POJOKSATU.id – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax, berpotensi semakin mahal jika harga minyak mentah dunia terus bertahan di level tinggi.
Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, memperkirakan harga Pertamax dan produk sejenis bisa berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter apabila harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Proyeksi tersebut muncul di tengah kembali memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang ikut mengganggu stabilitas pasar energi global.
Eko mengatakan situasi di Timur Tengah, terutama konflik yang berkaitan dengan kawasan Selat Hormuz, memberikan tekanan besar terhadap harga minyak dunia.
Baca Juga: Diduga Meteor, tapi BMKG Belum Bisa Pastikan: Dentuman dan Kilatan Cahaya Gegerkan Gorontalo
“Dengan adanya perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global, selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil,” kata Eko di kawasan Terminal Rewulu Pertamina, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut Eko, kondisi tersebut membuat penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax menjadi sulit terjadi dalam waktu dekat.
Ia menyebut harga minyak dunia perlu kembali berada di kisaran US$60-US$70 per barel agar tekanan terhadap harga BBM bisa berkurang.
“Kalau berharap turun US$70 per barrel atau US$60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” ujarnya.
Baca Juga: Gempa M 6,5 Guncang Kepulauan Seribu, Getarannya Terasa hingga Jawa Timur
Namun, selama harga minyak dunia belum kembali ke level tersebut, tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi masih berpotensi berlanjut.
“Kalau tidak, kondisi ini akan berdampak seperti sekarang. Harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” kata Eko.
Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
Tekanan terhadap harga BBM tersebut tidak terlepas dari lonjakan harga minyak mentah global.
Harga minyak Brent telah menembus US$100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan kenaikan harga minyak mentah global turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Gempa M5,9 Guncang Kepulauan Seribu, KRL Jabodetabek Ditahan: Jalur Dicek Menyeluruh
“Pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah global,” ucap Josua, Jumat (11/9/2026).
Pada perdagangan yang dilaporkan, rupiah berada di level Rp17.585 per dolar AS atau melemah 38 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah menjadi kombinasi yang perlu diperhatikan karena keduanya dapat memengaruhi biaya pengadaan energi di dalam negeri.
Pertamax Mengikuti Mekanisme Pasar
Pertamax merupakan BBM nonsubsidi sehingga mekanisme harganya berbeda dengan BBM yang mendapat subsidi pemerintah.
Pertamina Patra Niaga sebelumnya menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Series dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan parameter keekonomian dan kondisi pasar.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan harga BBM nonsubsidi disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi.
“BBM non subsidi seperti Pertamax Series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi,” ujar Roberth.
Baca Juga: Prabowo Kembali ke Luar Negeri, Total Lawatan Disebut Tembus 58 Kali: Setara Jokowi 10 Tahun
Ia juga menyebut evaluasi harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya dilakukan secara berkala setiap bulan.
“Pada prinsipnya, harga BBM non subsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.
Harga Saat Ini Belum Rp20 Ribu
Meski muncul proyeksi harga Rp18.000-Rp20.000 per liter, angka tersebut belum berarti Pertamax saat ini sudah dijual pada harga tersebut.
Harga Pertamax di wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur pada Juli 2026 berada di angka Rp16.250 per liter. Harga tersebut merupakan harga yang berlaku setelah penyesuaian pada Juni 2026.
Dengan demikian, kisaran Rp18.000-Rp20.000 merupakan proyeksi apabila harga minyak dunia tetap tinggi, bukan harga resmi Pertamax yang otomatis berlaku saat ini.
Baca Juga: BPS Bongkar Rahasia Penentuan Desil Bansos, Ternyata Pakai Machine Learning Berbasis Kabupaten!
Pemerintah sendiri terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan kondisi pasar energi global.
Kementerian ESDM mencatat bahwa harga minyak mentah global sangat dipengaruhi dinamika geopolitik dan kondisi pasokan energi.
Jika tekanan geopolitik terus berlanjut dan harga minyak tetap berada di level tinggi, konsumen BBM nonsubsidi harus bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga pada periode berikutnya.



