POJOKSULSEL, MAKASSAR - Persatuan Ahli Gizi Sulawesi Selatan atau Persagi Sulsel bersama Dinas Kesehatan Sulsel, memperingati Hari Gizi Nasional ke-63 tahun 2023.
Peringatan Hari Gizi Nasional 2023 di Sulsel dilaksanakan di Taman Pakui Sayang, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar. Kegiatan itu mengusung tema "Cegah Stunting Dengan Konsumsi Protein Hewani".
Ketua Persagi Sulsel, Manjilala, S.Gz., M.Gz., mengatakan, Hari Gizi Nasional 2023 berfokus pada pencegahan stunting dengan mengonsumsi protein hewani.
Kata Manjilala, hasil survei diet total tahun 2014 menunjukkan bahwa persentase asupan protein hewani pada balita baru mencapai 75.9 persen.
"Jenis protein hewani terbanyak yang dikonsumsi adalah ikan, daging, dan telur," kata Manjilala.
Ia mengatakan, pangan hewani mempunyai kandungan zat gizi yang lengkap, kaya protein hewani dan vitamin yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Sehingga, dinilai efektif mencegah anak mengalami stunting.
"Kandungan asam amino pada protein hewani yang sangat lengkap dibutuhkan oleh ibu hamil dan balita," kata Manjilala.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel dr Rosmini Pandin hadir mewakili Gubernur Sulsel pada peringatan Hari Gizi Nasional 2023 tingkat Sulsel.
Rosmini Pandin yang membacakan sambutan Gubernur Sulsel, menaruh harapan besar kepada para ahli gizi di Sulsel untuk berkomitmen mencegah lahirnya stunting baru di Sulsel.
"Tentu dengan memberikan edukasi tentang isi piringku kaya protein hewani untuk cegah stunting," kata Rosmini Pandin.
Baca juga
Dinkes Sulsel Dorong Semua Gerai Vaksinasi Dibuka Kembali Layani Booster Kedua
Dinkes Sulsel Pastikan Stok Vaksin Booster Kedua Cukup
Peringatan Hari Gizi Nasional 2023 di Sulsel diikuti oleh peserta dari 24 DPC Persagi se-Sulsel.
Beragam kegiatan dilakukan dalam acara puncak Hari Gizi Nasional di Sulsel, antara lain, konsultasi gizi, senam bersama, bazar buah, donor darah hingga pemeriksaan kesehatan.
Saat ini, Persagi Sulsel yang tersebar di 24 kabupaten/kota sudah beranggotakan 2.700 ahli gizi. Mereka bekerja di dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, perusahaan swasta, hingga pengajar atau dosen.
(fadli/pojoksulsel)



