POJOKSATU.id, JAKARTA— Prabowo dan Wiranto sempat berseteru panas di tahun 1998 di awal reformasi. Kini di tahun 2023, Wiranto menyambangi kandang Prabowo di Hambalang, Bogor.
Saat ini Wiranto merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan mengaku melepaskan dirinya dari Partai Hanura yang didirikannya.
Sementara Prabowo saat ini merupakan Ketua Umum Partai Gerindra dan menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Dalam kunjungan Wiranto ke kandang Prabowo di Hambalang, dia mendukung penuh Ketua Umum Partai Gerindra itu untuk maju sebagai capres di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.
Dukungan itu Wiranto sampaikan saat berkunjung ke kediaman Prabowo di Hambalang, Jawa Barat, Senin (1/5/2023).
Baca Juga :
Mantan Panglima TNI Wiranto Beberkan Alasan Bawa Ratusan ‘Pasukan’ ke PPP dan Gerindra
"Sekarang adik saya, sahabat saya, kolega saya, silakan maju," ujar Wiranto.
Wiranto lantas bercerita kalau selama ini, dirinya telah mendampingi lima Presiden.
Mereka adalah Presiden ke-2 Soeharto, Presiden ke-3 BJ Habibie, Presiden ke-4 Abdurrachman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Berbekal pengalaman tersebut, Wiranto mengaku sudah memahami langkah kepala negara dalam mengambil langkah untuk mengurus bangsa.
Dia menilai, pemimpin negara adalah posisi yang harus diisi oleh orang yang memahami pesan para pendahulu untuk menciptakan kesinambungan pembangunan negara.
Menurutnya, Prabowo memenuhi kriteria tersebut. Wiranto pun mendorong Prabowo nyapres.
"Maka dari itu, saya mendorong Pak Prabowo dan teman-teman dari Gerindra teruslah maju membawa negeri ini ke dalam suasana politik yang sehat, untuk memberikan kesinambungan pembangunan untuk negeri ini," tuturnya.
Sementara itu, Prabowo menepis kalau hubungannya dengan Wiranto tidak baik. Menurutnya, sudah cukup selama ini mereka selalu diadu-adu.
Prabowo menekankan ingin berada dalam situasi yang sejuk.
"Karena Bapak didaulat, saya pikir penting, Pak. Sudah cukup, Pak, pengalaman, selalu apa namanya itu, selalu diadu-adu," jelas Prabowo.
"Ini saya kira kalau saya dan Bapak muncul, apalagi muncul di panggung yang sama, itu sejuk, Pak. Jangan suruh Prabowo nyanyi, kalau Pak Wiranto harus. Terima kasih, Pak," imbuhnya.
Kejadian Penting Reformasi 1998
Panglima ABRI Jenderal Wiranto dan Kepala Staf Teritorial Letjen Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara Prabowo menjabat sebagai Pangkostrad dengan pangkat Letjen.
Menurut Habibie, Wiranto menganggap Prabowo yang kala itu menjabat Pangkostrad, berupaya melancarkan rencananya sendiri untuk menggerakkan pasukan.
Dalam buku Detik-Detik Yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006) karya Habibie, Wiranto meminta petunjuk kepada presiden yang baru diangkat terkait rencana Prabowo. Atas dasar itu Habibie mengambil kesimpulan bahwa Prabowo bertindak tanpa sepengetahuan Pangab.
"Pangab melaporkan bahwa pasukan Kostrad dari luar Jakarta bergerak menuju Jakarta," tulis Habibie.
"Jenderal Wiranto mohon petunjuk. Dari laporan tersebut, saya berkesimpulan bahwa Pangkostrad bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab. Bukankah ini bertentangan dengan petunjuk saya kemarin pada Pangab?" tambahnya.
Ia pun setuju mencabut jabatan Prabowo sebagai Pangkostrad. Prabowo menghadap kepada Habibie untuk melepaskan jabatannya pada 23 Mei 1998.
Sebelum menerima keputusan itu, Prabowo sempat berdebat dengan Habibie untuk mempertanyakan pencopotan jabatannya.
Ia juga menyatakan pencabutan jabatannya itu merupakan bentuk penghinaan kepada dirinya sebagai menantu Soeharto dan keluarganya.
Prabowo menilai Habibie salah paham dengan pergerakan pasukan Kostrad yang dilaporkan Wiranto.
"Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden," kata Prabowo seperti ditulis Habibie.
"Presiden apa, Anda? Anda naif," tambahnya.
Wiranto pun setelah itu bisa dibilang mengemban karir yang cukup baik, sedangkan Prabowo sebaliknya dilepas dari dinas kemiliteran. (ikror/pojoksatu)




