral menjadi kekuatan sosial-politik yang lebih matang.

Baca Juga: Biar tak jadi Sarang Kelalawar, Dedi Mulyadi Pilih Suntik Bandara Kertajati Rp100 Miliar, CPNS yang Kena Imbas

Namun, sebagian juga mengingatkan bahwa simbol baru harus diikuti dengan transformasi perilaku dan program nyata.

Tanpa itu, perubahan visual akan dianggap sekadar “cat baru di tembok lama”.

Dalam konteks gerakan relawan, simbol berperan penting membangun sense of belonging atau rasa memiliki.

Ia menjadi jangkar emosi yang menyatukan ribuan orang dalam satu visi.

Baca Juga: Dua Kerangka Manusia Korban Kerusuhan Demo Kwitang Ditemukan di Gedung Astra Credit Companies

Dalam kasus Projo, narasi baru itu adalah kemandirian dan keberlanjutan nilai.

Jika konsisten, Projo bisa menjadi pionir transformasi gerakan relawan di Indonesia.

Mulai dari gerakan berbasis tokoh menjadi gerakan berbasis gagasan.***